Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Pengadilan di Korea Selatan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada mantan presiden Yoon Suk Yeol pada Kamis (20/2), setelah dinyatakan bersalah memimpin pemberontakan melalui upaya darurat militer pada Desember 2024.
Putusan ini menandai kejatuhan dramatis seorang pemimpin yang sebelumnya naik ke puncak kekuasaan dengan cepat dari latar belakang jaksa.
Reuters melaporkan, vonis tersebut dibacakan oleh Seoul Central District Court. Di dalamnya menyatakan Yoon bertanggung jawab merusak tatanan konstitusional dengan mengerahkan pasukan untuk menyerbu parlemen serta menangkap lawan politiknya.
Tim kuasa hukumnya langsung menyatakan akan mempertimbangkan langkah banding.
Yoon, yang kini berusia 65 tahun, sebelumnya membantah melakukan kesalahan. Ia bersikeras bahwa deklarasi darurat militer dimaksudkan sebagai peringatan bahwa demokrasi dan kebebasan di Korea Selatan sedang terancam oleh kekuatan anti-negara.
Baca Juga: Pangeran Andrew Terseret Kasus Epstein, Status Hukum Masih Menggantung
Perjalanan Karier: Dari Jaksa Terkuat hingga Presiden
Sebelum terjun ke politik, Yoon dikenal sebagai jaksa yang menangani kasus besar, termasuk penyelidikan terhadap dua presiden yang masih menjabat.
Popularitasnya melonjak dan menjadikannya figur publik nasional.
Mantan hakim Han Dong-soo menyebut Yoon sebagai jaksa agung paling berkuasa dalam sejarah Korea Selatan.
Ia bahkan dikabarkan pernah berkata pada 2020, dalam sebuah jamuan makan malam, bahwa jika masuk akademi militer ia “akan melakukan kudeta”.
Karier politiknya melesat cepat. Hanya setahun setelah masuk dunia politik, ia memenangkan pemilihan presiden 2022 dengan dukungan kelompok konservatif yang kecewa pada kebijakan liberal pemerintahan sebelumnya di bawah Moon Jae-in.
Namun setelah berkuasa, konflik berkepanjangan dengan oposisi memperburuk citranya. Mantan rival di kejaksaan, Lee Sung-yoon, menilai tekanan politik memunculkan sisi radikal Yoon yang sejak lama menjadi ciri khasnya.
Baca Juga: Mark Zuckerberg Tolak Tuduhan Instagram Membidik Anak-anak di Bawah 13 Tahun
Masa Jabatan Penuh Kontroversi
Menjelang keputusan darurat militer pada akhir 2024, posisi Yoon sudah melemah akibat berbagai kontroversi domestik, termasuk skandal yang melibatkan istrinya, Kim Keon Hee. Ia dituduh menerima hadiah secara tidak pantas.
Meski awalnya tidak didakwa, penyelidikan khusus setelah Yoon lengser berujung pada vonis penjara 20 bulan terhadap Kim pada Januari lalu atas kasus suap.
Awal masa kepresidenannya juga diwarnai kontroversi ketika ia memindahkan kantor presiden dari kompleks Blue House. Keputusan itu memicu spekulasi terkait kepercayaan feng shui, meski Yoon membantah adanya pengaruh spiritual atau dukun.
Ia juga dikritik karena mempertahankan pejabat senior setelah tragedi desak-desakan Halloween yang menewaskan 159 orang.
Salah satunya adalah Menteri Keselamatan Lee Sang-min, teman sekolah Yoon, yang kemudian divonis tujuh tahun penjara atas perannya dalam deklarasi darurat militer.
Nama lain yang terseret adalah Menteri Pertahanan Kim Yong-hyun, mantan kepala pengamanan presiden, yang saat ini masih menjalani persidangan atas tuduhan pemberontakan.
Pengamat politik Shin Yul dari Myongji University menilai kejatuhan Yoon dipicu oleh lingkar dalam yang keliru.
Menurutnya, mantan presiden tersebut kemungkinan masih yakin bahwa deklarasi darurat militer adalah keputusan yang benar.
Baca Juga: Kasus Baru Adani: Dugaan Impor LPG Iran Jadi Sorotan Washington
Selanjutnya: Cuaca Kota Makassar & Parepare Hari Ini (20/2), Cek Suhunya Menurut BMKG
Menarik Dibaca: 6 Manfaat Aquarobic yang Tak Terduga, Bikin Otot Kuat dan Jantung Sehat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)