Sumber: VN Express,Forbes | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Yan Junjie resmi masuk jajaran miliarder dunia di usia 36 tahun. Status tersebut diraih setelah MiniMax mencatatkan debut kuat di Bursa Efek Hong Kong.
Junjie adalah pendiri sekaligus chairman dan CEO perusahaan pengembang model kecerdasan buatan (AI) asal China, MiniMax Group.
Menurut Forbes, kekayaan bersih Yan Junjie kini diperkirakan mencapai US$ 3,2 miliar, seiring melonjaknya valuasi MiniMax pasca penawaran umum perdana saham (IPO) yang berlangsung pada pekan pertama Januari 2026.
Perusahaan berbasis di Shanghai itu berhasil menghimpun dana sekitar HK$ 4,8 miliar atau setara US$ 618 juta dari IPO tersebut.
Manajemen MiniMax menyatakan, sebagian besar dana segar akan dialokasikan untuk pengembangan model AI lanjutan.
Baca Juga: Kisah Sukses Lukas Podolski, Eks Arsenal yang Kini Bangun Kerajaan Kebab
Antusiasme Investor Luar Biasa Tinggi
Debut MiniMax di pasar saham mendapat sambutan positif.
Menurut Ke Yan, Head of Research DZT Research yang berbasis di Singapura, optimisme investor terhadap MiniMax didorong oleh fokus internasional perusahaan serta strategi bisnis yang menyasar klien sektor swasta.
MiniMax menawarkan model AI untuk generasi suara, gambar, dan video yang digunakan oleh pelanggan berbayar.
Yan Junjie menegaskan bahwa masa depan AI tidak boleh hanya dinikmati segelintir pihak.
“Seiring kemampuan AI terus meningkat, kita harus bertanya: apakah model-model ini akan terkonsentrasi pada segelintir orang dengan biaya US$ 1.000 per bulan, atau dapat diakses masyarakat luas dengan harga US$ 20?” ujarnya, seperti dikutip VN Express.
Baca Juga: Game Crowdfunding Senilai Rp 5 Miliar Gagal Rilis, YouTuber Naruni Siap Refund
Perjalanan Karier Yan Junjie
Sebelum mendirikan MiniMax pada tahun 2021, Yan Junjie menghabiskan lebih dari enam tahun berkarier di perusahaan AI yang terdaftar di bursa Hong Kong, SenseTime.
Di sana, ia menjabat sebagai wakil kepala institut riset, sebagaimana tercantum dalam prospektus IPO MiniMax.
Ketertarikan Yan terhadap AI generatif bermula pada 2019, saat bot OpenAI berhasil mengalahkan tim manusia elite dunia dalam gim arena pertempuran DOTA 2.
Secara perlahan, Yan mulai terobsesi mempelajari riset OpenAI, hingga akhirnya memutuskan beralih fokus dari computer vision ke natural language processing (NLP) yang menjadi dasar dari lahirnya MiniMax.
Baca Juga: Patrick Collison: Bangun Stripe, Jadi Miliarder Fintech Paling Berpengaruh di Dunia
Ekspansi Agresif Mengundang Ratusan Juta Pengguna
Dalam tiga tahun awal, perusahaan menghadapi skeptisisme luas dari industri.
“Saat itu, kami menghadapi sinisme total. Saya berbicara dengan kepala teknis dari dua raksasa teknologi terbesar di China, dan mereka secara blak-blakan mengatakan bahwa visi kami hanyalah tipuan,” ujar Yan, dikutip dari Bloomberg.
Yan tetap bertahan dengan strategi efisiensi pengembangan sebagai prioritas utama. Upaya tersebut mulai membuahkan hasil.
Hingga kini, MiniMax telah mencatat sekitar 212 juta pengguna kumulatif. Misi perusahaan untuk mengekspor AI berbiaya efisien mulai menunjukkan keberhasilan awal.
Mengutip VN Express, pada sembilan bulan pertama 2025, pendapatan perusahaan hampir tiga kali lipat menjadi US$ 53,4 juta.
Di sisi lain, kerugian juga melebar hampir 70% secara tahunan menjadi US$ 512 juta, mencerminkan besarnya belanja riset dan pengembangan.
Salah satu klien utama MiniMax adalah raksasa gim China, miHoYo, yang dikenal lewat gim mobile populer seperti Genshin Impact. Menariknya, miHoYo juga tercatat sebagai investor awal MiniMax.
Baca Juga: Daftar 5 Orang Terkaya Asia Tenggara Awal 2026: Miliarder Indonesia Mendominasi
Selanjutnya: Promo Indomaret 15-21 Januari 2026, Silver Queen & Mie Sedaap Hemat
Menarik Dibaca: 5 Alasan Ilmiah Membersihkan Rumah Jadi Kunci Meningkatkan Mood dan Kontrol Diri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
