kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.856.000   -100.000   -3,38%
  • USD/IDR 16.897   42,00   0,25%
  • IDX 7.874   -229,46   -2,83%
  • KOMPAS100 1.107   -33,03   -2,90%
  • LQ45 810   -19,08   -2,30%
  • ISSI 276   -9,30   -3,26%
  • IDX30 424   -8,68   -2,01%
  • IDXHIDIV20 511   -9,49   -1,82%
  • IDX80 124   -3,34   -2,63%
  • IDXV30 138   -3,78   -2,67%
  • IDXQ30 138   -2,09   -1,49%
SOSOK /

Rahasia Wang Ning Ubah Mainan Jadi Aset Rp109 Triliun: Fenomena Pop Mart dan Labubu


Jumat, 06 Februari 2026 / 11:01 WIB
Rahasia Wang Ning Ubah Mainan Jadi Aset Rp109 Triliun: Fenomena Pop Mart dan Labubu
ILUSTRASI. Rahasia Wang Ning Ubah Mainan Jadi Aset Rp109 Triliun: Fenomena Pop Mart dan Labubu. (CFOTO/Sipa USA via Reuters)

Sumber: Business Insider,South China Morning Post,Forbes | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Fenomena mainan kolektibel atau designer toys telah bertransformasi dari sekadar hobi menjadi instrumen investasi yang menjanjikan bagi sebagian kalangan di Asia, termasuk Indonesia.

Di balik meledaknya tren ini, terdapat sosok Wang Ning, pendiri sekaligus CEO Pop Mart, yang berhasil mengubah konsep belanja mainan menjadi pengalaman adiktif melalui strategi blind box.

Keberhasilannya membawa perusahaan melantai di Bursa Efek Hong Kong pada tahun 2020 menjadi sinyal kuat bagi para investor mengenai besarnya potensi pasar ekonomi kreatif yang menyasar generasi milenial dan Gen Z.

Baca Juga: Patrick dan John Collison: Dua Bersaudara di Balik Kesuksesan Stripe

Kejelian Wang Ning dalam menangkap perilaku konsumen yang menyukai elemen kejutan dan kelangkaan telah membuat Pop Mart tumbuh secara eksponensial dalam satu dekade terakhir.

Perusahaan yang awalnya hanya toko ritel kecil di Beijing ini, kini telah memiliki jaringan distribusi yang luas di lebih dari 20 negara. Kekuatan Pop Mart tidak hanya terletak pada produk fisik, melainkan pada kepemilikan hak kekayaan intelektual (IP) atas karakter-karakter ikonik yang memiliki nilai jual tinggi di pasar sekunder.

Kapitalisasi Pasar dan Kekayaan Bersih Pendiri

Berdasarkan data yang dilansir dari Forbes, kekayaan bersih Wang Ning saat ini diperkirakan mencapai US$ 6,5 miliar atau sekitar Rp 109,76 triliun (kurs Rp 16.887 per Dolar AS). 

Angka ini mencerminkan dominasi Pop Mart di pasar mainan kolektibel global yang terus berekspansi meskipun kondisi ekonomi makro mengalami ketidakpastian.

Pertumbuhan nilai perusahaan juga didorong oleh performa saham yang impresif di bursa. Investor melihat Pop Mart bukan sekadar produsen mainan, melainkan perusahaan hiburan berbasis teknologi dan seni.

Mengutip laporan dari Business Insider, saham Pop Mart sempat mengalami kenaikan signifikan seiring dengan meningkatnya permintaan global, terutama untuk karakter seperti Labubu dan Molly yang menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.

Strategi Bisnis: Dari Ritel Hingga Ekosistem Digital

Keberhasilan Wang Ning sering kali dibandingkan dengan strategi perusahaan hiburan besar. Namun, keunikan Pop Mart terletak pada integrasi antara seni desain dan model bisnis ritel modern.

Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Wang Ning mengawali kariernya dengan mengamati tren di toko-toko mainan di Hong Kong sebelum akhirnya memutuskan untuk memfokuskan bisnisnya pada kategori mainan seni yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi dibandingkan mainan tradisional.

Beberapa pilar utama yang mendasari pertumbuhan Pop Mart antara lain:

  • Sistem Blind Box: Menciptakan rasa penasaran bagi konsumen dan mendorong pembelian berulang untuk melengkapi koleksi.
  • Manajemen Kekayaan Intelektual (IP): Mengakuisisi dan mengembangkan karakter unik melalui kolaborasi dengan seniman global seperti Kasing Lung (pencipta Labubu).
  • Ekspansi Global yang Agresif: Membuka toko fisik dan mesin penjual otomatis (roboshops) di lokasi-lokasi strategis di seluruh dunia.
  • Komunitas Penggemar: Memanfaatkan media sosial untuk menciptakan ekosistem di mana kolektor dapat bertukar informasi dan melakukan transaksi jual beli koleksi langka.

Tonton: Juda Ungkap Alasan Mundur Jadi Deputi Gubernur BI: Ditugaskan sebagai Wamenkeu

Karakter Labubu, misalnya, telah menjadi fenomena budaya tersendiri yang mampu menarik minat tokoh-tokoh berpengaruh dunia.

Melansir berita dari Fortune, popularitas karakter ini bahkan menarik perhatian investor global dan tokoh bisnis papan atas, yang memperkuat posisi Pop Mart sebagai pemimpin pasar di segmen pop culture.

Menatap Masa Depan dan Inovasi Berkelanjutan

Wang Ning tetap optimis bahwa pasar mainan seni masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, terutama dengan masuknya teknologi digital seperti NFT dan pengembangan taman hiburan bertema.

Bersumber dari Prestige Hong Kong, perusahaan saat ini tengah menjajaki berbagai peluang untuk memperdalam keterikatan konsumen melalui pengalaman fisik di theme park mereka sendiri, meniru model sukses yang dilakukan oleh perusahaan raksasa hiburan lainnya.

Bagi para pengamat pasar dan investor, Pop Mart merupakan contoh nyata bagaimana inovasi dalam cara pemasaran dapat menciptakan kategori pasar baru yang sangat menguntungkan.

Fokus Wang Ning pada orisinalitas desain dan kecepatan dalam merespons tren pasar menjadikannya sosok yang sangat diperhitungkan dalam peta persaingan bisnis global saat ini.

Dengan fundamental yang kuat dan basis penggemar yang loyal, perjalanan Pop Mart di bawah kepemimpinan Wang Ning diprediksi akan terus mencetak rekor baru dalam industri ekonomi kreatif dunia.

Selanjutnya: Produk Mirip Tetapi Beda Merek? Ini Arti White Label yang Sedang Booming

Menarik Dibaca: Harga Bitcoin Sempat Ambles ke US$ 60.000, Hati-Hati Fase Kapitulasi!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

×