Sumber: Investopedia | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Dalam dinamika pasar modal global, Warren Buffett tetap menjadi kompas bagi para pelaku pasar yang mengutamakan ketenangan di tengah gejolak.
Saat mayoritas investor cenderung memburu keuntungan jangka pendek, sang "Oracle of Omaha" justru memilih langkah-langkah senyap atau quiet moves. Strategi ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah respons terukur terhadap kondisi valuasi pasar saham yang dinilai sudah terlampau mahal dan melampaui nilai wajar.
Langkah yang diambil melalui Berkshire Hathaway ini memberikan pelajaran krusial mengenai disiplin investasi dan fokus pada nilai jangka panjang.
Baca Juga: Bos Bursa Saham NYSE Ungkap Rahasia Sukses: Kurasi Ide dan Rekrut Orang Pintar
Bagi para investor dan pembaca bisnis yang ingin menjaga stabilitas portofolio, pendekatan Buffett menjadi referensi penting dalam menghadapi fase pasar yang penuh ketidakpastian serta risiko gelembung aset.
Dilansir dari Investopedia, strategi ini mencerminkan sikap hati-hati Buffett terhadap aset berisiko yang harganya dianggap tidak lagi kompetitif untuk dibeli secara agresif.
Menimbun Likuiditas di Tengah Valuasi Premium
Langkah paling menonjol dari Buffett saat ini adalah keputusannya untuk menahan diri dari aksi pembelian besar. Dikutip dari Investopedia, cadangan kas dan surat berharga jangka pendek Berkshire Hathaway pada tahun 2025 menyentuh angka US$ 340 miliar.
Jika dikonversi dengan kurs hari ini Rp16.773 per Dolar AS, nilai tersebut setara dengan Rp 5.702,8 triliun, sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan tersebut berdiri.
Buffett bahkan menghentikan program pembelian kembali saham (share buyback) perusahaannya sendiri karena menilai harganya sudah tidak lagi memberikan margin keamanan yang cukup. Berikut adalah inti dari sikap sabar sang investor kawakan:
- Menghindari Harga Tinggi: Menolak melakukan ekspansi portofolio saat level valuasi pasar dianggap sudah tidak logis.
- Memperkuat Cadangan Kas: Mengumpulkan likuiditas jumbo sebagai persiapan untuk melakukan pembelian besar saat pasar terkoreksi.
- Prioritas Nilai Wajar: Mempertahankan disiplin untuk hanya membeli aset yang harganya berada di bawah atau setara dengan nilai intrinsik.
Langkah ini menunjukkan bahwa dalam investasi, terkadang keputusan terbaik adalah tidak bertindak sama sekali dan menunggu hingga peluang sejati dengan harga yang masuk akal muncul kembali.
Optimalisasi Portofolio dan Diversifikasi Sektor
Selain menumpuk kas, Buffett tetap melakukan evaluasi tajam terhadap aset yang sudah dimiliki. Ia melakukan aksi jual pada sebagian saham Apple, yakni sekitar 20 juta lembar, meskipun perusahaan teknologi tersebut tetap menjadi aset terbesarnya.
Langkah ini menjadi bukti bahwa loyalitas dalam investasi harus tetap didasarkan pada perhitungan valuasi yang objektif.
Dana hasil penjualan tersebut kemudian dialokasikan secara selektif ke sektor-sektor yang dinilai memiliki prospek jangka panjang kuat namun saat ini sedang berada dalam posisi undervalued.
Tonton: TEKAD OJK BARU: SIKAT PENGGORENG SAHAM
Sektor asuransi, energi, dan konstruksi rumah menjadi sasaran baru karena dianggap memiliki ketahanan yang lebih baik saat ekonomi bergejolak.
Disiplin ini menegaskan bahwa investor tidak boleh terjebak dalam euforia pasar dan harus berani mengambil untung (profit taking) pada aset yang harganya sudah naik terlalu tinggi.
Fokus pada Aset Riil dengan Arus Kas Konsisten
Di tengah sikap hati-hatinya, Buffett tetap berani menggelontorkan dana besar untuk aset riil yang produktif. Salah satunya adalah investasi pada OxyChem, unit petrokimia milik Occidental Petroleum, dengan nilai mencapai US$ 9,7 miliar atau setara dengan Rp 162,69 triliun.
Keputusan ini menggarisbawahi preferensi Buffett terhadap bisnis yang memiliki model usaha kokoh serta kemampuan menghasilkan arus kas stabil secara berkelanjutan.
Aset seperti energi dan infrastruktur dipilih karena memiliki daya tahan terhadap inflasi serta kekuatan harga di pasar.
Strategi "gerakan diam" ini membuktikan bahwa keberhasilan investasi bukan tentang seberapa sering kita bertransaksi, melainkan tentang kualitas aset dan kesabaran dalam menjaga prinsip fundamental.
Selanjutnya: Harga Minyak Tersulut Sentimen AS-Iran, Tapi Prediksi Surplus Minyak Membayangi
Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













