Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Pendiri sekaligus CEO Block, Jack Dorsey, memicu kontroversi setelah secara terbuka menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara menjalankan perusahaan secara fundamental.
Pendiri Twitter, kini X, langsung mengambil langkah drastis dengan memangkas ribuan karyawan.
Dalam pernyataan resmi, Dorsey menegaskan bahwa alat berbasis AI membuat tim yang jauh lebih kecil mampu menghasilkan pekerjaan lebih banyak sekaligus lebih baik.
"Alat kecerdasan telah mengubah arti membangun dan menjalankan perusahaan. Kami sudah melihatnya secara internal,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Sebagai bagian dari transformasi besar berbasis AI, Block berencana memangkas lebih dari 4.000 karyawan, hampir setengah dari total tenaga kerja perusahaan fintech tersebut.
Baca Juga: Bill Gates Mengakui Hubungan dengan Jeffrey Epstein, Bantah Keterlibatan Ilegal
Pasar Merespons Positif, Saham Block Melonjak
Meski keputusan tersebut memicu kekhawatiran soal lapangan kerja, pasar justru menyambutnya dengan optimisme.
Saham Block melonjak tajam setelah pengumuman, menunjukkan bahwa investor mulai melihat AI bukan lagi sebagai eksperimen, melainkan pendorong perubahan struktural dan profitabilitas jangka panjang.
Dorsey juga memperingatkan para pemimpin perusahaan lain bahwa dalam waktu dekat mereka kemungkinan akan sampai pada kesimpulan yang sama.
Selama ini, banyak eksekutif masih berhati-hati dalam mengaitkan AI secara langsung dengan pengurangan tenaga kerja, meskipun investasi pada teknologi tersebut terus meningkat.
Baca Juga: Direktur FBI Kash Patel: Telepon Saya Disita Diam-Diam di Era Biden
Plus-Minus 'Pekerja' AI
Gelombang pemutusan hubungan kerja yang dikaitkan dengan AI semakin marak. Berdasarkan perhitungan Reuters, lebih dari 61.000 pekerjaan telah dipangkas sejak November oleh berbagai perusahaan global.
Beberapa di antaranya termasuk Amazon, Pinterest, serta perusahaan logistik Australia WiseTech Global.
Namun, Block menjadi salah satu perusahaan besar pertama yang secara eksplisit menyebut AI sebagai alasan utama PHK, bukan sekadar efisiensi tambahan.
Brian Jacobsen dari Annex Wealth Management bahkan menyebut AI sebagai “kambing hitam baru”.
Di sisi lain, kekhawatiran meningkat karena AI berpotensi mengganggu pasar tenaga kerja sekaligus model keuntungan perusahaan di tengah ekonomi global yang belum stabil.
Sebuah laporan dari Citrini Research memproyeksikan skenario tahun 2028 di mana tingkat pengangguran bisa mencapai 10,2%. Lonjakan tersebut dipicu oleh penggantian pekerja manusia di sektor perangkat lunak, logistik, dan pengiriman.
Terlepas dari kekhawatiran, bukti manfaat ekonomi AI mulai muncul. Analis Morgan Stanley menemukan peningkatan jumlah perusahaan yang melaporkan keuntungan terukur dari penggunaan AI.
Dari analisis lebih dari 10.000 panggilan laporan keuangan perusahaan, mereka memperkirakan penggunaan AI dapat meningkatkan margin keuntungan perusahaan sekitar 40 basis poin tahun ini.
Baca Juga: Mengenal Rob Jetten: PM Termuda Belanda dan Ambisi Perkuat Militer NATO
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












