Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Sosok berpengaruh di balik layar politik Iran, Ali Larijani, dilaporkan tewas dalam serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Kabar ini disampaikan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Fars, pada Selasa (18/3).
Larijani, yang berusia 67 tahun, disebut tewas saat berada di kawasan pinggiran timur Teheran ketika mengunjungi putrinya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga telah lebih dulu menyatakan bahwa Larijani menjadi target dalam serangan tersebut.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam Republik Islam, terutama dalam merancang kebijakan keamanan serta menjadi penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Iran.
Baca Juga: Trump Galang Koalisi Amankan Selat Hormuz, Harga Minyak Tergelincir
Dari Najaf ke Puncak Kekuasaan Iran
Ali Larijani lahir pada 1958 di Najaf, Irak, yang merupakan pusat keagamaan Syiah. Ia berasal dari keluarga ulama yang menentang rezim Shah Iran.
Setelah kembali ke Iran, Larijani menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor filsafat. Namun, pengaruh lingkungan religius membuatnya terlibat dalam arus revolusi Islam pada akhir 1970-an.
Saat berusia 20 tahun, ia menyaksikan langsung jatuhnya Shah dan naiknya Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Tak lama setelah itu, pecah perang Iran-Irak. Larijani bergabung dengan Garda Revolusi dan berperan sebagai perwira staf yang mengatur strategi di balik garis depan.
Pengalamannya di militer serta koneksi keluarga mempercepat kariernya di pemerintahan pascarevolusi.
Baca Juga: Siapa Peter Thiel? Miliarder Pendukung Trump yang Bikin Vatikan Gelisah
Tokoh Kunci di Balik Kebijakan Strategis Iran
Larijani memiliki jaringan kuat di pemerintahan. Ia dikenal sebagai sosok pragmatis namun tetap teguh dalam mempertahankan sistem pemerintahan teokrasi Iran.
Kariernya mencakup berbagai posisi strategis, mulai dari komandan Garda Revolusi saat perang Iran-Irak, kepala penyiaran nasional, hingga menjabat Ketua Parlemen selama 12 tahun.
Melansir Reuters, ia juga pernah memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, lembaga penting yang mengatur kebijakan luar negeri dan keamanan Iran.
Peran Larijani sangat luas, termasuk dalam negosiasi nuklir dengan Barat, menjaga hubungan regional, hingga menangani gejolak domestik.
Ia kerap membuka ruang diplomasi dengan Barat dan mencoba meredam ketegangan domestik melalui pendekatan komunikasi. Namun, sikap moderat tersebut tidak menghapus perannya dalam tindakan keras pemerintah.
Larijani disebut memiliki peran penting dalam penindasan demonstrasi besar pada Januari lalu yang menewaskan ribuan orang. Atas peristiwa tersebut, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepadanya.
Dalam pernyataannya setelah serangan militer AS-Israel pada 28 Februari, Larijani mengecam keras aksi tersebut dan menuduh pihak lawan berupaya menghancurkan Iran. Ia juga memperingatkan masyarakat agar tidak melakukan aksi protes.
Baca Juga: CEO Adobe Shantanu Narayen Mundur di Tengah Tekanan AI, Saham Turun 7%
Otak Negosiasi Nuklir Iran
Larijani juga dikenal sebagai salah satu perancang utama kebijakan nuklir Iran. Ia menjabat sebagai kepala negosiator nuklir pada 2005-2007.
Dalam posisi tersebut, ia mempertahankan hak Iran untuk memperkaya uranium, meski mendapat tekanan internasional.
Ia bahkan pernah menyamakan tawaran Eropa untuk menghentikan program nuklir dengan “menukar mutiara dengan permen”.
Ia menegaskan bahwa teknologi nuklir tidak bisa dihapus begitu saja.
Selama kariernya, Larijani juga aktif menjalin hubungan dengan kekuatan global seperti Rusia dan China. Ia berperan dalam memperkuat hubungan dengan Moskow serta mendorong kesepakatan kerja sama 25 tahun dengan Beijing pada 2021.
Baca Juga: Denda Rp40 T Mengancam Karir Crispin Odey, Investor Legendaris Inggris
Kontroversi dan Tuduhan Pelanggaran HAM
Di balik reputasinya sebagai diplomat ulung, Larijani juga tidak lepas dari kontroversi.
Pemerintah AS menuduhnya berada di garis depan dalam penindasan demonstrasi besar yang terjadi awal tahun ini.
Pernyataan Departemen Keuangan AS menyebut Larijani sebagai salah satu pejabat pertama yang menyerukan kekerasan terhadap demonstran.
Kelompok HAM menyebut ribuan orang tewas dalam aksi represif tersebut, menjadikannya salah satu krisis domestik terburuk sejak Revolusi Islam 1979.
Dampak dari kontroversi itu juga menjalar ke keluarganya. Salah satu putrinya bahkan diberhentikan dari posisi akademik di Emory University, AS, setelah mendapat tekanan dari aktivis Iran-Amerika.
Baca Juga: Skema Kripto Justin Sun Terbongkar: Selebritas Ikut Promosi Ilegal?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













