kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%
SOSOK /

25 Tokoh Ini Bentuk Masa Depan AI Global


Kamis, 08 Januari 2026 / 09:31 WIB
25 Tokoh Ini Bentuk Masa Depan AI Global
ILUSTRASI. 25 Tokoh Ini Bentuk Masa Depan AI Global. (Dok./REUTERS)

Sumber: Business Insider | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Sejak OpenAI memperkenalkan ChatGPT pada akhir 2022, lanskap kecerdasan buatan (AI) telah mengalami transformasi masif.

Bukan lagi sekadar tren teknologi, AI kini telah menjadi tulang punggung operasional korporasi besar dengan nilai investasi yang fantastis.

Di balik percepatan ini, terdapat tokoh-tokoh kunci yang tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menetapkan standar etika, keamanan, dan keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga: Era Baru Berkshire Hathaway Dimulai, Greg Abel Gantikan Buffett! Simak Profilnya

Melansir laporan terbaru Business Insider, terdapat 25 pemain kunci dalam daftar AI Power List yang dinilai paling berpengaruh dalam membentuk arah inovasi AI satu tahun terakhir. Mereka mencakup eksekutif infrastruktur, investor visioner, hingga aktivis yang menyoroti dampak sosial teknologi ini.

Berikut adalah profil beberapa tokoh utama dalam ekosistem AI global yang patut dicermati oleh para pelaku pasar dan investor:

Sam Altman

Cofounder dan CEO OpenAI ini tetap menjadi sosok sentral. Di bawah kepemimpinannya, OpenAI meluncurkan GPT-5 dan ChatGPT Atlas pada 2025.

Altman berhasil mengubah laboratorium riset menjadi raksasa teknologi komersial yang melayani jutaan pengembang.

Matthew Prince

CEO Cloudflare ini berperan penting dalam keamanan siber. Melansir Business Insider, Prince berhasil memblokir bot AI yang melakukan scraping tanpa izin, membantu penerbit konten mengamankan pendapatan mereka dari eksploitasi data.

Rachel Peterson

Sebagai VP Data Centers Meta, Peterson memimpin ekspansi infrastruktur AI perusahaan. Ia mengelola investasi infrastruktur Meta senilai US$ 600 miliar atau setara Rp 10.050 triliun (kurs Rp 16.750).

Peterson memastikan pembangunan pusat data di Ohio dan Louisiana berjalan efisien untuk mendukung model bahasa besar masa depan.

Elliston Berry

Berry adalah aktivis yang mendorong pengesahan Take It Down Act di Amerika Serikat.

Ia memperjuangkan regulasi untuk mengkriminalisasi penyebaran konten deepfake seksual non-konsensual, menjadikannya suara penting dalam aspek etika AI.

Baca Juga: Jeff Bezos Pindah Rumah: Washington Kehilangan Pajak Rp16,74 Triliun

Andy Power

CEO Digital Realty ini mengelola lebih dari 300 pusat data di enam benua. Perusahaannya mendukung kapasitas data hampir tiga gigawatt, yang mampu mengaliri listrik untuk 2,25 juta rumah di AS, guna memenuhi permintaan komputasi AI yang melonjak.

Aydin Senkut

Pendiri Felicis Ventures ini adalah investor kawakan. Melansir data portofolionya, Senkut telah mendanai lebih dari 400 perusahaan, termasuk unicorn AI seperti Runway yang bernilai US$ 3 miliar (Rp 50,25 triliun) dan Mercor senilai US$ 10 miliar (Rp 167,5 triliun).

Jensen Huang

CEO Nvidia ini merupakan tokoh di balik dominasi cip AI dunia. Nvidia melaporkan pendapatan kuartal III-2025 sebesar US$ 57 miliar atau sekitar Rp 954,75 triliun.

Huang berhasil memposisikan perangkat keras Nvidia sebagai tulang punggung hampir setiap program model AI besar di dunia.

Sasha Luccioni

Lead AI dan Iklim di Hugging Face ini memfokuskan perhatian pada jejak karbon AI. Luccioni meluncurkan AI Energy Score untuk membantu pengembang melacak penggunaan energi saat melatih model AI demi keberlanjutan lingkungan.

Swami Sivasubramanian

VP AWS ini adalah arsitek di balik produk AI Amazon seperti Bedrock dan SageMaker. Saat ini, ia fokus pada sistem AI otonom yang dapat merencanakan dan bertindak tanpa supervisi manusia secara penuh.

Karen Hao

Jurnalis dan penulis buku Empire of AI ini memberikan perspektif kritis mengenai dampak sosial dan lingkungan dari perkembangan OpenAI.

Hao melatih jurnalis di seluruh dunia untuk menuntut akuntabilitas perusahaan teknologi besar.

Pierre Adil Elias

Sebagai Medical Director AI di NewYork-Presbyterian, Dr. Elias memimpin pengembangan EchoNext.

