Sumber: VN Express | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Dunia profesional di sektor teknologi sering kali terlihat berkilau dari luar, namun di baliknya tersimpan perjuangan panjang para pelakunya.
Kisah Tran Tung Anh, seorang pemuda berusia 28 tahun asal Vietnam, menjadi bukti nyata bahwa persistensi adalah aset paling berharga di pasar kerja global yang sangat kompetitif.
Melansir dari VnExpress, Anh saat ini menjabat sebagai Privacy Policy Specialist di Apple, raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Fenomena Langka: Emas Terbang, Bitcoin Stagnan! Apa Pemicunya?
Tugas utamanya adalah melakukan riset regulasi global guna memastikan perlindungan data dan privasi pengguna tertanam kuat dalam setiap produk serta layanan perusahaan.
Kesuksesan kariernya semakin lengkap setelah ia dinyatakan diterima di program magister Harvard University pada November 2025.
Namun, pencapaian tersebut tidak datang secara instan. Anh mengaku bahwa perjalanannya diwarnai oleh ratusan penolakan surat lamaran kerja dan berbagai momen keraguan diri.
Menurutnya, terkadang seseorang hanya membutuhkan satu jawaban "ya" di tengah lautan jawaban "tidak".
Membangun Karier dari Titik Nol
Perjalanan Anh di AS dimulai pada tahun 2017 ketika ia mendapatkan beasiswa penuh di Texas Christian University dengan jurusan Teknologi Informasi.
Sejak awal, ia sudah menunjukkan ambisi besar untuk memiliki pengalaman profesional yang mumpuni.
Dikutip dari VnExpress, Anh sempat mengirimkan hampir 100 lamaran kerja setiap bulan selama periode enam bulan sebelum akhirnya berhasil mengamankan posisi magang di sebuah perusahaan kosmetik AS pada 2019. Pengalaman tersebut kemudian membawanya bergabung dengan firma audit global Ernst & Young (EY).
Di EY, Anh menangani klien-klien besar seperti Google dan YouTube. Pengalaman ini membuka wawasannya bahwa teknologi tidak hanya soal kode dan perangkat keras, melainkan berdiri di atas fondasi kebijakan dan kerangka hukum yang kuat.
Proses Seleksi Ketat di Apple
Setelah dua tahun mengasah keahlian khusus di bidang kebijakan privasi, Anh merasa cukup siap untuk melamar ke perusahaan teknologi besar, termasuk Apple.
Proses rekrutmen yang ia lalui sangat panjang dan melelahkan, mencakup lima tahap wawancara yang berlangsung selama dua bulan.
Ada beberapa poin menarik dalam proses seleksi Anh di Apple:
- Kendala Teknis: Undangan wawancara pertama sempat masuk ke folder spam. Ia baru menyadarinya setelah email tindak lanjut ketiga dari perekrut.
- Persiapan Cepat: Karena waktu yang mendesak, ia memetakan langsung pengalaman proyek sebelumnya dengan kebutuhan spesifik yang diminta Apple.
- Wawancara Panel: Tahap akhir yang paling menuntut adalah ujian kemampuan kolaborasi dan komunikasi lintas departemen.
Akhirnya, Anh resmi bergabung dengan Apple pada Februari 2022. Di sana, ia dinilai oleh atasannya sebagai pemimpin yang tepercaya dengan kemampuan memproses informasi kompleks secara efisien.
Tonton: Capai Kesepakatan soal Greenland, Trump Tangguhkan Tarif 10 Persen untuk Eropa
Strategi Tembus Master di Harvard
Meski kariernya di Apple sudah mapan, pesatnya inovasi teknologi menuntut Anh untuk terus memperdalam ilmu. Ia memutuskan melamar ke program Computational Science and Engineering di Harvard University untuk tetap relevan dengan perkembangan kebijakan global.
Anh dijadwalkan memulai studinya pada akhir Januari 2026. Di Harvard, Anh berencana fokus pada bidang kecerdasan buatan (AI) dan ekosistem Apple Wallet, khususnya pada irisan antara keuangan digital dan regulasi kependudukan.
Baginya, penolakan adalah bagian normal dari pengalaman pelajar internasional. Selama seseorang memberikan upaya terbaik, hasil yang baik dipastikan akan datang pada waktunya.
Selanjutnya: Ini Alasan Zoho Bertahan Tetap Menjadi Perusahaan Privat dan Belum IPO
Menarik Dibaca: Gaya Hidup Urban Bikin Jasa Bersih-Bersih Lewat Aplikasi Kian Populer
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













