kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.992.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.025   51,00   0,30%
  • IDX 7.039   -97,81   -1,37%
  • KOMPAS100 973   -15,76   -1,59%
  • LQ45 717   -11,40   -1,57%
  • ISSI 245   -4,36   -1,75%
  • IDX30 388   -3,58   -0,91%
  • IDXHIDIV20 485   -1,98   -0,41%
  • IDX80 109   -1,91   -1,72%
  • IDXV30 132   0,33   0,25%
  • IDXQ30 126   -0,73   -0,57%
SOSOK /

Trump Galang Koalisi Amankan Selat Hormuz, Harga Minyak Tergelincir


Senin, 16 Maret 2026 / 10:33 WIB
Trump Galang Koalisi Amankan Selat Hormuz, Harga Minyak Tergelincir
ILUSTRASI. Harga minyak Brent dan WTI terkoreksi setelah Donald Trump mendesak bantuan internasional untuk mengamankan jalur pasokan energi di Selat Hormuz. (REUTERS/Amr Alfiky)

Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Senin (16/3) pagi, mengikis kenaikan tajam yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Koreksi ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan kerja sama internasional untuk melindungi Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas global.

Melansir data Reuters, harga minyak mentah Brent kontrak pengiriman Mei turun 24 sen atau 0,23% ke level US$ 102,90 per barel.

Baca Juga: Siapa Peter Thiel? Miliarder Pendukung Trump yang Bikin Vatikan Gelisah

Sebelumnya, pada penutupan Jumat (13/3), harga Brent sempat melonjak US$ 2,68.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 1,07 atau 1,08% ke posisi US$ 97,64 per barel, setelah menguat hampir US$ 3 pada sesi sebelumnya.

Dengan kurs hari ini Rp 16.981 per US$, harga Brent setara dengan Rp 1.747.344 per barel dan WTI sekitar Rp 1.658.024 per barel.

Sepanjang bulan Maret 2026, kedua kontrak minyak tersebut telah melonjak lebih dari 40%. Ini merupakan level tertinggi sejak tahun 2022.

Lonjakan dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran yang menyebabkan Teheran menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, yang memutus seperlima pasokan minyak dunia.

Fokus Pengamanan Jalur Energi

Presiden Donald Trump pada hari Minggu (15/3) menegaskan tuntutannya agar negara-negara lain ikut membantu melindungi pintu gerbang energi yang kritis tersebut.

Washington dilaporkan sedang dalam pembicaraan dengan beberapa negara untuk melakukan patroli di kawasan tersebut.

Meskipun Trump menyatakan AS tetap menjalin kontak dengan Iran, ia meragukan kesiapan Teheran untuk melakukan negosiasi serius guna mengakhiri konflik.

Di sisi lain, ketegangan militer terus meningkat. Trump mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, setelah sebelumnya menghantam sasaran militer di sana pada akhir pekan.

Sebagai informasi, Pulau Kharg menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran. Menanggapi hal tersebut, pihak Teheran bersikap menantang dan mengancam akan melakukan pembalasan lebih lanjut.

Ketegangan ini sempat merembet ke Uni Emirat Arab (UEA). Drone Iran dilaporkan menghantam terminal minyak utama di Fujairah tak lama setelah serangan di Kharg.

Baca Juga: CEO Adobe Shantanu Narayen Mundur di Tengah Tekanan AI, Saham Turun 7%

Meski operasional pemuatan minyak di Fujairah telah dilanjutkan, namun belum dapat dipastikan apakah aktivitas tersebut sudah kembali normal sepenuhnya.

Fujairah merupakan lokasi penting yang berada di luar Selat Hormuz dan menjadi jalur keluar bagi sekitar 1 juta barel per hari minyak mentah Murban milik UEA, atau setara dengan 1% permintaan dunia.

Strategi Cadangan Minyak Global

Untuk meredam gejolak harga akibat perang di Timur Tengah, International Energy Agency (IEA) mengumumkan langkah darurat.

Mengutip pernyataan resmi IEA pada hari Minggu (15/3), lembaga tersebut akan segera mengalirkan lebih dari 400 juta barel cadangan minyak ke pasar.

Berikut adalah rincian rencana pelepasan cadangan minyak tersebut:

  • Wilayah Asia dan Oseania: Pasokan akan dilepaskan segera untuk menstabilkan pasar regional.
  • Wilayah Eropa dan Amerika: Cadangan minyak akan tersedia dan mulai didistribusikan pada akhir Maret 2026.
  • Tujuan Utama: Mengatasi lonjakan harga ekstrem yang disebabkan oleh gangguan distribusi di Selat Hormuz.

Langkah ini tercatat sebagai pengambilan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah untuk menghadapi disrupsi pasokan energi global.

Analisis Risiko dan Dampak Ekonomi

Analis dari SEB, Erik Meyersson, menilai bahwa AS sedang menimbang opsi risiko tinggi.

Opsi tersebut mencakup kemungkinan penggerebekan situs nuklir Iran, penyitaan pusat minyak Pulau Kharg, hingga pendudukan wilayah Iran Selatan untuk melindungi Selat Hormuz.

Tonton: Bupati Cilacap Kena OTT KPK! 27 Orang Diamankan, Dugaan Suap Proyek Pemkab Terungkap

"Semua ini menyiratkan eskalasi yang signifikan dan memerlukan toleransi terhadap risiko yang jauh lebih tinggi," ujar Meyersson dalam catatannya.

Ia menambahkan bahwa pasar global semakin khawatir akan spiral eskalasi yang tidak terkendali seiring konflik memasuki minggu ketiga.

Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak mentah di atas level US$ 100 per barel memberikan tekanan besar. Kenaikan ini berisiko membengkakkan beban subsidi energi dan kompensasi BBM dalam APBN secara signifikan.

Meski situasi masih memanas, Menteri Energi AS Chris Wright memberikan nada optimis. Ia memperkirakan konflik antara AS dan Iran akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan.

Wright memproyeksikan pasokan minyak akan pulih dan biaya energi akan menurun setelah ketegangan mereda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×