kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.859   41,00   0,24%
  • IDX 8.960   34,76   0,39%
  • KOMPAS100 1.233   5,49   0,45%
  • LQ45 871   3,42   0,39%
  • ISSI 325   1,71   0,53%
  • IDX30 441   0,40   0,09%
  • IDXHIDIV20 520   0,96   0,18%
  • IDX80 137   0,65   0,48%
  • IDXV30 144   0,49   0,34%
  • IDXQ30 141   -0,06   -0,04%
SOSOK /

Bukan Buku Manajemen, Gaya Kepemimpinan Ted Sarandos Diadaptasi dari Novel


Kamis, 08 Januari 2026 / 14:57 WIB
Bukan Buku Manajemen, Gaya Kepemimpinan Ted Sarandos Diadaptasi dari Novel
ILUSTRASI. Bukan Buku Manajemen, Gaya Kepemimpinan Ted Sarandos Diadaptasi dari Novel. (Dok. Reuters/Reuters)

Sumber: CNBC | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Banyak para eksekutif memenuhi meja kerjamya dengan buku-buku manajemen teknis untuk mengasah kemampuan kepemimpinan mereka. 

Namun, pendekatan berbeda justru diterapkan oleh salah satu tokoh paling berpengaruh di industri hiburan global, Ted Sarandos. 

Co-CEO Netflix ini mengungkapkan bahwa kunci kepemimpinannya justru berakar pada karya sastra fiksi, sebuah perspektif yang menarik bagi para pemegang kebijakan di dunia bisnis.

Baca Juga: Mark Cuban: Sistem Kesehatan AS Memiskinkan Rakyat, Bangkrutkan Negara

Ted Sarandos menyatakan bahwa dirinya hampir tidak pernah membaca buku manajemen konvensional. Sebagai gantinya, ia mengandalkan narasi fiksi untuk mendalami seni pengambilan keputusan di tengah ketidakpastian.

Menurut penjelasannya yang dilansir dari CNBC, buku yang paling berpengaruh bagi karirnya adalah sebuah novella berjudul Typhoon karya Joseph Conrad yang diterbitkan pada tahun 1902.

Pelajaran Menavigasi Konflik dan Ketidakpastian

Novel Typhoon mengisahkan tentang seorang kapten kapal uap beserta krunya yang harus berjuang melewati badai hebat di tengah lautan.

Meskipun sekilas tampak seperti cerita petualangan biasa, Sarandos menilai buku tersebut sebagai kisah kepemimpinan paling kuat yang pernah ia baca. Ia mengaku membaca buku tersebut berulang-ulang karena selalu menemukan perspektif baru dalam setiap pembacaan.

Dikutip dari wawancara dalam episode Leaders Playbook, Sarandos menjelaskan evolusi pandangannya terhadap karakter kapten dalam buku tersebut.

Jika dua dekade lalu ia menganggap sang kapten ceroboh, kini ia melihatnya sebagai simbol ketegaran seorang pemimpin dalam menghadapi konflik.

Bagi Sarandos, ujian kepemimpinan yang sesungguhnya adalah bagaimana seseorang mengelola situasi ketika keputusan yang diambil tidak memberikan hasil sesuai ekspektasi.

Pelajaran ini sangat relevan dengan realitas bisnis saat ini, di mana perubahan pasar dan disrupsi teknologi sering kali menciptakan "badai" yang tidak terduga. Kemampuan untuk tetap tenang dan mengambil keputusan di tengah situasi sulit menjadi aset berharga bagi seorang manajer atau direktur perusahaan.

Otonomi dan Keberanian Mengambil Risiko Besar

Selain dari literatur, filosofi kepemimpinan Sarandos juga dibentuk oleh pengalamannya bekerja bersama pendiri Netflix, Reed Hastings. Sarandos belajar bahwa kepemimpinan yang efektif melibatkan pemilihan talenta terbaik, pemberian fasilitas yang mumpuni, dan memberikan otonomi penuh kepada tim untuk bekerja tanpa intervensi berlebihan.

Salah satu bukti nyata dari keberanian Sarandos dalam mengambil risiko adalah saat ia menyetujui proyek serial orisinal pertama Netflix, House of Cards.

Melansir CNBC, Sarandos menggelontorkan dana sebesar US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,67 triliun (kurs Rp 16.750 per US$) untuk memproduksi dua musim sekaligus tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Hastings.

Keputusan berisiko tinggi tersebut didasari oleh analisis risiko dan imbal hasil (risk-reward) yang matang. Sarandos berargumen bahwa jika serial tersebut gagal, perusahaan hanya mengalami kerugian finansial yang biasa terjadi.

Namun, jika berhasil, proyek tersebut memiliki potensi untuk mentransformasi fundamental bisnis Netflix secara keseluruhan. Sejarah kemudian mencatat bahwa langkah tersebut berhasil mengubah wajah industri streaming dunia.

Tonton: BREAKING NEWS! Menkeu Purbaya Sampaikan Update Realiasi APBN 2025 dan Arah Kebijakan Fiskal 2026

Manfaat Membaca Fiksi bagi Pemimpin Bisnis

Ted Sarandos bukan satu-satunya tokoh besar yang mengandalkan fiksi. Pendiri Amazon, Jeff Bezos, dilaporkan terpengaruh oleh novel The Remains of the Day karya Kazuo Ishiguro.

Begitu pula dengan Bill Gates yang sering menekankan bahwa novel dapat membuka tabir mengenai cara kerja sesuatu yang penting dalam kehidupan nyata.

Bagi para manajer yang ingin mengadopsi cara ini, terdapat beberapa langkah untuk menarik pelajaran bisnis dari sebuah novel:

  • Menganalisis Motivasi Karakter: Memahami mengapa seorang tokoh mengambil keputusan tertentu dalam konflik cerita.
  • Menarik Paralelisme: Mencari kesamaan antara konflik dalam buku dengan isu-isu yang dihadapi di kantor atau organisasi.
  • Ringkasan Plot: Berlatih merangkum inti masalah dan solusi yang ditawarkan dalam narasi untuk melatih ketajaman berpikir.

Menurut Brooke Vuckovic, seorang profesor kepemimpinan di Northwestern University, siapa pun bisa memetik pelajaran nyata dari novel fiksi jika dilakukan dengan cara menganalisis hubungan antar karakter dan dinamika konflik yang ada.

Dengan membaca fiksi, seorang pemimpin dapat mengasah empati dan imajinasi strategis yang sering kali tidak didapatkan dari teks teknis manajemen.

Pelajaran dari Ted Sarandos mengingatkan kita bahwa kepemimpinan bukan sekadar mengikuti formula baku dalam buku teks, melainkan kemampuan untuk terus belajar dari berbagai sumber dan berani menghadapi ketidakpastian.

Pendekatan ini menawarkan kedalaman emosional dan intelektual yang krusial dalam menahkodai perusahaan di tengah persaingan global yang kian tajam.

Selanjutnya: Kemendag Catat Nilai Impor Indonesia Naik 2,03% Periode Januari–November 2025

Menarik Dibaca: Memilih Hunian Nyaman, Ini Tips Praktis Sebelum Membeli Rumah dari Park Serpong

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait


TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

×