Sumber: Chevron,Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - CEO Chevron, Mike Wirth, memperingatkan bahwa dunia akan segera menghadapi krisis minyak akibat terganggunya distribusi energi global di Selat Hormuz.
Dalam forum yang digelar Milken Institute, Wirth menyoroti dampak besar dari penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Menurutnya, kondisi ini membuat cadangan minyak global mulai terserap, sementara pasokan baru tidak mampu mengimbangi kebutuhan.
“Dunia akan mulai melihat kekurangan fisik minyak,” ujarnya, seperti dikutip Reuters pada Senin (4/5).
Baca Juga: 10 Orang Terkaya di Dunia Awal Mei 2026: Elon Musk Tak Tertandingi
Asia Jadi Wilayah Pertama yang Terdampak
Asia disebut sebagai kawasan yang paling awal merasakan tekanan karena ketergantungannya yang tinggi terhadap pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Setelah itu, dampak diproyeksikan menjalar ke Eropa dan wilayah lain. Meski Amerika Serikat relatif lebih tahan karena berstatus eksportir minyak, efek lanjutan tetap akan dirasakan secara bertahap.
"Penyesuaian antara permintaan dan pasokan tidak terhindarkan, yang pada akhirnya akan menekan pertumbuhan ekonomi global," lanjut Wirth.
Kembali ke Krisis Energi Era 1970-an
Wirth juga membandingkan situasi saat ini dengan krisis energi pada 1970-an, ketika gangguan pasokan memicu lonjakan harga dan pembatasan distribusi bahan bakar.
Jika kondisi terus berlanjut, dunia berpotensi menghadapi kombinasi tekanan berupa kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, serta perlambatan ekonomi global.
Dampak awal bahkan sudah mulai terlihat, salah satunya bangkrutnya Spirit Airlines akibat lonjakan harga bahan bakar jet.
Baca Juga: Spirit Airlines Bangkrut Akibat Perang Iran, Ini Profil CEO dan Strateginya
Rekam Jejak Mike Wirth dalam Pasokan Minyak Dunia
Sebagai pemimpin Chevron, Mike Wirth memiliki pengalaman panjang di industri minyak dan gas. Ia bergabung dengan Chevron sejak awal 1980-an hingga akhirnya dipercaya menjadi CEO pada 2018.
Wirth dikenal mengedepankan pendekatan yang disiplin dalam investasi serta fokus pada efisiensi operasional, terutama di tengah fluktuasi harga minyak global.
Di bawah arahannya, Chevron juga memperluas portofolio produksi di berbagai wilayah strategis, termasuk Amerika Serikat dan proyek-proyek besar di luar negeri.
Sebagai salah satu raksasa energi dunia, Chevron memiliki kontribusi signifikan terhadap pasokan minyak global. Data produksi perusahaan menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Data Produksi Chevron
| Tahun / Periode | Produksi (boepd) | Keterangan |
|---|---|---|
| 2023 | ±3,1 juta | Pemulihan pasca pandemi |
| 2024 | ±3,3 juta | Kenaikan produksi AS |
| 2025 | ±3,7 juta | Rekor tertinggi |
| Q3 2025 | ±4,1 juta | Puncak produksi |
| 2026 (estimasi) | ±3,8-3,9 juta | Stabil namun sensitif geopolitik |
Produksi tersebut berasal dari berbagai wilayah operasi utama, termasuk Amerika Utara, Kazakhstan, dan Australia.
Peringatan CEO Chevron menegaskan bahwa dunia berada di fase rawan krisis energi. Penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu kekurangan pasokan minyak, bahkan ketika produksi global sedang tinggi.
Baca Juga: Profil Pham Nhat Vuong: Orang Terkaya Asia Tenggara 2026, Bos VinFast dan Green SM
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













