Sumber: Yahoo Finance | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Membangun kekayaan dari nol seringkali dianggap sebagai tantangan mustahil bagi investor pemula. Namun, bagi Warren Buffett, sang "Oracle of Omaha", kunci keberhasilan investasi tidak terletak pada besarnya modal awal, melainkan pada disiplin dan strategi yang tepat.
Dalam sebuah sesi pertemuan pemegang saham, Buffett pernah memaparkan bagaimana dirinya akan memulai kembali jika hanya memiliki modal US$ 10.000 atau sekitar Rp168,56 juta(kurs Rp 16.856 per US$).
Meski angka ini terlihat moderat bagi kelas investor institusi, Buffett meyakini modal tersebut sudah lebih dari cukup untuk membangun aset raksasa di masa depan.
Melansir Yahoo Finance, Buffett menekankan bahwa kunci utamanya adalah membeli bisnis yang baik, atau potongan kecil dari bisnis yang disebut saham, pada harga yang atraktif. Berikut adalah tiga strategi fundamental Buffett yang tetap relevan untuk diterapkan pada tahun 2026.
Baca Juga: Lonjakan Saham AI: Musk Cetak US$639 Miliar, 7 Taipan Tembus Lebih dari US$200 Miliar
1. Fokus pada Lingkaran Kompetensi
Strategi pertama yang selalu ditekankan Buffett adalah berinvestasi pada bidang yang benar-benar dipahami.
Buffett menerapkan mantra dari pendiri IBM, Tom Watson Sr., yang menyatakan bahwa rahasia kesuksesan adalah tetap berada di area di mana seseorang merasa pintar atau ahli, atau yang disebut sebagai circle of competency.
Dengan berfokus pada industri yang dipahami dan menghindari godaan untuk mengejar tren yang tidak dikuasai, investor dapat membangun portofolio dengan pendekatan yang lebih sabar. Namun, Buffett memberikan catatan penting mengenai volatilitas pasar.
"Anda harus siap, ketika membeli saham, harganya bisa turun 50% atau lebih, dan Anda harus tetap merasa nyaman selama Anda yakin dengan kepemilikan tersebut," ujar Buffett dikutip dari laporan pertemuan pemegang saham Berkshire Hathaway tahun 2020.
2. Memanfaatkan Efek Bola Salju Sejak Dini
Keberhasilan investasi Buffett sangat dipengaruhi oleh faktor waktu. Beliau mulai membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun dan masih aktif hingga usia sembilan puluhan.
Buffett sering menggunakan metafora bola salju untuk menjelaskan kekuatan bunga majemuk (compound interest).
"Kami memulai dengan bola salju kecil di atas bukit yang sangat tinggi," ungkap Buffett melansir Yahoo Finance. Semakin lama bola salju tersebut menggelinding ke bawah, maka ukurannya akan semakin besar secara eksponensial.
Sebagai gambaran nyata dari kekuatan waktu, sebagian besar kekayaan Buffett justru terakumulasi setelah beliau berusia 65 tahun.
Menurut data Bloomberg, pada tahun 1999, kekayaan bersih Buffett tercatat sekitar US$ 30 miliar (sekitar Rp 505,6 triliun). Kini, angka tersebut telah melonjak hampir lima kali lipat menjadi sekitar US$ 150 miliar atau setara dengan Rp 2.528,4 triliun.
3. Mencari Peluang di Perusahaan Kecil
Jika harus memulai kembali dengan dana US$ 10.000 atau Rp 168,56 juta, Buffett mengaku akan mengincar perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil (small-cap).
Menurutnya, bekerja dengan jumlah dana yang lebih kecil memberikan peluang untuk menemukan permata tersembunyi yang sering terabaikan oleh investor besar.
Tonton: CEO Exxon Sebut Venezuela Tak Layak Investasi, Trump Meradang
Dalam sejarah perjalanannya, Buffett pernah melakukan langkah-langkah berikut:
- Akuisisi perusahaan furnitur kecil di Nebraska pada tahun 1983 saat perusahaan tersebut baru mulai berekspansi.
- Pembelian See’s Candies pada tahun 1972, yang kala itu hanya menghasilkan laba tahunan sebesar US$ 4 juta (sekitar Rp 67,42 miliar dengan kurs saat ini).
Perusahaan-perusahaan kecil ini memiliki ruang tumbuh yang jauh lebih luas dibandingkan perusahaan raksasa. Hal ini memungkinkan investor untuk membeli di harga murah dan memanen keuntungan saat bisnis tersebut berekspansi besar-besaran.
Pentingnya Rasionalitas dan Efisiensi
Mendiang mitra bisnis Buffett, Charlie Munger, juga memberikan perspektif berharga mengenai akumulasi kekayaan. Menurut Munger, bagian tersulit bagi kebanyakan orang adalah mengumpulkan US$ 100.000 pertama (sekitar Rp 1,68 miliar).
Dikutip dari Yahoo Finance, Munger berpendapat bahwa individu yang berhasil mencapai angka tersebut dengan cepat biasanya memiliki tiga faktor pendukung:
- Semangat untuk tetap rasional dalam setiap keputusan finansial.
- Sikap yang sangat antusias dan oportunistik terhadap peluang pasar.
- Kedisiplinan untuk hidup jauh di bawah kemampuan pendapatan mereka (underspend income grossly).
Pesan fundamental dari para begawan investasi ini adalah bahwa penghematan pendapatan untuk kemudian dialokasikan ke dalam instrumen investasi merupakan fondasi utama dalam membangun "dana pensiun" yang serius.
Dengan memulai sedini mungkin dan tetap disiplin pada sektor yang dikuasai, modal awal sebesar US$ 10.000 bukan tidak mungkin menjelma menjadi sebuah kekayaan besar di masa depan.
Selanjutnya: Tekanan Investor Memuncak, CEO Heineken Dolf van den Brink Lepas Jabatan
Menarik Dibaca: Promo Alfamart Kebutuhan Dapur sampai 15 Januari 2026, Aneka Sarden Mulai Rp 8.900
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












