Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Nama Patrick Pouyanne kembali menjadi perhatian dunia energi setelah mengungkap strategi yang dilakukan TotalEnergies menjelang pecahnya konflik Iran.
Keputusan yang diambil perusahaan energi asal Prancis itu kemudian disebut membantu menghasilkan keuntungan besar ketika harga minyak melonjak akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan harian Prancis Le Figaro, Pouyanne mengungkap bahwa tim perdagangan minyak TotalEnergies telah menangkap sinyal yang tidak biasa sejak Februari 2026.
Saat itu, para trader perusahaan melihat adanya peningkatan aktivitas armada Angkatan Laut Amerika Serikat di sekitar Teluk Persia.
"Para trader minyak kami menyadari bahwa Angkatan Laut AS mulai mengumpulkan kapal-kapal di sekitar Teluk Persia pada Februari. Mereka kemudian mengambil posisi yang berlawanan dengan tren pasar," kata Pouyanne, seperti dikutip Reuters pada Kamis (28/5).
Baca Juga: Profil Benedetto Vigna: Sosok di Balik Transformasi Ferrari ke Pasar Mobil Listrik
Pembeli Minyak Terbesar
Ketika konflik Iran pecah pada akhir Februari dan memicu gangguan pasokan minyak, harga minyak mentah Timur Tengah melonjak tajam.
TotalEnergies diketahui membeli puluhan kargo minyak Oman dan Murban selama Maret, menjadikannya salah satu pembeli terbesar di kawasan tersebut.
Berbagai laporan media internasional bahkan menyebut perusahaan berpotensi meraih keuntungan lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp17,8 triliun dari strategi perdagangan yang dilakukan pada periode tersebut.
Namun, Pouyanne menegaskan bahwa strategi tersebut bukan tanpa risiko.
"Itu bisa saja berakhir buruk. Jika Selat Hormuz langsung ditutup, kami secara fisik tidak akan bisa mengambil muatan minyak yang sudah kami beli di kawasan tersebut," ujarnya.
Menurut Pouyanne, TotalEnergies mampu mengurangi risiko itu karena memiliki model bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Baca Juga: Profil Jeff England, Eks Walmart yang Kini Pimpin Rantai Pasokan Target
Dijuluki Raja Efisiensi di TotalEnergies
Jauh sebelum memimpin TotalEnergies, Patrick Pouyanne telah dikenal sebagai sosok yang sangat fokus pada efisiensi biaya.
Kariernya mulai mencuri perhatian ketika dipercaya memimpin divisi pengilangan yang saat itu mengalami tekanan kinerja pada 2011.
Pouyanne langsung meminta timnya menyusun pemetaan biaya secara menyeluruh untuk mengetahui unit mana yang menguntungkan dan mana yang harus segera dibenahi.
Pendekatan itu kemudian menjadi ciri khasnya. Melalui program efisiensi yang ketat, ia berhasil membalikkan kondisi divisi tersebut dan meningkatkan keuntungan secara signifikan hanya dalam beberapa tahun.
Kesuksesan itu membuatnya dipercaya menjadi CEO Total pada 2014 setelah pendahulunya, Christophe de Margerie, meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat di Moskow.
Baca Juga: David Beckham Jadi Atlet Miliarder Pertama di Inggris, Hartanya Rp27 Triliun
Lulusan Elite yang Pernah Berkarier di Dunia Politik
Patrick Pouyanne lahir pada 1963 dan merupakan lulusan École Polytechnique, salah satu sekolah teknik paling prestisius di Prancis.
Sebelum berkarier penuh di industri energi, ia sempat bekerja di pemerintahan Prancis dan menjadi penasihat sejumlah tokoh politik nasional.
Di Total, ia menjalani berbagai penugasan internasional, termasuk di Angola dan Qatar. Pengalaman panjang di berbagai bidang bisnis perusahaan menjadi modal penting sebelum akhirnya menduduki posisi CEO.
Meski terkenal sebagai pemangkas biaya, Pouyanne bukan tipe pemimpin yang hanya fokus berhemat. Ia juga aktif mencari sumber pertumbuhan baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, TotalEnergies memperluas portofolio bisnisnya melalui berbagai investasi di sektor minyak dan gas di Meksiko, Brasil, Qatar, Uganda, Azerbaijan hingga Amerika Serikat.
Pouyanne juga termasuk salah satu eksekutif industri energi yang lebih awal melihat pentingnya transisi energi.
"Baik kita suka atau tidak, porsi minyak dalam bauran energi dunia akan menurun pada 2040. Sementara itu, gas akan meningkat dan energi terbarukan juga akan tumbuh secara signifikan," ujarnya dalam salah satu kesempatan.
Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar transformasi Total menjadi TotalEnergies, yang kini semakin aktif berinvestasi pada sektor gas alam, energi terbarukan, dan teknologi rendah karbon.
Baca Juga: Profil CEO ASML Christophe Fouquet, Veteran Semikonduktor di Tengah Krisis Chip AI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













