Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini merambah ke ranah siber dengan target yang sangat sensitif.
Kelompok peretas yang terafiliasi dengan pemerintah Iran dilaporkan berhasil membobol akun email pribadi Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI), Kash Patel.
Insiden ini menambah panjang daftar pejabat tinggi pertahanan dan keamanan Amerika Serikat yang menjadi sasaran serangan siber di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: Bruce Cassidy Out, Tortorella Masuk di Golden Knights
Kelompok peretas yang mengidentifikasi diri sebagai Handala Hack Team mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut.
Melansir Reuters pada Jumat (27/3), para peretas mengunggah sejumlah foto pribadi dan dokumen yang mereka klaim berasal dari kotak masuk Gmail milik Patel.
Aksi ini dinilai sebagai upaya terencana untuk mempermalukan pejabat publik Amerika Serikat di mata internasional.
Detail Peretasan dan Data yang Bocor
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan pada situs web mereka, Handala menyatakan bahwa Kash Patel kini masuk dalam daftar korban peretasan mereka yang sukses.
Foto-foto yang disebarkan menunjukkan sisi personal sang Direktur FBI, mulai dari aktivitas menghisap cerutu, mengendarai mobil antik, hingga foto diri (selfie) di depan cermin dengan botol minuman keras.
Selain konten visual, kelompok ini juga merilis sampel yang berisi lebih dari 300 pesan email. Pesan-pesan tersebut diduga merupakan campuran korespondensi pribadi dan pekerjaan yang berasal dari rentang waktu tahun 2010-2019.
Meskipun Reuters belum melakukan autentikasi secara independen terhadap seluruh pesan tersebut, alamat Gmail yang menjadi sasaran dilaporkan cocok dengan data kebocoran sebelumnya yang tercatat oleh firma intelijen dark web, District 4 Labs.
Pihak FBI telah mengonfirmasi bahwa email pribadi Patel memang menjadi target serangan.
Juru bicara FBI, Ben Williamson, menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.
Williamson menegaskan bahwa data yang terlibat bersifat historis dan tidak mengandung informasi rahasia milik pemerintah.
Meski demikian, Google sebagai penyedia layanan Gmail belum memberikan komentar resmi terkait insiden ini.
Baca Juga: Profil Nabil Fahmy, Calon Sekjen Liga Arab Pilihan Negara Arab
Rekam Jejak Handala dan Strategi Siber Iran
Handala Hack Team sering mempresentasikan diri sebagai kelompok peretas pro-Palestina.
Namun, para peneliti keamanan Barat meyakini kelompok ini merupakan salah satu identitas yang digunakan oleh unit intelijen siber pemerintah Iran.
Sebelum menargetkan Patel, Handala tercatat melakukan serangkaian serangan agresif terhadap perusahaan-perusahaan besar, antara lain:
- Stryker (SYK.N): Perusahaan perangkat medis asal Michigan ini diklaim terkena retas pada 11 Maret 2026, dengan ancaman penghapusan data besar-besaran.
- Lockheed Martin (LMT.N): Pada Kamis (26/3), kelompok ini mengklaim telah mempublikasikan data pribadi puluhan karyawan perusahaan pertahanan tersebut yang bertugas di Timur Tengah.
Mengutip analisis dari Gil Messing, Chief of Staff di perusahaan keamanan siber Israel, Check Point, operasi peretasan dan pembocoran (hack-and-leak) ini merupakan bagian dari strategi Iran untuk membuat pejabat Amerika Serikat merasa rentan.
Langkah ini diambil setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terkoordinasi terhadap Iran pada bulan sebelumnya.
Sejarah Peretasan Pejabat Tinggi Amerika Serikat
Insiden yang menimpa Kash Patel bukanlah hal baru dalam sejarah keamanan digital pejabat Washington.
Serangan terhadap email pribadi sering kali menjadi pintu masuk yang lebih mudah bagi peretas dibandingkan menembus jaringan pemerintah yang memiliki proteksi berlapis. Beberapa kasus serupa di masa lalu meliputi:
- John Podesta (2016): Ketua kampanye Hillary Clinton ini kehilangan akses ke akun Gmail pribadinya, yang kemudian datanya disebarkan oleh WikiLeaks.
- John Brennan (2015): Saat menjabat sebagai Direktur CIA, akun AOL pribadinya dibobol oleh peretas remaja yang membocorkan data pejabat intelijen.
- Susie Wiles (2025): Kepala Staf Gedung Putih ini juga sempat menjadi target ancaman pembocoran data sebesar 100 gigabyte oleh kelompok peretas lain.
Tonton: Kebijakan WFH Sehari Dalam Sepekan Hanya Efisien Bila Diterapkan Hari Jumat?
Penilaian intelijen Amerika Serikat menunjukkan bahwa Iran dan sekutunya kemungkinan besar akan terus merespons tekanan militer dengan serangan siber tingkat rendah terhadap jaringan digital Amerika Serikat.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk pembalasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran baru-baru ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













