Sumber: New Trader U | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Warren Buffett selalu menghindari strategi yang rumit atau mengejar rekomendasi saham panas yang bersifat spekulatif.
Sebaliknya, pendekatan sang Dukun dari Omaha ini justru sangat sederhana hingga sering kali diabaikan karena dianggap terlalu mendasar bagi sebagian orang.
Buffett secara konsisten berhasil melampaui kinerja manajer investasi profesional selama lebih dari enam dekade dengan prinsip-prinsip yang dapat dipahami dan diterapkan oleh investor pemula.
Baca Juga: CEO Bank of America Beri Pesan untuk Gen Z yang Sulit Mencari Pekerjaan
Melansir dari New Trader U, prinsip Buffett bukanlah skema cepat kaya, melainkan aturan teruji yang mengandalkan kesabaran, disiplin, dan logika umum dalam melipatgandakan kekayaan seiring berjalannya waktu.
Bagi investor pemula yang sering kali merasa bingung dengan jargon pasar modal, memahami lima pilar utama Buffett dapat memberikan kejelasan dalam menyusun portofolio yang tangguh. Tantangan terbesarnya bukan pada analisis teknis yang kompleks, melainkan pada kedisiplinan psikologis untuk melawan emosi pasar yang fluktuatif.
Lima Aturan Sederhana Investasi Ala Warren Buffett
Penerapan strategi Buffett membutuhkan pandangan jauh ke depan dan pengendalian diri yang kuat. Berikut adalah langkah-langkah sistematis yang menjadi fondasi keberhasilan investasinya:
- Berinvestasi pada Bidang yang Dipahami: Buffett menekankan untuk tidak pernah berinvestasi pada bisnis yang tidak dapat Anda mengerti. Hal ini disebut sebagai tetap berada dalam "lingkaran kompetensi". Jika Anda tidak bisa menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan menghasilkan uang, lebih baik hindari saham tersebut.
- Membeli Bisnis Berkualitas pada Harga yang Wajar: Menurut Buffett, jauh lebih baik membeli perusahaan luar biasa pada harga yang adil daripada membeli perusahaan biasa-biasa saja pada harga yang sangat murah. Fokuslah pada perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif atau moat, seperti merek yang kuat atau efisiensi biaya yang sulit ditiru pesaing.
- Berpikir Sebagai Pemilik, Bukan Penyewa: Jika Anda tidak bersedia memiliki saham selama sepuluh tahun, jangan pernah berpikir untuk memilikinya selama sepuluh menit. Saat membeli saham, Anda sebenarnya membeli bagian dari bisnis nyata. Fokuslah pada fundamental bisnis, bukan sekadar fluktuasi harga harian.
- Melawan Arus Emosi Pasar: Jadilah takut ketika orang lain serakah, dan jadilah serakah ketika orang lain takut. Prinsip kontrarian ini memungkinkan Buffett membeli bisnis berkualitas pada harga diskon saat pasar sedang mengalami kepanikan atau krisis.
- Fokus pada Jangka Panjang: Investasi adalah tentang menanam pohon hari ini untuk menikmati keteduhannya di masa depan. Kekuatan bunga majemuk atau compounding interest bekerja secara maksimal dalam rentang waktu puluhan tahun.
Memahami Keunggulan Kompetitif dan Harga Wajar
Menentukan kualitas sebuah bisnis merupakan langkah krusial sebelum memutuskan untuk menaruh modal. Perusahaan yang bagus biasanya memiliki kemampuan untuk menaikkan harga tanpa kehilangan pelanggan, yang memberikan perlindungan alami terhadap inflasi dan penurunan ekonomi.
Buffett sangat menyukai perusahaan dengan loyalitas merek tinggi, seperti Coca-Cola, yang telah menjadi bagian dari portofolionya selama puluhan tahun.
Dikutip dari New Trader U, harga yang murah tidak selalu berarti nilai yang baik. Investor pemula sering kali terjebak membeli saham dengan harga nominal rendah, padahal yang paling penting adalah hubungan antara harga saham dengan kekuatan laba, aset, dan prospek masa depan perusahaan tersebut.
Buffett sering kali menunggu dengan sabar hingga terjadi pesimisme pasar untuk membeli perusahaan berkualitas pada tingkat harga yang memungkinkan keuntungan substansial di kemudian hari.
Tonton: Persetujuan RKAB 2026 Belum Terbit, Tata Kelola Minerba Disorot
Kedisiplinan Psikologis dalam Berinvestasi
Aturan tentang rasa takut dan serakah adalah yang paling sulit dijalankan secara emosional. Saat portofolio turun signifikan dan media massa memprediksi kehancuran ekonomi, insting manusia biasanya akan berteriak untuk segera menjual seluruh aset guna menghindari kerugian lebih dalam. N
amun, investor sukses justru melatih diri untuk melihat momen tersebut sebagai peluang belanja aset murah.
Sebagai contohnyata dari pengalaman Warren Buffett yakni saat krisis finansial 2008 terjadi, di mana sebagian besar investor melarikan diri dari pasar saham, Buffett justru mengucurkan investasi sebesar US$ 5 miliar di Goldman Sachs.
Jika dikonversi dengan kurs Rp 16.700 per Dolar AS, nilai investasi tersebut setara dengan Rp 83,5 triliun. Langkah ini terbukti sangat presisi karena pasar kemudian pulih dan melipatgandakan nilai investasinya berkali-kali lipat.
Efek compounding atau bunga majemuk bekerja secara perlahan namun sangat kuat jika tidak diinterupsi. Investasi sebesar US$ 10.000 (sekitar Rp 167 juta) dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 10% akan menjadi US$ 67.275 (sekitar Rp 1,12 miliar) dalam 20 tahun. Jika dipertahankan hingga 40 tahun, nilainya melonjak tajam menjadi US$ 452.593 (sekitar Rp 7,55 miliar).
Kesimpulannya, strategi Buffett menuntut perubahan pola pikir dari sekadar spekulasi harga menjadi kepemilikan bisnis sejati.
Dengan meminimalkan transaksi yang tidak perlu, investor dapat menghindari biaya transaksi dan pajak yang sering kali menggerus imbal hasil bersih. Kesederhanaan aturan ini justru merupakan senjatanya yang paling ampuh bagi siapa saja yang ingin membangun kekayaan yang berkelanjutan di pasar modal.
Selanjutnya: Ketegangan AS–Venezuela Angkat Harga Bitcoin, Pasar Tetap Waspadai Volatilitas
Menarik Dibaca: Wanita Wajib Tahu! Ini 5 Makanan yang Sering Menyebabkan Kista
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












