Sumber: Business Insider Africa | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Tren elektrifikasi kendaraan global terus merambah ke pasar-pasar non-tradisional.
Yuma Sasaki, seorang pengusaha asal Jepang, berhasil menarik perhatian investor setelah mengumpulkan pendanaan sebesar US$ 7 juta atau sekitar Rp 130,51 miliar (kurs Rp 18.645 per US$) untuk mengembangkan Dodai, sebuah perusahaan kendaraan listrik (EV) di Etiopia.
Langkah Sasaki ini tergolong berani mengingat ia memilih wilayah yang sering dihindari oleh investor internasional.
Baca Juga: CEO Baru Berkshire: Greg Abel Siap Ubah Gaya Kepemimpinan Buffett?
Saat mayoritas pemodal lebih memilih pusat ekonomi Afrika seperti Lagos di Nigeria atau Nairobi di Kenya, Sasaki justru melihat potensi besar di pasar yang memiliki tingkat persaingan rendah namun memiliki kebutuhan mobilitas yang tinggi.
Strategi Bisnis dan Keunggulan Produk
Dodai memfokuskan operasionalnya pada manufaktur dan penjualan sepeda motor bertenaga baterai lithium-ion yang dirakit secara lokal di Etiopia.
Penggunaan teknologi lithium-ion menjadi pembeda utama karena mayoritas kompetitor di wilayah tersebut masih mengandalkan baterai asam timbal (lead-acid).
Melansir laporan Business Insider Africa, sepeda motor listrik besutan Dodai dibanderol dengan harga antara US$ 1.200 hingga US$ 2.000 per unit, atau berkisar Rp 22,37 juta sampai Rp 37,29 juta. Harga tersebut bervariasi tergantung pada ukuran baterai dan daya jangkau kendaraan.
Hingga saat ini, Dodai telah mencatatkan performa bisnis yang solid dengan beberapa pencapaian kunci:
- Volume Penjualan: Berhasil menjual sekitar 1.500 unit motor listrik dalam kurun waktu 18 bulan terakhir.
- Kemitraan Strategis: Menjalin kerja sama eksklusif dengan Layanan Pos Etiopia (Ethiopian Postal Service) yang menjadi pelanggan terbesar perusahaan.
- Efisiensi Operasional: Satu kali pengisian daya penuh diklaim mampu menempuh jarak hingga 150 kilometer, menjadikannya pilihan favorit bagi sektor bisnis pengiriman.
Inovasi Teknologi Tukar Baterai
Untuk meningkatkan keterjangkauan dan kenyamanan pengguna, Dodai berencana melakukan peluncuran penuh teknologi tukar baterai (battery swapping) pada Februari atau Maret tahun depan.
Melalui model ini, pengendara tidak perlu memiliki baterai secara pribadi, sehingga biaya pembelian awal sepeda motor dapat dipangkas sebesar 40% hingga 50%.
Dikutip dari Business Insider Africa, sistem tukar baterai memungkinkan pengendara untuk menukar baterai kosong dengan baterai yang terisi penuh hanya dalam waktu hitungan menit di stasiun khusus.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di kalangan komuter perkotaan yang memiliki mobilitas tinggi.
Dukungan Modal dari Investor Jepang
Dalam menghimpun modal, Sasaki secara khusus membidik investor dari negara asalnya. Ia menilai bahwa meyakinkan investor internasional untuk masuk ke pasar Etiopia sangatlah menantang karena birokrasi yang kompleks dan regulasi yang belum sepenuhnya berkembang.
Sejauh ini, total dana US$ 7 juta yang berhasil dihimpun berasal dari beberapa pemodal ventura asal Jepang, antara lain Nissay Capital dan Inclusion Japan, serta perusahaan suku cadang otomotif Musashi Seimitsu. Sasaki menyebut para investor Jepang memiliki karakter patient capital atau modal yang sabar.
Menurut Sasaki, para investor ini memahami bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang pasar Afrika, yang justru menjadi kekuatan karena mereka memberikan ruang bagi Dodai untuk fokus pada pembangunan bisnis jangka panjang tanpa tekanan imbal hasil jangka pendek yang berlebihan.
Tonton: Stok Beras RI Aman! Bulog Siapkan 1 Juta Ton untuk Diekspor ke ASEAN
Rencana Ekspansi Regional
Visi Dodai tidak berhenti di Etiopia. Dalam lima tahun ke depan, perusahaan menargetkan untuk melayani 50.000 pengguna sistem tukar baterai dan merambah ke lima atau enam negara Afrika lainnya melalui kemitraan dengan operator lokal.
Meskipun saat ini sebagian besar suku cadang masih diimpor, Sasaki berencana untuk berkolaborasi lebih erat dengan manufaktur lokal guna menciptakan lapangan kerja dan memperkuat produksi domestik.
Fokus utama perusahaan ke depannya adalah pengembangan perangkat lunak, analisis data, serta infrastruktur mobilitas yang canggih untuk membuktikan bahwa Afrika mampu membangun ekosistem transportasi modern.
Sasaki menyarankan para pengusaha untuk berani berpikir berbeda dan merangkul kompleksitas. Baginya, tantangan terbesar di tempat yang sering terabaikan justru seringkali menyimpan peluang pertumbuhan yang paling signifikan.
Selanjutnya: KPK Bidik PIHK dan Travel di Kasus Kuota Haji Tambahan 2024
Menarik Dibaca: 5 Efek Negatif Makanan Tinggi Gula untuk Kulit, Bikin Cepat Tua dan Jerawatan!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













