kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.968.000   52.000   1,78%
  • USD/IDR 16.734   -57,00   -0,34%
  • IDX 8.321   -659,67   -7,35%
  • KOMPAS100 1.149   -90,86   -7,33%
  • LQ45 813   -63,58   -7,26%
  • ISSI 305   -25,64   -7,75%
  • IDX30 418   -26,36   -5,93%
  • IDXHIDIV20 493   -25,93   -4,99%
  • IDX80 127   -10,53   -7,65%
  • IDXV30 138   -5,68   -3,95%
  • IDXQ30 134   -8,31   -5,83%
SOSOK /

Modal Startup Canada Hanyut ke AS: Peluang Bisnis Raksasa Terlewat?


Rabu, 28 Januari 2026 / 16:14 WIB
Modal Startup Canada Hanyut ke AS: Peluang Bisnis Raksasa Terlewat?
ILUSTRASI. Modal Startup Canada Hanyut ke AS: Peluang Bisnis Raksasa Terlewat? (NULL/Istimewa)

Sumber: CTV News | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Fenomena migrasi talenta teknologi dari Kanada menuju Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah startup Internet Backyard memutuskan untuk memindahkan basis operasionalnya ke San Francisco.

Keputusan strategis ini diambil oleh duet pendiri muda, Mai Trinh dan Gabriel Ravacci, guna mengejar akselerasi skala bisnis yang lebih masif di ekosistem Silicon Valley.

Internet Backyard merupakan perusahaan rintisan yang fokus pada penyediaan infrastruktur keuangan untuk ekonomi komputer melalui otomatisasi perangkat lunak penagihan dan keuangan.

Baca Juga: Laurent Simons, Remaja 15 Tahun Pecahkan Fisika Kuantum & Kejar PhD Medis!

Meskipun baru berkembang, startup ini telah mencatatkan valuasi pasca-pendanaan sebesar US$ 25 juta atau setara dengan Rp 393,18 miliar (asumsi kurs Rp 15.727 per US$).

Melansir dari CTV News, Mai Trinh mengungkapkan bahwa tantangan regulasi migrasi dan keterbatasan infrastruktur pendanaan di Kanada menjadi faktor utama di balik kepindahan mereka.

Trinh mengibaratkan Kanada sebagai sosok menarik namun sangat sulit untuk dijalani dalam sebuah hubungan, yang merefleksikan hambatan birokrasi bagi pengusaha muda.

Hambatan Visa dan Akses Modal Ventura

Salah satu kendala fundamental yang dihadapi para pendiri Gen Z ini berkaitan dengan status izin tinggal.

Sebagai mahasiswa internasional asal Vietnam dan Brasil, Trinh dan Ravacci kesulitan memenuhi syarat residensi permanen melalui sistem skor Comprehensive Ranking System (CRS) di Kanada tanpa bekerja pada pemberi kerja lain.

Bersumber dari CTV News, program Startup Visa di Kanada saat ini memiliki daftar tunggu hingga 10 tahun, yang dinilai tidak realistis bagi pertumbuhan startup teknologi yang serba cepat. Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi hambatan bagi pengusaha teknologi di Kanada:

  • Sistem Skor Imigrasi: Skor minimal untuk residensi permanen terus meningkat, memaksa pengusaha untuk bekerja di perusahaan lain alih-alih membangun bisnis sendiri.
  • Waktu Tunggu Visa: Antrean panjang pada program visa khusus startup menghambat mobilitas talenta internasional.
  • Kesenjangan Modal: Ekosistem modal ventura (VC) di Kanada sulit bersaing dengan firma di AS dalam hal ketersediaan modal tahap awal.

Internet Backyard berhasil menutup putaran pendanaan sebesar US$ 4,5 juta atau sekitar Rp 70,77 miliar hanya dalam waktu satu minggu setelah melakukan inkorporasi di Delaware, AS.

Sebagai perbandingan, total pendanaan tahap awal (pre-seed) di seluruh wilayah Kanada Barat pada kuartal pertama 2025 hanya mencapai US$ 3 juta atau setara Rp 47,18 miliar.

Baca Juga: Kekayaan Ellison Tergerus: Saham Oracle Anjlok, Miliarder Tersalip!

Tren Brain Drain Talenta STEM ke Amerika Serikat

Migrasi Internet Backyard mempertegas tren pelarian talenta atau brain drain yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Mengutip studi berjudul Reversing the Brain Drain: Where is Canadian STEM Talent Going?, sekitar 80% lulusan bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) yang pindah ke luar negeri memilih Amerika Serikat sebagai tujuan utama.

Studi tersebut mencatat bahwa 66% mahasiswa teknik perangkat lunak dan 30% lulusan ilmu komputer meninggalkan Kanada segera setelah lulus.

Alasan utamanya adalah tingkat kompensasi yang lebih tinggi serta keberadaan perusahaan-perusahaan teknologi berskala global di New York atau San Francisco.

Trinh menyebutkan bahwa kebijakan visa di Amerika Serikat, seperti H-1B dan visa kategori E, jauh lebih mudah diakses bagi lulusan baru dibandingkan regulasi di Kanada.

Ironisnya, tiga minggu lalu departemen imigrasi Kanada secara resmi mengumumkan penghentian penerimaan aplikasi baru di bawah Program Start-Up Visa, yang semakin mempersempit ruang bagi pengusaha asing.

Tonton: Ahok Blak-blakan, Keluar dari Pertamina karena Tak Sejalan dengan Jokowi

Potensi Sektor Pusat Data di Tengah Kendala Kebijakan

Meski memutuskan pindah, Trinh mengakui bahwa Kanada sebenarnya memiliki keunggulan kompetitif yang besar di industri pusat data (data center).

Dukungan ketersediaan lahan, akses air, energi yang melimpah, serta iklim yang lebih dingin menjadi modal kuat bagi pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Internet Backyard sendiri telah meluncurkan dua proyek percontohan dengan pelanggan di Vancouver. Trinh menyatakan keinginannya untuk kembali ke Kanada apabila pemerintah melakukan perubahan kebijakan, terutama terkait manajemen energi pusat data dan penyederhanaan birokrasi visa bagi pengusaha.

Tanpa adanya insentif yang kuat untuk membangun perusahaan secara lokal, Kanada berisiko kehilangan generasi pengusaha teknologi berikutnya.

Kepindahan startup senilai puluhan juta dolar ini menjadi pengingat bagi pengambil kebijakan mengenai pentingnya sinkronisasi antara aturan imigrasi dan kebutuhan ekosistem ekonomi digital yang kompetitif.

Selanjutnya: Virus Nipah India Ancam Asia Tenggara, Singapura Ketatkan Pengawasan

Menarik Dibaca: Masuki Usia 35 Tahun, Ini Upaya McDonalds Indonesia Untuk Konsumen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

×