kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.963   -32,00   -0,19%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%
SOSOK /

Harga Minyak Naik ke US$ 101 per Barel, Pasar Ragukan Klaim Damai Trump dan Iran


Selasa, 24 Maret 2026 / 10:05 WIB
Harga Minyak Naik ke US$ 101 per Barel, Pasar Ragukan Klaim Damai Trump dan Iran
ILUSTRASI. Harga minyak mentah dunia naik ke US$ 101 per barel setelah Iran membantah adanya dialog dengan AS. Simak risiko pasokan selengkapnya di sini. (REUTERS/Christian Hartmann)

Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan Selasa pagi, 24 Maret 2026, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Kenaikan ini terjadi setelah pihak Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengenai adanya kemajuan dalam pembicaraan diplomatik untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Baca Juga: Bos Freeport-McMoRan Optimis Permintaan Tembaga Tetap Kuat di Tengah Perang

Mengutip data Bloomberg dan Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent naik sebesar US$ 1,06 atau sekitar 1,1% menjadi US$ 101 per barel pada pukul 00.01 GMT. Jika dikonversi dengan kurs Rp 16.869, harga tersebut setara dengan Rp 1.703.769 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkerek naik sebesar US$ 1,58 atau 1,8% ke posisi US$ 89,71 per barel atau sekitar Rp 1.513.318.

Sentimen pasar kembali memanas setelah sebelumnya sempat mendingin pada perdagangan Senin.

Saat itu, harga minyak anjlok lebih dari 10% setelah Trump mengumumkan penundaan serangan selama lima hari terhadap pembangkit listrik Iran dan mengeklaim telah mencapai poin-poin kesepakatan penting dengan pejabat Teheran.

Namun, bantahan keras dari pihak Iran memicu ketidakpastian baru bagi pelaku pasar.

Dinamika Konflik dan Risiko Selat Hormuz

Bantahan dari Teheran ini dianggap sebagai sinyal bahwa risiko geopolitik di jalur perdagangan minyak paling vital di dunia masih sangat tinggi.

Garda Revolusi Iran bahkan menyebut pernyataan Trump sebagai operasi psikologis yang sudah usang dan mengeklaim telah meluncurkan serangan baru terhadap target-target kepentingan Amerika Serikat.

Melansir pemberitaan Reuters, kondisi di lapangan masih menunjukkan adanya gangguan signifikan terhadap infrastruktur energi. Beberapa poin penting yang menjadi perhatian pasar antara lain:

  • Kerusakan Infrastruktur: Serangan dilaporkan mengenai kantor perusahaan gas dan stasiun pengurang tekanan di kota Isfahan, Iran. Selain itu, sebuah proyektil menghantam pipa gas yang menyuplai pembangkit listrik di Khorramshahr.
  • Blokade Selat Hormuz: Konflik ini hampir menghentikan total pengiriman sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia yang biasanya melewati Selat Hormuz.
  • Lalu Lintas Terbatas: Meskipun kondisi tegang, terpantau ada dua kapal tanker tujuan India yang berhasil berlayar melewati selat tersebut pada hari Senin kemarin.
  • Relaksasi Sanksi Sementara: Pemerintah Amerika Serikat telah memberikan keringanan sanksi sementara terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut guna meredam kelangkaan pasokan di pasar global.

Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, menjelaskan bahwa meskipun rudal-rudal sedang ditunda peluncurannya selama lima hari, para pelaku pasar sadar bahwa Selat Hormuz masih jauh dari kata aman untuk dilewati secara normal.

Penguatan harga hari ini merupakan bentuk pasar yang kembali mencari pijakan di tengah simpang siur informasi diplomatik.

Tonton: WFH Pasca Lebaran Hemat BBM hingga 20%, Pemerintah Siapkan Skema Terbatas

Kewaspadaan Terhadap Pasokan Global

Kondisi pasar saat ini masih sangat bergantung pada kepastian akses di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.

Selama ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik temu yang konkret, volatilitas harga minyak mentah diperkirakan akan terus berlanjut dan membebani rantai pasok global.

Ketidakpastian informasi diplomatik ini menuntut para pelaku industri dan pemerintah untuk menyiapkan skenario cadangan guna memitigasi risiko lonjakan harga lebih lanjut.

Keamanan infrastruktur energi di kawasan Teluk tetap menjadi faktor penentu utama yang akan mengarahkan tren harga minyak di pasar internasional dalam beberapa waktu ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×