kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%
SOSOK /

5 Kebiasaan Sepele yang Bisa Hancurkan Kekayaan Anda, Ubah Sekarang!


Selasa, 06 Januari 2026 / 16:13 WIB
5 Kebiasaan Sepele yang Bisa Hancurkan Kekayaan Anda, Ubah Sekarang!
ILUSTRASI. 5 Kebiasaan Sepele yang Bisa Hancurkan Kekayaan Anda, Ubah Sekarang! (Dok./Ramsey Solutions)

Sumber: New Trader U | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Membangun kekayaan bukan sekadar tentang seberapa besar penghasilan yang didapat, melainkan bagaimana mengelolakeuangan sehari-hari.

Pakar keuangan pribadi, Dave Ramsey, sering kali menekankan bahwa banyak kebiasaan yang dianggap normal oleh masyarakat kelas menengah sebenarnya merupakan penghancur kekayaan yang sistematis.

Ramsey berpendapat bahwa kesuksesan finansial sebesar 80% ditentukan oleh perilaku dan hanya 20% yang berasal dari pengetahuan kepala.

Baca Juga: CEO Bank of America Beri Pesan untuk Gen Z yang Sulit Mencari Pekerjaan

Sayangnya, banyak orang terjebak dalam gaya hidup yang didorong oleh utang karena mengikuti standar sosial yang dianggap lazim. Memahami kesalahan-kesalahan ini menjadi langkah awal bagi investor untuk mengamankan masa depan ekonominya.

Melansir dari New Trader U, terdapat lima kesalahan utama yang sering kali dilakukan oleh masyarakat dan secara perlahan menggerus aset mereka dalam jangka panjang.

1. Hidup dengan Akumulasi Utang

Prinsip paling fundamental dari pengajaran Ramsey adalah utang merupakan penghambat utama pembentukan aset. Setiap rupiah yang digunakan untuk membayar bunga utang adalah modal yang seharusnya bisa diinvestasikan untuk mendapatkan imbal hasil.

Utang bekerja dengan bunga majemuk yang justru melawan diri Anda sendiri. Saat seseorang memiliki saldo kartu kredit, pinjaman kendaraan, atau pinjaman pribadi, mereka sebenarnya sedang mengalihkan pendapatan masa depan untuk membiayai konsumsi masa lalu.

Perbedaan mendasar antara orang kaya dan kelas menengah adalah cara mereka memandang pembayaran. Orang kaya menggunakan pendapatan untuk membeli aset, sementara kelas menengah menggunakan pendapatan untuk membayar cicilan utang.

2. Terjebak Kondisi "House Poor"

Kesalahan ini sering kali tidak disadari karena memiliki rumah dianggap sebagai sebuah pencapaian finansial.

Namun, Ramsey mengidentifikasi kondisi house poor terjadi ketika biaya perumahan terlalu besar sehingga mencekik arus kas bulanan. Hal ini mengubah aset yang seharusnya menjadi berkat menjadi beban yang menghambat akumulasi kekayaan.

Menurut Dave Ramsey, seperti dikutip dari New Trader U, seseorang masuk dalam kategori house poor jika total pembayaran hunian bulanan melebihi 25% dari pendapatan bersih.

Total pembayaran ini mencakup cicilan pokok, bunga, pajak, hingga biaya asuransi. Jika pengeluaran rumah tangga melebihi batas ini, margin untuk menabung dana darurat atau investasi pensiun akan hilang.

Baca Juga: Steven Bartlett Ungkap Alasan Merekrut Kandidat dengan CV Dua Baris

3. Berbelanja untuk Pamer ke Orang Lain

Psikologi konsumerisme modern sering kali mendorong individu untuk menggunakan materi sebagai simbol kesuksesan.

Ramsey sering menekankan bahwa banyak orang terjebak dalam siklus membeli barang yang tidak dibutuhkan, dengan uang yang tidak dimiliki, hanya untuk memukau orang yang tidak disukai.

Gaya hidup yang didorong oleh perbandingan sosial ini semakin parah dengan adanya media sosial. Membeli barang mewah seperti mobil baru atau produk desainer menggunakan uang yang seharusnya bisa diinvestasikan menciptakan biaya peluang yang sangat besar.

Pertumbuhan nilai investasi yang hilang selama berdekade-dekade jauh lebih mahal harganya dibandingkan kepuasan sesaat dari pengakuan sosial.

4. Berinvestasi pada Instrumen yang Tidak Dipahami

Dunia keuangan sering kali menawarkan produk yang kompleks dengan janji imbal hasil tinggi. Namun, kerumitan tersebut sering kali menjadi tabir untuk menutupi biaya yang tinggi atau skema yang tidak menguntungkan investor ritel.

Ramsey memiliki aturan sederhana: jangan pernah menaruh uang pada instrumen investasi yang tidak bisa Anda jelaskan kepada anak kelas 6 SD.

Produk keuangan yang terlalu kompleks, seperti asuransi jiwa tertentu yang digabung dengan investasi atau skema spekulatif, sering kali lebih menguntungkan perantara keuangan daripada investor itu sendiri melalui lapisan biaya yang tersembunyi.

5. Beban Cicilan dan Sewa Kendaraan

Mobil adalah aset yang mengalami depresiasi atau penurunan nilai secara cepat. Ramsey sangat menentang cicilan mobil karena menganggapnya sebagai salah satu penghancur kekayaan terbesar bagi kelas menengah.

Berikut adalah mekanisme kerusakan kekayaan akibat cicilan kendaraan:

  • Depresiasi Ganda: Anda membayar bunga pinjaman untuk aset yang nilainya justru terus menurun setiap hari.
  • Arus Kas Terhambat: Cicilan bulanan yang besar menghilangkan kemampuan untuk menabung atau berinvestasi secara rutin.
  • Definisi Kemampuan: Banyak orang merasa mampu membeli mobil jika bisa membayar cicilannya, padahal menurut Ramsey, seseorang baru benar-benar mampu jika bisa membelinya secara tunai.

Tonton: Persetujuan RKAB 2026 Belum Terbit, Tata Kelola Minerba Disorot

Dengan menghindari lima kesalahan di atas, seorang investor dapat memastikan pendapatan mereka bekerja sepenuhnya untuk membangun kekayaan, bukan untuk membiayai gaya hidup yang merugikan di masa depan.

Menolak perilaku konsumtif yang sudah dianggap normal merupakan kunci utama dalam memenangkan kompetisi finansial jangka panjang.

Selanjutnya: Trader Misterius Raup Rp 6,8 Miliar Usai Kejatuhan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Menarik Dibaca: 748.855 Penumpang Kereta Manfaatkan Face Recognition Saat Nataru, Hemat Rp 27,6 Juta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

×