Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia, ketegangan geopolitik, dan suksesi kepemimpinan di Iran menjadi sorotan utama pasar global pekan ini.
Langkah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru di tengah berkecamuknya perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah memicu guncangan hebat pada sektor energi dan pasar finansial internasional.
Suksesi di Tengah Kobaran Perang
Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) ketiga Republik Islam Iran.
Baca Juga: Parlemen Ceko Tolak Cabut Imunitas PM Andrej Babis dalam Kasus Fraud Subsidi EU
Keputusan ini diumumkan oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) tak lama setelah tengah malam waktu Teheran pada Senin, 9 Maret 2026.
Penunjukan ini menandakan bahwa kelompok konservatif tetap memegang kendali penuh atas kebijakan strategis negara tersebut.
Mojtaba Khamenei, seorang ulama yang memiliki pengaruh besar di dalam pasukan keamanan Iran dan jaringan bisnis luas, terpilih melalui pemungutan suara yang menentukan oleh 88 anggota Majelis Ahli.
Posisi Pemimpin Tertinggi memberinya wewenang absolut atas seluruh urusan negara, termasuk komando militer dan kebijakan luar negeri.
Melansir laporan dari Reuters, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa penunjukan ini merupakan manifestasi dari tekad Iran untuk memperkuat persatuan nasional di tengah krisis.
Pemimpin militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah menyatakan kesetiaan mereka kepada pemimpin baru tersebut.
Reaksi Keras Donald Trump dan Israel
Penunjukan Mojtaba dilakukan hanya sepekan setelah Ali Khamenei tewas dalam salah satu serangan awal yang diluncurkan ke Iran.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari Washington. Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa AS seharusnya memiliki suara dalam pemilihan pemimpin baru tersebut.
"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," ujar Trump kepada ABC News.
Di sisi lain, Israel telah mengancam akan menargetkan siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin baru Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan akan terus menekan rezim Iran "tanpa ampun" dan memiliki rencana terorganisir untuk mendestabilisasi pemerintahan di Teheran.
Harga Minyak Tembus US$100 dan Guncangan Pasar
Konflik yang meluas ini berdampak langsung pada perdagangan minyak mentah global.
Kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz memicu kepanikan pasar.
Tonton: Ekonomi Eropa Memanas: Konflik Iran Dikhawatirkan Dorong Inflasi Tinggi Lagi!
Berikut adalah rincian pergerakan harga komoditas dan aset finansial pada awal perdagangan Senin:
- Minyak Mentah AS (WTI): Melonjak lebih dari 20%, mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.
- Minyak Mentah Brent: Melompat 17% ke level US$108,73 (sekitar Rp1.850.040 per barel dengan kurs Rp17.015). Pekan sebelumnya, harga Brent sudah naik 28%.
- Pasar Saham: Kontrak berjangka S&P 500 merosot 1,6%, sementara Nasdaq merosot 1,7% di Wall Street.
- Mata Uang: Dolar AS menguat tajam terhadap Euro dan Yen Jepang karena statusnya sebagai aset aman (safe haven).
Donald Trump mengklaim melalui media sosial bahwa harga minyak akan segera turun drastis setelah ancaman nuklir Iran hancur.
Ia menyebut kenaikan harga saat ini sebagai "harga kecil yang harus dibayar demi keselamatan dan perdamaian dunia".
Fakta Terkini Konflik Iran-AS-Israel
Perang yang telah berlangsung selama satu minggu ini terus memakan korban jiwa dan merusak infrastruktur vital. Berdasarkan rincian yang dilaporkan oleh Reuters:
- Korban Militer AS: Militer AS melaporkan kematian anggota dinas ketujuh akibat luka-luka dari serangan balasan awal Iran.
- Korban Sipil Iran: Duta Besar Iran untuk PBB menyebutkan setidaknya 1.332 warga sipil Iran tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat serangan AS-Israel.
- Serangan Infrastruktur: Israel menyerang fasilitas penyimpanan bahan bakar utama di dekat Teheran. Serangan ini menyebabkan asap hitam pekat menyelimuti ibu kota Iran.
- Evakuasi Diplomatik: Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan staf non-darurat dan keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Yordania, dan Bahrain menyusul meningkatnya risiko keamanan.
Kondisi di Timur Tengah saat ini memasuki fase baru yang berbahaya. Penunjukan Mojtaba Khamenei menunjukkan bahwa Iran tidak akan mundur dari konfrontasi, sementara AS dan Israel terus meningkatkan tekanan militer untuk mencapai "penyerahan tanpa syarat" dari Teheran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













