Sumber: Business Insider | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Klub elit US$ 200 miliar nampaknya akan segera menjadi sejarah lama. Pasalnya, fenomena lonjakan saham teknologi yang didorong oleh adopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengantarkan para bos teknologi dunia ke level kekayaan baru yang belum pernah tercapai sebelumnya.
Pendiri Amazon, Jeff Bezos, beserta duo pendiri Alphabet, Larry Page dan Sergey Brin, kini berada dalam jarak yang sangat dekat untuk menembus angka kekayaan bersih US$ 300 miliar atau sekitar Rp5.056,8 triliun (kurs Rp16.856 per US$).
Sebagai perbandingan, skala kekayaan individu ini telah menyamai nilai pasar perusahaan-perusahaan raksasa Amerika Serikat seperti Netflix, Costco, hingga Wells Fargo yang kapitalisasi pasarnya berada di kisaran US$ 300 miliar hingga US$400 miliar.
Baca Juga: Akhir Perlajanan Raja Scam: Miliarder Chen Zhi Diekstradisi Usai Kedoknya Bongkar
Lonjakan Kekayaan Berkat Demam AI
Dilansir dari Business Insider, kekayaan bersih Larry Page dan Sergey Brin masing-masing tercatat sebesar US$281 miliar (Rp4.736 triliun) dan US$ 261 miliar (Rp 4.399 triliun) pada penutupan pasar Jumat pekan lalu. Pertumbuhan kekayaan mereka sangat masif sejak tahun 2025.
Banyaknya investor yang optimis terhadap upaya AI dari raksasa mesin pencari dan periklanan Alphabet telah membuat harga saham perusahaan tersebut melonjak 65% pada tahun lalu.
Di awal tahun 2026 ini saja, saham Alphabet kembali menguat 4,5%. Hal tersebut menambah pundi-pundi kekayaan Page sebesar US$ 12 miliar dan Brin sebesar US$ 11 miliar hanya dalam waktu beberapa minggu.
Di sisi lain, Jeff Bezos juga mencatatkan pertumbuhan kekayaan yang signifikan meskipun lebih moderat. Kekayaan Bezos naik dari US$ 239 miliar pada awal 2025 menjadi US$ 268 miliar (Rp 4.517 triliun) baru-baru ini.
Mengutip laporan dari Bloomberg Billionaires Index, kenaikan ini mencerminkan apresiasi harga saham Amazon sebesar 5% tahun lalu dan 6% di awal tahun 2026, seiring ekspektasi investor terhadap investasi besar Amazon di bidang infrastruktur AI.
Baca Juga: Aset Rp 4.210 T Terancam! Ini Manuver Cepat Pendiri Google Sebelum 2026
Dominasi Elon Musk dan Daftar Centibillionaire
Meskipun kekayaan trio Bezos, Page, dan Brin mengalami lonjakan, posisi puncak orang terkaya di dunia masih ditempati secara absolut oleh Elon Musk.
CEO Tesla dan SpaceX ini memiliki kekayaan bersih US$ 639 miliar (Rp10.771 triliun). Lonjakan kekayaan Musk didorong oleh kenaikan valuasi banyak perusahaannya, termasuk SpaceX, yang melompat dari US$ 350 miliar menjadi US$ 800 miliar.
Saat ini, terdapat 18 orang yang masuk dalam kategori "centibillionaire" atau individu dengan kekayaan di atas US$ 100 miliar.
Secara kolektif, kekayaan kelompok elit ini tumbuh sebesar US$ 708 miliar tahun lalu, membuat total kekayaan gabungan mereka mencapai US$ 3,6 triliun, sebuah angka yang lebih besar dari kapitalisasi pasar Microsoft.
Dalam kelompok elit tersebut, terdapat tujuh individu yang memiliki kekayaan di atas US$ 200 miliar:
- Elon Musk (Tesla, SpaceX)
- Larry Page (Alphabet)
- Jeff Bezos (Amazon)
- Sergey Brin (Alphabet)
- Larry Ellison (Oracle)
- Mark Zuckerberg (Meta)
- Bernard Arnault (LVMH)
Melansir Business Insider, hampir seluruh miliarder dalam daftar tersebut memiliki saham besar di perusahaan-perusahaan pemimpin teknologi AI, kecuali Bernard Arnault yang bergerak di sektor barang mewah.
Tonton: Harga Emas Antam Berkilau Hari Ini (12 Januari 2026)
Pro dan Kontra Investasi AI
Meskipun kekayaan para taipan ini terus meroket, para ahli memiliki pandangan yang terbelah mengenai keberlanjutan tren ini.
Pendukung seperti Ross Gerber dan Kevin O'Leary berpendapat bahwa AI akan meningkatkan produktivitas secara signifikan dan mendorong laba perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi.
Namun, mengutip pandangan skeptis dari Michael Burry, investor yang dikenal lewat film "The Big Short", terdapat kekhawatiran mengenai potensi gelembung atau bubble.
Burry memperingatkan bahwa perusahaan raksasa teknologi mungkin melakukan investasi berlebihan pada microchip dan pusat data dalam perlombaan AI ini, yang dikhawatirkan dapat meledak secara destruktif di masa depan.
Saat ini, pasar masih cenderung optimis melihat kontrak-kontrak besar dan proyeksi pertumbuhan tinggi yang ditawarkan oleh perusahaan teknologi dunia, yang secara langsung terus mempertebal kekayaan para pemiliknya.
Selanjutnya: Dolar AS Hari Ini (12/1): Kurs Jual BI Sentuh Rp16.918, Cek Kurs Transaksi BI Lain
Menarik Dibaca: Promo Diskon Katsu 30% di Kimukatsu Cek Angka 2 atau 6 di Tanggal Lahir Anda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













