kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.807   31,00   0,18%
  • IDX 8.329   96,95   1,18%
  • KOMPAS100 1.162   22,43   1,97%
  • LQ45 832   18,58   2,29%
  • ISSI 299   3,07   1,04%
  • IDX30 431   9,38   2,23%
  • IDXHIDIV20 512   10,99   2,20%
  • IDX80 129   2,64   2,09%
  • IDXV30 139   2,22   1,63%
  • IDXQ30 139   3,63   2,67%
SOSOK /

Amazon PHK 16.000 Karyawan: CEO Andy Jassy Dorong Transformasi AI


Jumat, 30 Januari 2026 / 10:11 WIB
Amazon PHK 16.000 Karyawan: CEO Andy Jassy Dorong Transformasi AI
ILUSTRASI. CEO Amazon, Andy Jassy (Dok./REUTERS)

Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Amazon memberikan kejutan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 16.000 karyawan korporat.

Dengan tambahan itu, total pemangkasan tenaga kerja yang dilakukan Amazon sejak Oktober lalu mencapai sekitar 30.000 orang.

Gelombang PHK ini sepertinya menandai era baru Amazon di bawah kendali CEO Andy Jassy, yang berfokus pada efisiensi, penyederhanaan organisasi, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Bisnis Konten Khaby Lame Diproyeksi Capai Rp67 Triliun, Ini Rahasianya!

PHK Terbesar Sepanjang Sejarah Amazon

Dilansir dari Reuters (28/1/2026), Amazon menyampaikan bahwa pemangkasan 16.000 karyawan ini melengkapi rencana pengurangan sekitar 30.000 posisi sejak Oktober 2025.

Meski demikian, manajemen masih membuka kemungkinan adanya pengurangan lanjutan di beberapa tim tertentu.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Amazon memang tengah menyiapkan gelombang kedua PHK, sejalan dengan strategi CEO Andy Jassy untuk memangkas birokrasi dan menghentikan bisnis yang dinilai tidak lagi berkinerja optimal.

Meski jumlah 30.000 karyawan hanya sebagian kecil dari total 1,58 juta tenaga kerja Amazon, angka ini hampir setara dengan 10% dari total karyawan korporat Amazon.

Pemangkasan ini melampaui rekor sebelumnya, yakni 27.000 karyawan yang dipangkas pada periode akhir 2022 hingga awal 2023.

Chief Human Resources Officer Amazon, Beth Galetti, menyebut langkah PHK ini diperlukan untuk memperkuat fondasi perusahaan.

“Kami melakukan ini untuk mengurangi lapisan organisasi, meningkatkan rasa kepemilikan, dan menghilangkan birokrasi,” tulis Galetti dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Skandal Suap Huawei Singapura: Eks Direktur Dijebloskan ke Penjara

Project Dawn Menyerang Banyak Divisi

Pada Selasa (27/1/2026), Amazon secara tidak sengaja mengirimkan email internal yang menyebut rencana PHK dengan nama sandi “Project Dawn” kepada sebagian staf Amazon Web Services (AWS).

Pesan misterius itu langsung meicu keresahan di kalangan karyawan dari berbagai divisi bisnis Amazon.

Berdasarkan laporan Reuters, karyawan dari berbagai unit terdampak, termasuk AWS, Alexa, Prime Video, perangkat, periklanan, Last-mile delivery, Kindle, dan tim optimasi rantai pasok di unit fulfillment.
 Baca Juga: Cara Bernard Arnault Menyiapkan Pewaris Kerajaan Mewah LVMH

Amazon Tinggalkan Bisnis Fisik

Selain PHK, proses restrukturisasi Amazon juga dilakukan dengan cara menutup seluruh toko fisik Amazon Fresh dan Amazon Go yang tersisa.

Keputusan ini diambil setelah bertahun-tahun upaya Amazon untuk menembus pasar ritel fisik tidak membuahkan hasil maksimal.

Tidak hanya itu, Amazon juga menghentikan Amazon One, sistem pembayaran biometrik berbasis pemindaian telapak tangan, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai teknologi masa depan untuk transaksi ritel.

Baca Juga: Ekonomi AS Terancam: Peringatan Keras CEO Citigroup Soal Pembatasan Suku Bunga

Arah Baru Amazon di Bawah Kendali Andy Jassy

Di balik kebijakan efisiensi ini, terdapat sosok Andy Jassy, CEO Amazon yang menjabat sejak 2021, menggantikan pendiri Amazon Jeff Bezos.

Andy Jassy dikenal sebagai arsitek kesuksesan Amazon Web Services (AWS), yang ia bangun sejak awal hingga menjadi tulang punggung profit Amazon.

Di bawah kepemimpinannya, Amazon semakin agresif mendorong optimasi berbasis AI, penyederhanaan struktur organisasi, dan fokus pada unit bisnis dengan profitabilitas tinggi.

Jassy secara terbuka menyatakan bahwa adopsi AI yang semakin luas akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja korporat, karena banyak tugas administratif hingga pemrograman kini dapat diotomatisasi.

Jassy kini menjadi salah satu eksekutif terkaya di dunia teknologi meskipun belum mencapai status miliarder.

Perkiraan kekayaannya pada 2025 bervariasi menurut sumber, namun sebagian besar menyebutkan angka di kisaran US$400 juta hingga lebih dari US$780 juta (sekitar Rp6 triliun sampai Rp12 triliun lebih).

Mengutip Gold Strategy, sebagian besar kekayaan Jassy berasal dari kepemilikan saham Amazon dan unit saham terbatas (RSU) yang diberikan sebagai bagian dari paket kompensasinya.

Baca Juga: Profil Evan Spiegel: Pendiri Snapchat, Sukses Mengubah Tren Media Sosial

Selanjutnya: Simak Arah IHSG di Tengah Pengumuman Mundur Dirut BEI Iman Rachman

Menarik Dibaca: Nubia V80 Max: HP 1 Jutaan, Baterai 6000mAh Tahan Banting

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

×