Sumber: Yahoo Finance | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, strategi alokasi aset tradisional mulai dipertanyakan oleh sejumlah investor papan atas.
Salah satu langkah paling mencolok datang dari miliarder asal Hong Kong, Cheah Cheng Hye, yang secara konsisten memindahkan porsi signifikan kekayaannya ke dalam bentuk emas fisik.
Cheah, yang merupakan pendiri perusahaan manajemen aset Value Partners Group, meyakini bahwa memiliki aset yang dapat disentuh secara fisik adalah perlindungan terbaik saat ini.
Baca Juga: Profil Thomas Djiwandono: Keponakan Presiden Prabowo di Kursi Deputi Gubernur BI
Dilansir dari Yahoo Finance, portofolio keluarga Cheah diperkirakan menempatkan sekitar 25% dari total kekayaan senilai US$ 1,4 miliar ke dalam logam mulia.
Jika dikonversi menggunakan kurs terbaru sebesar Rp 16.765 per Dolar AS, nilai total portofolio tersebut setara dengan Rp 23,47 triliun, di mana sekitar Rp 5,86 triliun di antaranya tersimpan dalam bentuk emas.
Angka alokasi ini tergolong sangat agresif dibandingkan rata-rata investor ultra kaya dunia lainnya yang menurut laporan UBS Global Family Office 2025 hanya menempatkan sekitar 2% kekayaan mereka pada emas pada 2024.
Keamanan Emas Fisik di Tengah Ketidakpercayaan Finansial
Filosofi investasi Cheah Cheng Hye didasari oleh sikap skeptis terhadap sistem keuangan Barat dan risiko sanksi internasional.
Ia menegaskan bahwa ketika seorang investor memegang emas fisik di dalam brankas bank atau gudang penyimpanan, ia tidak sedang memegang janji utang dari pihak mana pun.
Hal ini berbeda dengan aset kertas atau instrumen keuangan digital yang nilainya sangat bergantung pada stabilitas lembaga penerbit maupun yurisdiksi politik tertentu.
Melansir Yahoo Finance, Cheah berpendapat bahwa dunia saat ini sedang memasuki periode perpindahan aset besar-besaran atau yang ia sebut sebagai vault flight.
Pembekuan aset Rusia pada tahun 2022 serta ketegangan yang melibatkan negara-negara seperti Venezuela dan Iran menjadi pemicu bagi keluarga kaya di Asia untuk merepatriasi dana mereka.
Langkah ini diambil guna mengamankan kekayaan dari potensi penyitaan aset atau dampak sanksi dari otoritas Amerika Serikat.
Keyakinan Cheah terhadap emas fisik juga diwujudkan secara institusional melalui peluncuran Value Gold ETF pada tahun 2010. Dana kelolaan ini dirancang khusus untuk menyimpan emas batangan fisik di fasilitas gudang pemerintah di bandara Hong Kong.
Saat ini, Cheah tercatat sebagai pemegang saham terbesar dalam dana tersebut dengan kepemilikan senilai US$ 167 juta atau sekitar Rp 2,79 triliun.
Baca Juga: Warren Buffett: Ubah Kejatuhan Pasar Jadi Untung Triliunan!
Rekor Harga Emas dan Pergeseran Strategi Portofolio
Optimisme Cheah terhadap logam mulia sejalan dengan performa pasar yang luar biasa sepanjang awal tahun ini. Pada 24 Januari 2026, harga emas dunia mencetak sejarah baru dengan menembus level US$ 5.000 per ons untuk pertama kalinya.
Kenaikan tajam ini didorong oleh aksi borong emas oleh bank-bank sentral dunia yang berupaya melakukan lindung nilai terhadap fluktuasi Dolar AS, seiring dengan dinamika kebijakan perdagangan di bawah pemerintahan Donald Trump.
Melihat kondisi tersebut, Cheah Cheng Hye menyarankan investor untuk merombak komposisi portofolio mereka guna menghadapi guncangan masa depan. Berikut adalah pembagian alokasi aset yang direkomendasikan oleh miliarder berusia 71 tahun tersebut:
- Saham (Equities): Alokasi sebesar 60% untuk mengejar pertumbuhan.
- Obligasi (Bonds): Alokasi sebesar 20% sebagai instrumen pendapatan tetap.
- Logam Mulia (Precious Metals): Alokasi sebesar 20% dengan emas sebagai aset pengaman utama.
Selain emas, Cheah juga menyukai perak yang harganya tercatat melonjak hingga tiga kali lipat dalam setahun terakhir.
Mengutip analisis dari JPMorgan, potensi penguatan harga emas diprediksi masih akan berlanjut jika investor asing terus melakukan diversifikasi keluar dari obligasi pemerintah Amerika Serikat (Treasury Bonds).
Pandangan Baru Tokoh Finansial Global
Meskipun strategi Cheah sempat dianggap tidak lazim, beberapa tokoh besar di Wall Street mulai menunjukkan pandangan serupa.
CEO JPMorgan, Jamie Dimon, sempat menyatakan bahwa memiliki emas dalam portofolio merupakan langkah yang rasional dalam kondisi saat ini.
Senada dengan hal tersebut, Jeffrey Gundlach, yang dikenal sebagai "Raja Obligasi", menyebut emas telah menjadi kelas aset nyata yang memiliki nilai fundamental kuat bagi para pengelola dana besar.
Tonton: BGN Tegaskan Tidak Ada Pemaksaan Jika Ada Sekolah Tolak MBG
Bagi Cheah Cheng Hye, investasi adalah tentang memahami harapan dan ketakutan masyarakat dalam konteks sejarah dan budaya.
Dengan latar belakang karier sebagai jurnalis keuangan di Asian Wall Street Journal sebelum terjun ke dunia manajemen aset, ia menekankan bahwa keberhasilan investasi sangat bergantung pada pemahaman terhadap seluruh faktor yang mempengaruhi psikologi pasar.
Strategi alokasi 25% pada emas ini menjadi referensi penting bagi para investor, termasuk di Indonesia, mengenai pentingnya diversifikasi aset di luar instrumen konvensional.
Di tengah volatilitas pasar global, memegang aset fisik yang memiliki nilai intrinsik tetap menjadi salah satu pilihan utama untuk menjaga ketahanan finansial jangka panjang.
Selanjutnya: Promo Indomaret Harga Spesial 27 Januari-9 Februari 2026, Body Care Diskon hingga 30%
Menarik Dibaca: Promo Indomaret Harga Spesial 27 Januari-9 Februari 2026, Body Care Diskon hingga 30%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













