kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.968.000   52.000   1,78%
  • USD/IDR 16.734   -57,00   -0,34%
  • IDX 8.321   -659,67   -7,35%
  • KOMPAS100 1.149   -90,86   -7,33%
  • LQ45 813   -63,58   -7,26%
  • ISSI 305   -25,64   -7,75%
  • IDX30 418   -26,36   -5,93%
  • IDXHIDIV20 493   -25,93   -4,99%
  • IDX80 127   -10,53   -7,65%
  • IDXV30 138   -5,68   -3,95%
  • IDXQ30 134   -8,31   -5,83%
SOSOK /

Laurent Simons, Remaja 15 Tahun Pecahkan Fisika Kuantum & Kejar PhD Medis!


Rabu, 28 Januari 2026 / 16:08 WIB
Laurent Simons, Remaja 15 Tahun Pecahkan Fisika Kuantum & Kejar PhD Medis!
ILUSTRASI. Laurent Simons, Remaja 15 Tahun Pecahkan Fisika Kuantum & Kejar PhD Medis! (Dok. Reuters/Reuters)

Sumber: Times of India | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -   Dunia sains internasional tengah menaruh perhatian besar pada sosok Laurent Simons, remaja asal Belgia yang baru saja mencatatkan pencapaian akademik luar biasa.

Di usianya yang baru menginjak 15 tahun, Simons telah berhasil mempertahankan disertasi doktoralnya di bidang fisika kuantum pada University of Antwerp.

Pencapaian ini menempatkan dirinya sebagai salah satu ilmuwan muda dengan perkembangan akademik tercepat di dunia saat ini.

Baca Juga: Kekayaan Ellison Tergerus: Saham Oracle Anjlok, Miliarder Tersalip!

Keberhasilan Simons meraih gelar PhD tidak hanya menarik karena faktor usianya yang sangat muda, tetapi juga karena disiplin ilmu yang ia pilih.

Fisika kuantum dikenal sebagai salah satu bidang ilmu paling kompleks yang membutuhkan penguasaan matematika tingkat tinggi serta pemahaman konsep abstrak yang mendalam.

Simons mampu melampaui tahapan akademik yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikuasai oleh peneliti dewasa.

Fokus Riset pada Partikel Bose Polaron

Penelitian doktoral Simons mengeksplorasi perilaku partikel dalam kondisi kuantum ekstrem. Fokus utama risetnya adalah mengenai Bose polaron, yakni sebuah partikel tunggal yang bergerak melalui "lautan" kuantum ultra-dingin dari partikel lainnya.

Saat bergerak, partikel tersebut mengganggu lingkungan sekitarnya, dan interaksi tersebut kemudian membentuk kembali perilaku partikel itu sendiri.

Melansir laporan Times of India, istilah "Bose" dalam penelitian Simons merujuk pada fisikawan asal India, Satyendra Nath Bose.

Karya-karya Bose merupakan fondasi utama teori kuantum modern, termasuk konsep Bose-Einstein condensate yang dikembangkan bersama Albert Einstein.

Bidang ini tetap menjadi pusat penelitian kuantum tingkat lanjut hingga saat ini, terutama dalam mempelajari keadaan materi pada suhu yang sangat rendah.

Baca Juga: Skandal Suap Huawei Singapura: Eks Direktur Dijebloskan ke Penjara

Kedua orang tua Laurent, Alexander dan Lydia Simons, menyatakan bahwa kemampuan putra mereka mulai terlihat sejak dini.

Mengutip wawancara dengan media, Alexander mendeskripsikan Laurent seperti "spons" yang mampu menyerap informasi dengan kecepatan di luar nalar kelas konvensional.

Meski demikian, pihak keluarga tetap berupaya menjaga Laurent agar tetap rendah hati dan memprioritaskan lingkungan akademik yang tepat dibandingkan sekadar mengejar pemberitaan media.

PhD Kedua: Menggabungkan AI dan Ilmu Medis

Setelah menuntaskan gelar doktoral di bidang fisika, Simons kini tengah menempuh jalur PhD kedua di bidang ilmu kedokteran.

Riset terbarunya berfokus pada penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat penemuan biomedis. Integrasi antara teknologi komputasi dan biologi dipandang sebagai salah satu batas riset paling menjanjikan dalam satu dekade terakhir.

Penggunaan AI dalam dunia medis sangat krusial karena biologi modern menghasilkan data dalam jumlah masif, mulai dari pemetaan genetik hingga hasil pemindaian laboratorium.

Dikutip dari Times of India, penerapan AI dalam bidang ini dapat memberikan kontribusi pada beberapa aspek strategis, antara lain:

  • Deteksi penyakit secara lebih dini dan akurat.
  • Percepatan proses penemuan obat-obatan baru (drug discovery).
  • Dukungan diagnosis yang lebih presisi melalui pengolahan data besar.
  • Pengembangan pendekatan personal dalam perawatan pasien.
  • Prediksi hasil pengobatan berdasarkan pola data historis.

Tonton: Antam (ANTM) Buka Suara Soal Potensi Ambil Alih Tambang Agincourt

Ambisi Memperpanjang Masa Hidup Manusia

Tujuan jangka panjang dari riset Simons di bidang biomedis berbasis AI adalah longevity atau perpanjangan masa hidup manusia.

Secara saintifik, fokus ini diarahkan pada upaya menjaga kesehatan manusia lebih lama, mencegah penurunan fungsi biologis sejak dini, serta mengurangi beban penyakit yang berkaitan dengan usia (age-related diseases).

Riset mengenai panjang usia menyentuh tantangan medis terbesar saat ini, termasuk risiko kanker, penyakit kardiovaskular, neurodegenerasi, hingga kerusakan sistem biologis seiring berjalannya waktu.

Dengan kemampuan berpikir analitis yang diasah melalui fisika kuantum, Simons memposisikan dirinya untuk memberikan terobosan pada cara manusia menua dan bagaimana penyakit kronis ditangani di masa depan.

Perjalanan Laurent Simons menunjukkan sebuah kombinasi langka antara kecerdasan luar biasa dan visi ilmiah yang jelas.

Jika PhD pertamanya menempatkan Simons di bawah sorotan global, arah PhD keduanya menunjukkan ambisi untuk memberikan dampak nyata pada skala luas bagi kesehatan manusia.

Pergeseran dari master fisika kuantum ke penelitian biomedis menandakan keinginannya untuk menerapkan ilmu pengetahuan abstrak ke dalam solusi praktis bagi masa depan kedokteran.

Selanjutnya: IHSG Anjlok 8%, Pemerintah: Murni Karena Laporan MSCI

Menarik Dibaca: Masuki Usia 35 Tahun, Ini Upaya McDonalds Indonesia Untuk Konsumen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

×