Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal perusahaan teknologi raksasa di sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai terjawab melalui angka-angka konkret.
Amazon, melalui unit bisnis awannya, Amazon Web Services (AWS), secara resmi melaporkan kontribusi signifikan dari layanan AI terhadap total pendapatan perusahaan.
Baca Juga: Bos PhRMA Steve Ubl Bakal Mundur Akhir Tahun 2026, Ini Rekam Jejaknya
Berdasarkan laporan tahunan kepada pemegang saham yang dirilis pada hari Kamis lalu, dikutip Reuters, CEO Amazon Andy Jassy mengungkapkan bahwa layanan AI di AWS kini menghasilkan pendapatan tahunan atau annualized revenue run-rate lebih dari US$15 miliar (sekitar Rp255 triliun dengan kurs Rp17.000 per US$).
Angka ini merupakan pengungkapan data finansial pertama bagi unit bisnis yang telah menyedot investasi miliaran dolar tersebut.
Validasi Strategi Investasi AWS
Informasi dilansir dari Reuters menunjukkan bahwa angka US$15 miliar tersebut didasarkan pada performa kuartal pertama tahun 2026.
Nominal ini mewakili sekitar 10% dari total target pendapatan tahunan AWS yang diproyeksikan mencapai US$142 miliar (sekitar Rp2.414 triliun).
Pengungkapan ini menjadi angin segar bagi analis dan investor yang telah menunggu bukti nyata dari monetisasi teknologi AI setelah bertahun-tahun melakukan pengeluaran besar-besaran.
Merespons kabar positif tersebut, harga saham Amazon (AMZN.O) terpantau melonjak 4.5%. Pasar tampak merespons positif klaim Jassy yang menegaskan bahwa investasi perusahaan tidak didasarkan pada spekulasi semata.
Melansir laporan tahunannya, Amazon memproyeksikan belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai US$200 miliar (sekitar Rp3.400 triliun) pada tahun ini yang sebagian besar dialokasikan untuk infrastruktur AI.
Andy Jassy memberikan pembelaan kuat terhadap skeptisisme pasar mengenai potensi terjadinya gelembung industri atau industry bubble.
Menurut Jassy, mayoritas belanja modal AWS yang dikeluarkan pada tahun 2026 akan dimonetisasi pada rentang tahun 2027-2028.
Baca Juga: Min Aung Hlaing Presiden, Militer Myanmar Pegang Kendali Kabinet
Jassy menekankan bahwa Amazon sudah mengantongi komitmen pelanggan untuk sebagian besar dari investasi yang sedang berjalan saat ini.
Keberhasilan ini menempatkan Amazon bersaing ketat dengan kompetitor utamanya. Sebagai perbandingan, Microsoft melaporkan bahwa bisnis AI mereka telah melampaui angka pendapatan tahunan US$13 miliar (sekitar Rp221 triliun) pada akhir tahun 2024.
Meskipun metrik revenue run-rate tidak bisa dibandingkan secara langsung secara apel ke apel karena perbedaan periode kalkulasi, data ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keuntungan investasi Big Tech di sektor AI.
Lonjakan Bisnis Chip Mandiri
Selain layanan perangkat lunak AI, Andy Jassy juga menyoroti pertumbuhan pesat pada unit bisnis chip khusus buatan Amazon.
Langkah mengembangkan prosesor sendiri bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada chip AI milik Nvidia yang berbiaya mahal.
Bisnis chip Amazon, yang mencakup prosesor Graviton, chip AI Trainium, serta kartu jaringan Nitro, kini memiliki tingkat pendapatan tahunan lebih dari US$20 miliar (sekitar Rp340 triliun).
Angka ini melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan pengungkapan pada hasil kuartal keempat yang sebelumnya berada di level US$10 miliar (sekitar Rp170 triliun).
Beberapa poin penting mengenai perkembangan teknologi dan strategi perangkat keras Amazon meliputi:
- Kemandirian Infrastruktur: Penggunaan chip internal seperti Trainium memungkinkan AWS menawarkan efisiensi biaya yang lebih baik bagi pelanggan dibandingkan menggunakan infrastruktur berbasis Nvidia sepenuhnya.
- Potensi Penjualan Pihak Ketiga: Jassy mengisyaratkan bahwa Amazon sangat mungkin menjual rak berisi chip buatan mereka sendiri ke pihak ketiga di masa depan karena permintaan yang sangat tinggi.
- Kompetisi Pasar: Strategi ini serupa dengan langkah Google yang sukses menyuplai satu juta chip AI khusus senilai puluhan miliar dolar kepada Anthropic, pencipta Claude.
Proyeksi dan Langkah Strategis Amazon ke Depan
Peningkatan pendapatan ini menjadi validasi kuat bahwa AWS berhasil mengubah euforia AI menjadi pertumbuhan pendapatan riil.
Meskipun Jassy menyebut ini masih merupakan "hari-hari awal" bagi pengembangan teknologi AI, momentum saat ini memposisikan AWS sebagai pemimpin dalam infrastruktur AI global.
Tonton: Mayoritas Warga AS Dukung Pemakzulan Trump! Dampak Perang Iran Meledak di Dalam Negeri
Dalam mengelola ekspansi besar-besaran ini, Amazon menerapkan beberapa standar operasional dan jadwal investasi sebagai berikut:
- Siklus Monetisasi: Perusahaan menjadwalkan investasi infrastruktur tahun 2026 sebagai aset jangka panjang yang pendapatan utamanya baru akan terlihat secara masif pada tahun 2027-2028.
- Fokus Belanja Modal: Alokasi dana US$200 miliar akan difokuskan pada pembangunan pusat data baru, pengadaan perangkat keras AI, dan pengembangan teknologi chip generasi terbaru.
- Ekspansi Ekosistem: Amazon terus memperluas kemitraan dengan perusahaan pengembang model bahasa besar (LLM) untuk memastikan kapasitas AWS tetap terisi penuh oleh komitmen kontrak jangka panjang.
Lonjakan bisnis chip dan layanan awan ini membuktikan bahwa Amazon tidak hanya berperan sebagai penyedia platform, tetapi juga mulai mendominasi rantai pasokan perangkat keras. Dengan komitmen pelanggan yang sudah diamankan untuk beberapa tahun ke depan, Amazon tampak percaya diri dapat menghindari risiko kerugian akibat pengeluaran modal yang agresif di tengah persaingan ketat melawan Microsoft dan Google.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













