Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Kabar mengejutkan datang dari industri farmasi global. Steve Ubl, Chief Executive Officer Pharmaceutical Research and Manufacturers of America (PhRMA), telah menyatakan rencananya untuk melepaskan jabatan tertinggi di organisasi lobi obat-obatan terbesar di Amerika Serikat (AS) tersebut pada akhir tahun 2026.
Keputusan ini menandai berakhirnya sebuah era kepemimpinan yang telah berlangsung selama lebih dari 10 tahun di tengah kebijakan kesehatan yang sangat menantang.
Baca Juga: Min Aung Hlaing Presiden, Militer Myanmar Pegang Kendali Kabinet
Rencana pengunduran diri ini telah disampaikan langsung oleh Ubl kepada dewan direksi PhRMA pada hari Rabu waktu setempat.
Langkah ini diambil guna memberikan waktu yang cukup bagi organisasi untuk mencari pengganti yang tepat. Untuk menjaga stabilitas organisasi, Ubl tetap akan menjalankan tugasnya sebagai CEO hingga suksesor barunya resmi ditunjuk, demi menjamin proses transisi yang berjalan mulus.
Masa Kepemimpinan di PhRMA
Steve Ubl mulai memimpin PhRMA sejak September 2015. Selama masa jabatannya, ia menjadi garda terdepan industri farmasi dalam menghadapi berbagai krisis global dan tekanan regulasi yang masif.
Salah satu pencapaian yang paling menonjol menurut catatan internal industri adalah kemampuannya dalam menavigasi grup perdagangan utama ini melewati masa pandemi COVID-19.
Selain isu pandemi, Ubl secara rutin terlibat dalam perselisihan kebijakan dengan pemerintah dan pembuat undang-undang di AS. Fokus utamanya mencakup masalah penetapan harga obat resep, akses pasar, hingga regulasi industri yang kian ketat.
Melansir laporan dari Reuters, kepemimpinan Ubl dianggap krusial dalam mempertahankan posisi tawar perusahaan farmasi besar di Capitol Hill.
Ketua Dewan PhRMA sekaligus CEO Merck & Co, Rob Davis, memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi Ubl. Ia menilai Ubl sebagai pemimpin luar biasa selama periode paling konsekuensial bagi industri farmasi.
Komitmen Ubl untuk memastikan transisi yang terencana dengan baik dianggap akan membuat posisi PhRMA semakin kuat dan siap menghadapi masa depan.
Keputusan Mundur dan Riwayat Karier
Steve Ubl sebenarnya sudah mempertimbangkan untuk mundur pasca pemilihan umum AS tahun 2024.
Namun, dewan direksi PhRMA berhasil meyakinkannya untuk bertahan lebih lama guna menjaga stabilitas organisasi di tengah situasi yang sedang berlangsung saat itu.
Tonton: PBB Ungkap Penyebab Gugurnya 3 TNI di Lebanon! Diduga Tembakan Tank Israel & Bom Hizbullah
Sebelum bergabung dengan PhRMA, rekam jejak Ubl di industri kesehatan sangatlah mentereng. Ia pernah menjabat sebagai Presiden dan CEO AdvaMed, yang merupakan asosiasi perdagangan utama untuk industri perangkat medis.
Di bawah arahannya, AdvaMed berhasil memperluas pengaruhnya di Washington dan memainkan peran sentral dalam negosiasi proses peninjauan FDA, kebijakan cakupan Medicare, serta upaya penundaan pajak cukai perangkat medis.
Pengalaman profesional Steve Ubl mencakup berbagai sektor penting:
- Bekerja di Capitol Hill sebagai staf legislatif.
- Menjabat sebagai Vice President of Legislation untuk Federation of American Hospitals.
- Fokus pada isu kebijakan perawatan kesehatan dan masalah penggantian biaya (reimbursement).
- Memimpin lobi industri perangkat medis (AdvaMed) sebelum beralih ke industri farmasi (PhRMA).
Kini dewan direksi PhRMA sedang bersiap memulai pencarian sosok baru yang akan mengisi posisi CEO tersebut. Proses pemilihan suksesor ini akan dilakukan secara cermat demi menjaga pengaruh organisasi dalam kebijakan kesehatan publik. Selama masa transisi, Steve Ubl dipastikan tetap menjalankan seluruh tanggung jawab operasional hingga akhir tahun 2026. Kehadirannya tetap diperlukan untuk memandu organisasi sebelum benar-benar dipimpin oleh nahkoda yang baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