Teknologi ini mampu mendeteksi penyakit jantung struktural dengan tingkat akurasi 77%, melampaui kemampuan diagnosis manual banyak kardiolog.

Baca Juga: Nasihat Buffett untuk Gen Z: Pilih Atasan yang Membangun, Bukan Gaji Tinggi

Angle Bush

Pendiri Black Women in Artificial Intelligence ini berupaya menciptakan masa depan AI yang lebih inklusif. B

ush menyediakan pelatihan dan bimbingan bagi perempuan kulit hitam untuk memastikan keberagaman dalam revolusi industri keempat ini.

David Griffiths

CTO Citi ini mengintegrasikan AI ke dalam sistem perbankan global. Di bawah arahannya, alat AI internal bernama Stylus Workspaces telah membantu lebih dari 100.000 karyawan Citi di 83 negara dalam memproses dokumen hukum dan audit.

Peggy Johnson

CEO Agility Robotics ini mengubah robot humanoid menjadi realitas komersial.

Robot buatannya, Digit, telah memindahkan lebih dari 100.000 kotak di gudang-gudang logistik seperti Amazon, membuktikan nilai investasi pada robotika.

Megan Garcia

Seorang pengacara dan advokat keamanan, Garcia mendesak pertanggungjawaban perusahaan AI setelah tragedi yang menimpa putranya.

Kesaksiannya di hadapan Kongres mendorong pembatasan usia pengguna pada platform AI seperti Character.AI dan Meta.

Milagros Miceli

Melalui Data Workers’ Inquiry, Miceli menyoroti kondisi kerja para pelabel data AI di seluruh dunia. Upayanya telah membuahkan kebijakan istirahat berbayar dan dukungan kesehatan mental bagi tenaga kerja di balik layar AI.

Jacqui Canney

Chief People Officer ServiceNow ini memimpin program pelatihan ulang keterampilan AI untuk 3 juta pengguna.

Inisiatifnya diklaim telah memberikan penghematan perusahaan hingga US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,67 triliun.

Ali Farhadi

CEO Allen Institute for AI (Ai2) ini memperjuangkan riset AI terbuka.

Farhadi baru saja menerima hibah federal sebesar US$ 152 juta (Rp 2,54 triliun) untuk memimpin inisiatif nasional pertama di AS mengenai AI multimodal terbuka untuk sains.

Naeem Talukdar

CEO Moonvalley ini membangun model video AI berbasis etika. Melansir keterangannya, perusahaannya bekerja sama dengan para pembuat konten untuk memastikan data yang digunakan untuk pelatihan AI memiliki lisensi resmi.

Christopher Manning

Profesor Stanford dan Partner AIX Ventures ini fokus mendanai startup tahap awal.

Manning menekankan pentingnya pengembangan AI yang bertanggung jawab di berbagai sektor industri mulai dari hukum hingga energi.

Mira Murati

Setelah peran pentingnya di OpenAI, Murati kini memimpin Thinking Machine Labs sebagai CEO. Ia terus menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam menentukan arah teknis pengembangan model AI generatif di masa depan.

Daniela Amodei

Cofounder Anthropic ini memimpin perusahaan yang fokus pada keamanan AI melalui model Claude. Anthropic dikenal sebagai pesaing utama OpenAI dengan pendekatan yang lebih menekankan pada etika dan keamanan sistem.

Tonton: Harga Emas Antam Terkikis Hari Ini (8 Januari 2026)

Demis Hassabis

CEO Google DeepMind ini memimpin berbagai terobosan besar, termasuk AlphaFold yang merevolusi biologi molekuler. Hassabis tetap menjadi tokoh kunci dalam ambisi Google memenangkan perlombaan kecerdasan umum buatan (AGI).

Alfred Lin

Partner di Sequoia Capital ini adalah investor visioner yang berada di balik banyak kesuksesan perusahaan teknologi besar. Lin terus mengarahkan modal ventura ke perusahaan-perusahaan AI yang memiliki fundamental bisnis yang kuat.

Aravind Srinivas

CEO Perplexity ini memimpin mesin pencari berbasis AI yang menantang dominasi Google. Perplexity menawarkan cara baru bagi pengguna untuk mendapatkan informasi dengan jawaban ringkas yang bersumber dari data terkini.

Perkembangan AI yang pesat ini tidak lepas dari tantangan besar, mulai dari ketegangan jaringan listrik akibat konsumsi daya pusat data hingga kekhawatiran terkait keamanan data pribadi.

Bagi investor di Indonesia, memantau pergerakan tokoh-tokoh ini menjadi krusial untuk memahami arah kebijakan teknologi global yang nantinya akan berdampak pada peta investasi sektor teknologi domestik.

Selanjutnya: Modal Belum Cukup Rp 250 Miliar, Saham VINS, AHAP, dan YOII Malah Berlari Kencang

Menarik Dibaca: Anjlok Setelah Reli, Cek Harga Emas Antam Hari Ini Kamis 8 Januari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

×