kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%
SOSOK /

Elon Musk & Bill Gates: AI Wujudkan Dunia Tanpa Kemiskinan, Kerja Jadi Hobi


Senin, 05 Januari 2026 / 09:40 WIB
Elon Musk & Bill Gates: AI Wujudkan Dunia Tanpa Kemiskinan, Kerja Jadi Hobi
ILUSTRASI. Elon Musk & Bill Gates: AI Wujudkan Dunia Tanpa Kemiskinan, Kerja Jadi Hobi. (Dok. Reuters/Reuters)

Sumber: Business Insider | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Para tokoh berpengaruh di bidang teknologi memprediksi kecerdasan buatan (AI) akan menciptakan era dimana ekonomi berlimpah dan mengubah struktur kerja global secara masif.

Masa depan pasar tenaga kerja di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini mulai memasuki babak baru. 

Jika sebelumnya kekhawatiran berfokus pada potensi gelembung investasi AI di pasar modal, para pemimpin industri teknologi global kini mulai mendiskusikan skenario yang lebih ekstrem: sebuah masa depan di mana pekerjaan bukan lagi menjadi keharusan bagi manusia untuk bertahan hidup.

Konsep ini membawa gagasan mengenai kelimpahan materi yang dihasilkan oleh otomatisasi tingkat tinggi.

Baca Juga: Di Usia 70, Mantan CEO Google Eric Schmidt Bangun Infrastruktur AI

Dalam pandangan para tokoh seperti Elon Musk dan Bill Gates, peran AI tidak hanya akan meningkatkan produktivitas, tetapi berpotensi mengeliminasi konsep kemiskinan dan mengubah struktur ekonomi yang selama ini berbasis pada jam kerja konvensional.

Berikut adalah proyeksi masa depan ekonomi dan dunia kerja menurut para bos teknologi global:

Elon Musk

CEO Tesla dan xAI, Elon Musk, memprediksi munculnya fenomena yang ia sebut sebagai universal high income atau pendapatan tinggi universal.

Musk, yang saat ini berada di jalur untuk menjadi triliuner pertama di dunia dengan kekayaan melampaui US$ 300 miliar atau sekitar Rp 5.010 triliun (kurs Rp 16.700 per US$), meyakini bahwa AI dan robotika akan membuat semua orang menjadi kaya.

Melansir Business Insider, Musk menyatakan bahwa di masa depan tidak akan ada lagi kemiskinan sehingga masyarakat tidak perlu lagi menabung uang.

Dalam skenario tersebut, pekerjaan akan berubah fungsi menjadi sekadar hobi atau aktivitas rekreasi layaknya bermain video game.

Musk memandang dunia yang dipenuhi kelimpahan barang, jasa, dan layanan medis berkualitas tinggi ini sebagai masa depan yang sangat ideal bagi kemanusiaan.

Bill Gates

Pendiri Microsoft, Bill Gates, memiliki pandangan yang sedikit lebih moderat namun tetap transformatif.

Gates menilai manusia akan tetap memegang kendali atas tugas-tugas tertentu, namun efisiensi yang dibawa oleh AI akan memungkinkan perubahan besar pada durasi waktu kerja yang selama ini dianggap tidak mungkin.

Dikutip dari wawancaranya dengan Jimmy Fallon, Gates menyebutkan bahwa masalah produksi barang, distribusi, hingga ketahanan pangan akan teratasi dengan bantuan teknologi.

Hal ini memungkinkan masyarakat untuk mempertimbangkan sistem kerja yang jauh lebih pendek, yakni hanya dua atau tiga hari kerja dalam seminggu. Fokus ekonomi akan bergeser dari sekadar bertahan hidup menuju pemenuhan kualitas hidup.

Baca Juga: Hindari Kerugian Besar ala Munger untuk Kaya Jangka Panjang

Sam Altman

CEO OpenAI, Sam Altman, memiliki visi tentang kekayaan ekstrem universal (universal extreme wealth).

Namun, berbeda dengan Musk yang menekankan pada pendapatan, Altman lebih mengedepankan sistem kepemilikan.

Ia mengusulkan sistem kekayaan dasar universal di mana masyarakat memiliki pangsa kepemilikan atas apa pun yang dihasilkan oleh AI.

Dilansir dari Business Insider, Altman menyarankan agar masyarakat memiliki dividen atau hak atas kapasitas produksi AI dunia yang bisa diperdagangkan.

Meskipun ia mengakui adanya kekhawatiran mengenai hilangnya tujuan hidup manusia jika AI melakukan segalanya, Altman percaya manusia akan selalu menemukan cara baru untuk merasa memiliki peran penting dalam narasi kehidupan mereka sendiri.

Jensen Huang

CEO Nvidia, Jensen Huang, mengambil posisi di netral terkait perdebatan ini. Menurutnya, kecil kemungkinan konsep Pendapatan Dasar Universal (UBI) dan pendapatan tinggi universal ala Musk dapat berjalan berdampingan secara bersamaan.

Huang menekankan bahwa konsep kelimpahan yang diciptakan AI tidak seharusnya hanya diukur dari sisi moneter.

Sebagai gambaran, Huang mencontohkan bagaimana saat ini manusia telah mengalami kelimpahan informasi, sesuatu yang ribuan tahun lalu hanya bisa diakses oleh segelintir orang.

Ia menilai terlalu banyak variabel untuk membuat prediksi yang pasti mengenai ekonomi jangka panjang, namun ia sepakat bahwa AI akan mendefinisikan ulang makna kekayaan dan akses terhadap sumber daya secara global.

Tonton: Presiden Venezuela Maduro Ditahan AS di Penjara Kumuh Rawan Penusukan

Perubahan Paradigma Menuju Pasca-AGI

Beberapa pemimpin teknologi lainnya juga menyoroti aspek filosofis dan distribusi dari kekayaan yang dihasilkan AI:

  • Dario Amodei (CEO Anthropic): Mengutip pandangan ekonom John Maynard Keynes, Amodei menilai dunia akan memasuki era pasca-AGI (Artificial General Intelligence). Ia membayangkan dunia di mana makna hidup seseorang tidak lagi berpusat pada pekerjaan demi kelangsungan ekonomi, melainkan pada pemenuhan diri.
  • Demis Hassabis (CEO Google DeepMind): Ia melihat potensi "kelimpahan radikal" di mana ekonomi tidak lagi bersifat zero-sum game. Namun, menurutnya tantangan terbesar adalah masalah politik, yakni bagaimana memastikan distribusi kekayaan tersebut dilakukan secara adil kepada seluruh lapisan masyarakat.

Secara keseluruhan, meskipun terdapat perbedaan dalam model distribusinya, para pemimpin teknologi ini sepakat bahwa AI akan membawa perubahan struktural pada nilai tenaga kerja manusia.

Bagi para investor dan pelaku ekonomi, transformasi ini memberikan gambaran bahwa efisiensi teknologi di masa depan mungkin tidak hanya berujung pada peningkatan laba korporasi, tetapi juga pada perubahan fundamental cara manusia berinteraksi dengan ekonomi global.

Selanjutnya: Trump Ancam Serangan Kedua ke Venezuela Jika Pemerintah Tak Kooperatif

Menarik Dibaca: 6 Promo Point Coffee Januari 2026 dengan Bundling Minuman Favorit Mulai Rp 40.000

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

×