Sumber: Yahoo Finance | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Mantan Chief Executive Officer (CEO) Google, Eric Schmidt, menunjukkan bahwa usia bukan menjadi penghalang untuk tetap aktif di garis depan inovasi teknologi.
Di usianya yang kini menginjak 70 tahun, tokoh yang memimpin Google selama lebih dari satu dekade ini justru semakin agresif memperluas ekspansi bisnisnya ke sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan energi.
Langkah Schmidt ini didorong oleh visi besar untuk menyelesaikan masalah mendasar dalam pengembangan teknologi masa depan.
Baca Juga: Prediksi AI Generatif 2026: Dari Pembuat Konten Jadi Tulang Punggung Bisnis
Alih-alih menghabiskan masa pensiun dengan tenang sejak meninggalkan posisi resminya pada 2020, ia kini mengarahkan sumber dayanya untuk membangun ekosistem pendukung AI yang lebih efisien dan kompetitif.
Terinspirasi Henry Kissinger
Dedikasi Schmidt dalam bekerja melampaui usia pensiun konvensional ternyata sangat dipengaruhi oleh mentor sekaligus sahabat dekatnya, mendiang Henry Kissinger. Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat tersebut dikenal tetap bekerja aktif hingga usia 100 tahun.
Melansir dari Yahoo Finance, Schmidt mengungkapkan bahwa Kissinger percaya masa perubahan besar menuntut tanggung jawab dan tindakan nyata, bukan sikap lepas tangan.
Perspektif inilah yang mendasari keputusan Schmidt untuk terus terlibat aktif dalam mengarahkan dampak AI bagi kepentingan publik.
Hubungan keduanya bahkan menghasilkan karya kolaboratif berupa buku berjudul The Age of AI: And Our Human Future yang terbit pada 2021, setahun sebelum fenomena ChatGPT meledak di pasar global.
Baca Juga: 10 Orang Terkaya Dunia Pecahkan Rekor di Akhir 2025, Elon Musk Tetap Nomor 1
Mengatasi Masalah Energi Melalui Bolt Data & Energy
Salah satu langkah paling strategis yang diambil Schmidt saat ini adalah peluncuran startup baru bernama Bolt Data & Energy.
Perusahaan ini difokuskan untuk mengembangkan kawasan pusat data (data center) dan pembangkit listrik di wilayah Texas Barat.
Menurut Schmidt, kendala terbesar dalam pengembangan AI saat ini bukanlah terletak pada algoritma, melainkan pada ketersediaan energi.
Bagi para investor dan pelaku industri, inisiatif Schmidt ini menyoroti peluang besar dalam sektor infrastruktur pendukung teknologi. Untuk mencapai skala yang memadai, diperlukan infrastruktur masif yang mampu mengintegrasikan daya listrik besar dengan kemampuan komputasi tinggi.
Rencana operasional Bolt Data & Energy mencakup beberapa tahapan strategis berikut:
- Pembangunan Pembangkit Listrik Gas Alam: Memulai operasional di Texas Barat yang merupakan pusat industri minyak dan gas untuk menjamin ketersediaan daya awal.
- Integrasi Energi Terbarukan: Menambahkan sumber energi terbarukan ke dalam sistem untuk meningkatkan ketahanan energi.
- Fokus pada Penyimpanan Baterai: Mengembangkan teknologi baterai guna mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi distribusi daya.
- Pengembangan Energi Nuklir: Menargetkan penggunaan tenaga nuklir di masa depan sebagai solusi jangka panjang untuk kebutuhan daya klaster GPU (Graphics Processing Unit) berkepadatan tinggi.
Ekspansi ke Sektor Dirgantara dan Masa Depan AI
Selain fokus pada energi, portofolio bisnis Schmidt juga mencakup sektor dirgantara. Schmidt pada Maret 2025 resmi menjabat sebagai CEO Relativity Space setelah mengakuisisi saham pengendali di produsen kedirgantaraan tersebut.
Langkah ini semakin mempertegas posisinya sebagai investor yang fokus pada teknologi mutakhir dan infrastruktur strategis.
Tonton: Hidup Serumah Tanpa Nikah Kini Berisiko Dipenjara, Ini Aturan Lengkapnya
Dalam pandangan Schmidt, pengembangan AI harus mencerminkan nilai-nilai demokrasi dan memberikan manfaat nyata bagi kemanusiaan.
Dengan mengontrol lahan, pembangkit listrik, dan pusat data secara mandiri, ia berupaya menciptakan ekosistem yang lebih andal dan hemat biaya bagi pertumbuhan model AI yang semakin besar.
Sebagai komitmen finansialnya dalam industri ini, pembangunan pusat data skala besar sering kali membutuhkan investasi bernilai miliaran dolar.
Jika sebuah proyek membutuhkan dana sekitar US$ 1 miliar, maka nilai tersebut setara dengan Rp 16,7 triliun (kurs Rp 16.700 per US$). Nilai kapitalisasi yang masif ini menunjukkan bahwa sektor infrastruktur energi untuk AI merupakan ladang investasi baru yang sangat diperhitungkan.
Schmidt percaya bahwa keterlibatan aktif dalam fase transisi teknologi ini adalah sebuah tanggung jawab. Baginya, bekerja bukan sekadar tentang produktivitas, melainkan tentang memastikan bahwa fondasi teknologi masa depan dibangun di atas infrastruktur yang kuat dan berkelanjutan.
Selanjutnya: Panduan Investasi Milenial 2026: Mulai Kecil, Raih Finansial Jangka Panjang
Menarik Dibaca: Cara Mudah Mencari Tambahan Penghasilan untuk Kebutuhan yang Mendesak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













