Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Kabar mengejutkan datang dari industri teknologi global setelah majelis hakim di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), menyatakan Meta Platforms Inc dan Alphabet Inc (induk Google) bersalah atas kelalaian desain platform.
Kemenangan ini diraih oleh seorang penggugat yang menuduh bahwa fitur-fitur di Instagram dan YouTube sengaja dirancang untuk memicu kecanduan pada pengguna usia muda.
Putusan ini menjadi lonceng peringatan keras bagi raksasa teknologi dunia terkait tanggung jawab moral dan hukum mereka terhadap keamanan mental generasi muda.
Baca Juga: 10 Orang Terkaya di Indonesia Akhir Maret 2026: Anthoni Salim Tembus Empat Besar
Detail Fakta Hukum dan Putusan Majelis Hakim
Dalam persidangan yang berlangsung di Los Angeles tersebut, majelis hakim memutuskan Meta dan Google terbukti lalai dalam merancang aplikasi media sosial mereka.
Melansir laporan dari Reuters pada Kamis (26/03), total ganti rugi yang harus dibayarkan mencapai US$ 6 juta.
Jika dikonversi dengan kurs hari ini Rp 16.811 per US$, nilai tersebut setara dengan Rp 100,86 miliar.
Angka tersebut terbagi menjadi US$ 4,2 juta yang dibebankan kepada Meta dan US$ 1,8 juta kepada Google.
Meskipun nilai denda ini tergolong kecil bagi perusahaan yang memiliki belanja modal tahunan di atas US$ 100 miliar, kasus ini dipandang sebagai bellwether atau uji coba penting bagi ribuan gugatan serupa yang tengah mengantre di pengadilan negara bagian California.
Kasus ini bermula dari gugatan seorang wanita berusia 20 tahun bernama Kaley.
Kaley mengaku telah kecanduan YouTube dan Instagram sejak masih di bawah umur. Ia menyoroti fitur desain seperti infinite scroll atau gulir tanpa batas yang mendorong pengguna untuk terus melihat unggahan baru tanpa henti.
Majelis hakim menyepakati bahwa perusahaan gagal memberikan peringatan yang memadai mengenai bahaya adiksi tersebut.
Dilansir dari sumber yang sama, pihak Meta dan Google menyatakan tidak setuju dengan putusan tersebut dan berencana untuk mengajukan banding.
Di lantai bursa, saham Meta ditutup naik 0,3% dan Alphabet menguat 0,2% sesaat setelah putusan diumumkan, menunjukkan bahwa investor masih memantau dampak jangka panjang dari preseden hukum ini.
Perkembangan Regulasi dan Gugatan di Berbagai Negara Bagian
Kekalahan Meta dan Google ini menandai pergeseran debat keselamatan anak dari ranah legislatif ke ranah hukum.
Mengingat Kongres AS belum berhasil mengesahkan undang-undang komprehensif terkait regulasi media sosial, banyak negara bagian mulai mengambil langkah mandiri.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait perkembangan regulasi dan gugatan teknologi di AS:
- Langkah Negara Bagian: Setidaknya 20 negara bagian di AS telah memberlakukan undang-undang penggunaan media sosial bagi anak-anak pada tahun lalu.
- Verifikasi Usia: Regulasi baru mencakup aturan penggunaan ponsel di sekolah dan kewajiban verifikasi usia bagi pengguna yang ingin membuka akun baru.
- Gugatan New Mexico: Secara terpisah, majelis hakim di New Mexico menemukan Meta melanggar hukum negara bagian terkait keamanan di Facebook, Instagram, dan WhatsApp yang dianggap memfasilitasi eksploitasi seksual anak.
- Sidang Oakland: Kasus kecanduan media sosial lainnya yang diajukan oleh distrik sekolah diprediksi akan naik ke persidangan federal di Oakland pada musim panas tahun ini.
- Sidang Juli 2026: Persidangan lain di Los Angeles dijadwalkan pada Juli mendatang yang melibatkan Instagram, YouTube, TikTok, dan Snapchat.
Tonton: Respons Gejolak Energi, Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Baru
Argumen Persidangan dan Kesaksian Mark Zuckerberg
Selama persidangan, pengacara penggugat berusaha membuktikan bahwa Meta dan Google secara sengaja menargetkan anak-anak demi mengejar profit di atas keselamatan.
Salah satu momen krusial adalah ketika CEO Meta, Mark Zuckerberg, memberikan kesaksian bulan lalu.
Zuckerberg ditanya mengenai keputusannya mencabut larangan sementara pada filter kecantikan yang sebelumnya diperingatkan oleh internal perusahaan dapat membahayakan kesehatan mental remaja putri.
Zuckerberg berargumen bahwa keputusan tersebut diambil demi memberikan ruang bagi pengguna untuk mengekspresikan diri. Ia merasa bukti mengenai bahaya filter tersebut tidak cukup kuat untuk membatasi ekspresi pengguna.
Di sisi lain, pengacara Meta mencoba menyoroti latar belakang kehidupan rumah tangga penggugat sebagai penyebab masalah kesehatan mentalnya.
Sementara YouTube berargumen bahwa durasi penggunaan platform oleh penggugat tergolong minim. Namun, dokumen internal yang menunjukkan strategi perusahaan menarik pengguna muda tampaknya lebih meyakinkan majelis hakim.
Keputusan majelis hakim di Los Angeles ini menjadi pengingat bahwa di balik kemudahan teknologi, terdapat risiko desain yang perlu diwaspadai secara kolektif oleh masyarakat dan regulator.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













