Sumber: Times of India | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Filantropis sekaligus mantan istri pendiri Amazon Jeff Bezos, MacKenzie Scott, kembali menarik perhatian dunia.
Sepanjang tahun 2025, Scott dilaporkan telah melepas hampir separuh kepemilikan sahamnya di raksasa e-commerce Amazon.
Langkah divestasi ini bukan tanpa alasan. Dana hasil penjualan saham tersebut dialokasikan secara masif untuk mendukung berbagai inisiatif sosial dan lembaga pendidikan di seluruh dunia.
Aksi ini mempertegas posisi Scott sebagai salah satu donor paling aktif di panggung global saat ini.
Baca Juga: Profil Lee Jae Yong, Pemimpin Samsung yang Jadi Orang Terkaya di Korea Selatan
Nilai Divestasi dan Rekor Donasi 2025
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Times of India, MacKenzie Scott menjual saham Amazon miliknya senilai US$ 13 miliar pada tahun 2025.
Dengan menggunakan kurs terbaru saat ini sebesar Rp 16.750 per US$, nilai penjualan tersebut setara dengan Rp 217,75 triliun.
Penjualan ini secara signifikan mengurangi kepemilikannya di perusahaan yang bermarkas di Seattle tersebut hingga hampir setengahnya.
Setelah likuidasi aset tersebut, Scott langsung mengucurkan dana hibah dalam jumlah fantastis.
Pada tahun 2025 saja, Scott mendonasikan US$ 7,1 miliar atau sekitar Rp 118,92 triliun kepada organisasi non-profit. Angka ini tercatat sebagai total donasi tahunan terbesar yang pernah ia berikan sejak memulai aksi filantropinya.
Secara kumulatif, total kekayaan yang telah didonasikan oleh wanita berusia 55 tahun ini telah menembus angka US$ 26 miliar atau setara Rp 435,5 triliun sejak tahun 2019.
Pola pemberian hibah Scott dikenal unik karena bersifat unrestricted atau tanpa ikatan, sehingga penerima bantuan memiliki kebebasan penuh untuk mengelola dana tersebut.
Komitmen pada Pendidikan dan Kesetaraan
Sektor pendidikan menjadi salah satu pilar utama dalam distribusi dana hibah Scott. Mengutip laporan Fortune, Scott memberikan donasi lebih dari US$ 700 juta atau sekitar Rp 11,72 triliun kepada perguruan tinggi dan universitas historis bagi warga kulit hitam (Historically Black Colleges and Universities/HBCUs) sepanjang tahun lalu.
Dukungan ini terus berlanjut dengan rincian kontribusi sebagai berikut:
- Total dana untuk HBCUs kini mencapai lebih dari US$ 1,2 miliar (Rp 20,1 triliun).
- Donasi tunggal senilai US$ 80 juta (Rp 1,34 triliun) diberikan kepada Howard University, menandai salah satu donasi terbesar dalam sejarah 158 tahun sekolah tersebut.
- Pemberian dana hibah mencakup lebih dari ratusan organisasi non-profit lintas sektor di berbagai negara.
Salah satu motivasi di balik gerakan filantropi Scott disebut-sebut dipengaruhi oleh hubungannya dengan mendiang Toni Morrison, penulis pemenang Nobel yang merupakan mentornya di Princeton University.
Scott menilai dedikasi Morrison terhadap kemanusiaan menjadi inspirasi utama dalam menjalankan kegiatan amalnya.
Tonton: Pemprov DKI Bongkar 90 Tiang Monorel di Jalan HR Rasuna Said dan Senayan Mulai 14 Januari
Kontras dengan Kebijakan Korporasi Teknologi
Aksi masif MacKenzie Scott dalam mendukung keberagaman dan kesetaraan terjadi di tengah tren efisiensi yang dilakukan oleh banyak perusahaan teknologi besar.
Sejumlah raksasa Silicon Valley justru mulai mengurangi anggaran untuk program Diversity, Equity, and Inclusion (DEI).
Menurut laporan Wall Street Journal, beberapa langkah efisiensi yang diambil perusahaan teknologi global meliputi:
- Google: Menghapuskan target perekrutan berbasis keberagaman pada tahun 2025.
- Microsoft: Melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap tim internal DEI pada Juli tahun lalu karena perubahan kebutuhan bisnis.
- Meta: Menghilangkan beberapa program DEI yang menargetkan pemasok serta pelatihan, serta membubarkan tim khusus DEI untuk menghindari kesan pengambilan keputusan berdasarkan latar belakang gender atau ras.
- Amazon: Mulai menarik program-program lama yang dianggap tidak lagi relevan dan menghapus laporan mengenai DEI dari berkas tahunan 10-K terbaru.
Meskipun banyak korporasi memilih untuk merampingkan inisiatif sosial mereka demi mengejar profitabilitas dan efisiensi operasional, langkah Scott yang justru meningkatkan donasi menunjukkan perbedaan arah yang kontras.
Bagi investor, pergerakan saham Scott di Amazon tetap menjadi perhatian, mengingat volume penjualan saham yang cukup besar dapat memengaruhi dinamika kepemilikan di salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut.
Selanjutnya: Update Terbaru Kurs Transaksi BI 9 Januari 2026: Dolar AS, Euro, dan Pound Sterling
Menarik Dibaca: Permasalahan Usia Anak dan Remaja yang Paling Sering Dikonsultasikan ke Psikolog
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













