kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.516   16,00   0,09%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%
SOSOK /

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei: Mengenal Sosok Ki Hajar Dewantara


Sabtu, 02 Mei 2026 / 09:51 WIB
Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei: Mengenal Sosok Ki Hajar Dewantara
ILUSTRASI. Memperingati Hardiknas 2 Mei, simak profil Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional yang mendirikan Taman Siswa untuk pendidikan bangsa. (dok/Tribunnews/Quotes Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan)

Sumber: Direktorat SMP | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Setiap tanggal 2 Mei, seluruh elemen bangsa memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas.

Momen ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam memajukan kualitas intelektual bangsa.

Atas jasa besarnya, pemerintah menganugerahi beliau gelar Pahlawan Nasional serta menyematkan predikat sebagai Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia.

Baca Juga: 10 Orang Terkaya di Dunia Awal Mei 2026: Elon Musk Tak Tertandingi

Melansir informasi dari situs Direktorat SMP Kemendikbud Ristek, tokoh sentral pendidikan ini memiliki nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat.

Beliau lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dan merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Ario Suryaningrat. Ibunya, Raden Ayu Sandiah, adalah bangsawan dari Puro Pakualaman Yogyakarta.

Meski lahir sebagai bangsawan, beliau justru sangat peduli pada nasib rakyat jelata dan berani melawan kebijakan diskriminatif pemerintah Hindia Belanda terhadap kaum bumi putera.

Rekam Jejak Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Status bangsawan memberikan akses pendidikan yang luas bagi Suwardi Suryaningrat. Beliau memulai perjalanan akademisnya di Europeesche Lagere School (ELS) yang merupakan sekolah dasar khusus Belanda.

Mengutip Buku Ki Hajar Dewantara terbitan Museum Kebangkitan Nasional, berikut adalah perjalanan pendidikan beliau:

  • Menamatkan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) pada tahun 1904.
  • Mendapatkan tawaran beasiswa menjadi mahasiswa di STOVIA (School tot Opleiding Van Indische Artsen) atau Sekolah Dokter Jawa di Jakarta.
  • Mengenyam pendidikan di STOVIA selama rentang tahun 1905-1910.

Beasiswa beliau dicabut dan beliau tidak naik kelas karena alasan kesehatan, meskipun terdapat dugaan adanya muatan politis di balik keputusan tersebut.

Pencabutan beasiswa tersebut disinyalir berkaitan dengan sikap nasionalisme Suwardi yang membara. Beberapa hari sebelumnya, beliau sempat mendeklarasikan sajak tentang keperwiraan Ali Basah Sentot Prawirodirdjo, panglima perang Diponegoro, yang dianggap pemerintah kolonial sebagai upaya membangkitkan semangat pemberontakan.

Karir Jurnalistik dan Pengasingan ke Belanda

Setelah gagal menuntaskan studi kedokteran, Suwardi Suryaningrat beralih profesi menjadi jurnalis dan aktif di organisasi pergerakan seperti Budi Utomo serta Sarekat Islam.

Beliau bersama Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partij dan dijuluki sebagai "Tiga Serangkai".

Kritikan beliau terhadap Belanda mencapai puncaknya melalui risalah "Als ik eens Nederlander was" (Andai aku seorang Belanda) pada Juli 1913.

Tulisan tersebut memicu kemarahan besar penjajah hingga akhirnya tokoh Tiga Serangkai diasingkan ke Belanda.

Tonton: Harga Emas Antam Turun Tipis Hari ini (2 Mei 2026)

Selama di pengasingan, beliau tetap aktif menyuarakan kemerdekaan melalui jalur tulisan:

  • Menjadi penulis di surat kabar Belanda seperti "Het Volk" dan "De Nieuwe Grone Amsterdamer" untuk menyambung hidup.
  • Mempengaruhi mahasiswa Indonesia di Belanda dalam organisasi "Indische Vereeniging" hingga berani mengubah nama menjadi "Perhimpunan Indonesia".
  • Mendalami pengetahuan tentang sejarah sosial pendidikan dan sistem pengajaran modern di Eropa.

Pendirian Taman Siswa dan Warisan Pendidikan

Sepulangnya dari Belanda, Suwardi Suryaningrat merealisasikan gagasannya tentang perguruan nasional. Beliau mendirikan "Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa" di Yogyakarta pada 3 Juli 1922.

Lembaga ini menjadi tonggak dasar sistem pendidikan yang memerdekakan siswa dan menanamkan cinta tanah air.

Baru pada 3 Februari 1928, beliau menanggalkan gelar kebangsawanannya dan berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Berdasarkan penjelasan dari Ki Utomo Darmadi, nama tersebut memiliki makna mendalam:

  • Hadjar: Memiliki arti sebagai pendidik.
  • Dewan: Berarti seorang utusan.
  • Tara: Bermakna tak tertandingi.

Secara harfiah, Ki Hajar Dewantara berarti Bapak Pendidik Utusan Rakyat yang Tak Tertandingi Menghadapi Kolonialisme. Beliau memimpin Taman Siswa selama 37 tahun hingga tutup usia pada 26 April 1959 di Yogyakarta.

Hingga saat ini, warisan pemikiran beliau tetap hidup dalam dunia pendidikan Indonesia. Semboyan legendarisnya, Tut Wuri Handayani, kini abadi sebagai logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Semangatnya yang menyatakan "Lebih Baik Mati Terhormat Daripada Hidup Nista" tetap menjadi inspirasi bagi anak-anak bangsa untuk meraih pendidikan yang layak dan bermartabat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×