Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Nama Ruben Vardanyan kembali menjadi sorotan internasional setelah pengadilan militer Azerbaijan menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepadanya.
Sosok bankir miliarder kelahiran Armenia ini sebelumnya dikenal sebagai tokoh bisnis berpengaruh di Rusia sekaligus pejabat tinggi di pemerintahan separatis Nagorno-Karabakh.
Dilansir dari Reuters, vonis tersebut dijatuhkan oleh pengadilan militer di Baku, ibu kota Azerbaijan, setelah ia dinyatakan bersalah atas 42 dakwaan berat, mulai dari terorisme hingga kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hukuman ini memang lebih ringan dibanding tuntutan jaksa yang meminta penjara seumur hidup, namun tetap menjadi salah satu vonis paling signifikan terhadap tokoh Karabakh pascaperang terbaru.
Baca Juga: Profil Robert Duvall: Legenda The Godfather yang Tutup Usia 95 Tahun
Bankir Rusia dan Miliarder Armenia
Lahir di Yerevan, ibu kota Armenia, Vardanyan membangun reputasi dan kekayaannya di Russia.
Ia termasuk pelopor industri perbankan investasi modern di negara tersebut dan juga mendirikan sekolah manajemen bisnis di Moskow.
Majalah bisnis Forbes memperkirakan total kekayaan dirinya dan keluarga mencapai sekitar US$1,2 miliar atau sekitar Rp 20,2 triliun.
Selain dunia bisnis, ia dikenal aktif dalam kegiatan filantropi, menyumbangkan ratusan juta dolar untuk berbagai program sosial dan pendidikan di Armenia.
Dalam langkah yang mengejutkan banyak pihak, Vardanyan kemudian melepaskan kewarganegaraan Rusia dan memilih pindah ke wilayah Nagorno-Karabakh, kawasan sengketa antara Azerbaijan dan Armenia.
Baca Juga: Kasus Baru Adani: Dugaan Impor LPG Iran Jadi Sorotan Washington
Peran Politik di Pemerintahan Karabakh
Pada 2022, Vardanyan bergabung dengan pemerintahan etnis Armenia di Karabakh sebagai Menteri Negara, posisi yang setara dengan pejabat eksekutif tertinggi kedua di wilayah tersebut.
Ia menjadi salah satu figur paling menonjol dalam administrasi de facto yang selama puluhan tahun beroperasi terpisah dari Baku.
Bagi pemerintah Azerbaijan, struktur pemerintahan itu dianggap sebagai entitas bersenjata ilegal. Namun bagi banyak warga Armenia, wilayah yang mereka sebut Artsakh tersebut dipandang memiliki hak untuk merdeka.
Konflik panjang antara Armenia dan Azerbaijan atas Karabakh telah berlangsung sejak runtuhnya Soviet Union, memicu perang berulang serta perpindahan besar-besaran penduduk di kedua sisi.
Baca Juga: Bos MU, Sir Jim Ratcliffe, Minta Maaf Usai Sebut Inggris Dikolonisasi Imigran
Ditangkap dan Menjadi Tahanan Politik
Nasib Vardanyan berubah drastis pada September 2023. Ia ditangkap ketika berusaha menyeberang ke Armenia di tengah eksodus sekitar 120.000 warga etnis Armenia dari Karabakh.
Sejak saat itu, ia menjalani penahanan yang panjang dan kontroversial. Selama proses hukum, Vardanyan beberapa kali melakukan mogok makan sebagai bentuk protes.
Tim pengacara internasionalnya menilai persidangan tidak berlangsung bebas dan adil, sementara keluarganya menyebut putusan pengadilan sudah ditentukan sejak awal.
Kasus Vardanyan juga memiliki dimensi geopolitik yang kuat. Amerika Serikat berupaya mendorong perjanjian damai antara Armenia dan Azerbaijan setelah puluhan tahun konflik.
Presiden AS Donald Trump bahkan disebut telah meminta Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev untuk mempertimbangkan pembebasan tahanan Armenia saat bertemu Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan.
Namun Aliyev menolak kemungkinan amnesti, menegaskan bahwa para mantan pejabat Karabakh bersalah atas kejahatan serius.
Baca Juga: Gaji CEO Citigroup Jane Fraser Naik Jadi US$42 Juta, Ini Penyebabnya
Selanjutnya: Peringatan Hari Besar 19 Februari: 5 Peristiwa Penting yang Wajib Diketahui
Menarik Dibaca: IHSG Diproyeksi Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Rabu (18/2)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)