Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Mike Reid, Chief Science Officer untuk program darurat HIV/AIDS Amerika Serikat (PEPFAR), mengundurkan diri dan secara terbuka menuduh pemerintahan Donald Trump menggunakan bantuan kesehatan sebagai alat tawar untuk kepentingan komersial.
Mengutip laporan Reuters pada Rabu (22/4), Departemen Luar Negeri AS langsung memecatnya dalam hitungan jam setelah Reid menerbitkan tulisan berisi pengunduran diri dan kritik terbuka terhadap kebijakan Trump.
Baca Juga: Trump Kembali Kritik Paus Leo: Dia Harus Paham, Iran Adalah Ancaman Global
Dipicu Penghentian Bantuan HIV untuk Zambia
Keputusan Reid untuk mundur dipicu oleh sebuah laporan New York Times bulan lalu yang mengungkap bahwa Departemen Luar Negeri AS tengah mempertimbangkan penghentian bantuan HIV untuk Zambia.
Ironisnya, keputusan itu diambil bukan karena alasan kesehatan, melainkan sebagai tekanan agar Zambia menandatangani perjanjian mineral kritis yang menguntungkan Amerika Serikat.
"Ketika akses terhadap pengobatan atau pencegahan mulai terkait dengan akses ke mineral kritis atau posisi geopolitik, pekerjaan ini tidak lagi menjadi apa yang diklaim," kata Reid.
Ia juga menyebut arah kebijakan domestik pemerintahan Trump sebagai otoriter dan menegaskan bahwa kerja kesehatan global pada dasarnya bersifat anti-fasis.
Baca Juga: Presiden ICRC Kritik Ancaman Trump: Perang Tak Boleh Abaikan Nilai Kemanusiaan
Dipecat atau Mengundurkan Diri?
Departemen Luar Negeri AS langsung mengakhiri kontrak Reid hanya beberapa jam setelah melihat tulisannya terbit di dunia maya.
Namun, juru bicara Departemen Luar Negeri menyebut Reid mundur atas kesepakatan bersama setelah ia mengakui tidak lagi bisa memberikan nasihat ilmiah yang nonpartisan.
Departemen juga menekankan bahwa Reid sendiri memuji beberapa aspek kebijakan Trump dalam tulisannya.
PEPFAR adalah program yang lahir di era Presiden George W. Bush dan sejak 2003 dikreditkan telah menyelamatkan 26 juta jiwa serta mencegah infeksi HIV pada 7,8 juta bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi.
Namun data terbaru yang dirilis Departemen Luar Negeri sendiri menunjukkan bahwa jumlah orang yang menjalani tes HIV turun tajam tahun lalu, seiring terganggunya operasional PEPFAR akibat pemotongan anggaran.
Baca Juga: Siapa Peter Thiel? Miliarder Pendukung Trump yang Bikin Vatikan Gelisah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













