Sumber: Bitcoin.com,BBC | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Pemerintah Kamboja resmi mengekstradisi miliarder Chen Zhi ke China pada 7 Januari 2026. Dalang skema penipuan kripto terbesar di dunia ini diduga menerapkan kerja paksa dan perdagangan manusia di Asia Tenggara.
Chen Zhi, bos konglomerasi Prince Group, dituding mengendalikan kejahatan finansial lintas negara dan penyalahgunaan mata uang kripto.
Belakangan, muncul dugaan adanya perlindungan politik tingkat tinggi di Kamboja, sehingga posisinya selalu bebas dari pantauan lembaga pengawas.
Otoritas Kamboja mengumumkan bahwa Chen Zhi ditangkap pada 6 Januari bersama dua warga negara China lainnya, Xu Ji Liang dan Shao Ji Hui.
Dilansir dari Bitcoin.com, penangkapan ini merupakan hasil investigasi gabungan selama berbulan-bulan terhadap operasi kriminal yang oleh jaksa Amerika Serikat disebut sebagai salah satu kejahatan finansial terbesar dalam sejarah.
Baca Juga: Daftar 5 Orang Terkaya Asia Tenggara Awal 2026: Miliarder Indonesia Mendominasi
Dalang Skema Penipuan Kripto Terbesar
Mengutip laporan BBC, dakwaan terhadap Chen Zhi dalam dokumen pengadilan Amerika Serikat mencakup tuduhan penipuan kripto bernilai miliaran dolar.
Ia juga dituding menjalankan “scam factories” atau pabrik penipuan di Kamboja, tempat para korban perdagangan manusia dipaksa bekerja menjalankan aksi penipuan online.
Para pekerja yang diperdagangkan tersebut disebut dipaksa bekerja hingga 12 sampai 18 jam per hari di bawah ancaman kekerasan. Mereka ditugaskan untuk membangun hubungan kepercayaan dengan korban secara online.
Chen Zhi juga menghadapi tuduhan pencucian uang, dengan memanfaatkan jaringan perusahaan yang tampak legal di bawah payung Prince Group untuk menyamarkan aliran dana ilegal.
Baca Juga: 5 Fakta Chen Zhi: Miliarder Kamboja Terduga Dalang Kejahatan Siber Global
Aset Bitcoin Disita, Kewarganegaraan Dicabut
Kasus ini mencuat ke level internasional setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat menyita sekitar US$ 14 miliar bitcoin yang diduga terkait langsung dengan jaringan Chen Zhi.
Penyitaan tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah penegakan hukum kripto global hingga saat ini.
Pemerintah Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap Prince Group.
Ekstradisi Chen Zhi ke China terjadi lebih dari satu dekade setelah ia melepaskan kewarganegaraan China dan beralih menjadi warga negara Kamboja.
Namun, sebuah dekret kerajaan pada akhir 2025 mencabut kewarganegaraan Kamboja milik Chen Zhi. Keputusan ini secara hukum membuka jalan bagi pemerintah Kamboja untuk mengekstradisinya ke China.
Baca Juga: Olivier Janssens, Miliarder Kripto yang Picu Isu Negara di Dalam Negara
Skema Pig Butchering di Asia Tenggara
Kasus Chen Zhi menyoroti krisis yang kian mengkhawatirkan di Asia Tenggara, khususnya praktik penipuan kripto yang dikenal sebagai “pig butchering scam”.
Dalam skema ini, pelaku membangun hubungan emosional jangka panjang dengan korban sebelum menguras dana mereka melalui investasi kripto fiktif.
Operasi semacam ini banyak ditemukan di kompleks berpagar ketat di Kamboja, Myanmar, dan Laos. Ribuan orang dari berbagai negara Asia, termasuk Indonesia, dilaporkan ditahan secara paksa dan dipaksa menjalankan penipuan daring tersebut.
Baca Juga: Profil Brian Armstrong: Pendiri Coinbase yang Jadi Penggerak Adopsi Kripto Global
Selanjutnya: Aliran Dana Asing Masuk Ke Pasar Keuangan RI Rp 1,04 Triliun Periode 5-8 Januari 2026
Menarik Dibaca: Ciri Pola Pikir Keuangan yang Bisa Menumbuhkan Aset dan Buat Anda Terjebak Utang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













