Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Pemimpin Takhta Suci Vatikan, Paus Leo XIV, melakukan kunjungan kenegaraan yang cukup emosional di Kamerun pada Rabu (15/4).
Dalam pidatonya yang lugas, Paus Leo menyoroti masalah korupsi yang mengakar dan menyerukan dihentikannya dominasi kelompok kaya yang mengancam perdamaian di negara Afrika Tengah tersebut.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian tur sepuluh hari Paus ke empat negara di Afrika. Sebelum mendarat di ibu kota Kamerun, Yaounde, Paus Leo XIV terlebih dahulu mengunjungi Aljazair.
Baca Juga: Bos UBS Sergio Ermotti Berpotensi Jabat CEO Hingga 2027, Ini Alasannya
Namun, lawatan ini tidak lepas dari tensi politik global setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan kritik tajam terhadap sang Paus untuk kedua kalinya dalam pekan ini.
Menyuarakan Keadilan di Depan Presiden Biya
Berbicara langsung di hadapan Presiden Kamerun, Paul Biya, Paus Leo XIV menyerukan agar pemerintah segera memutus mata rantai korupsi. Menurutnya, praktik korupsi telah melucuti kredibilitas otoritas negara dan menyengsarakan rakyat banyak.
"Sudah saatnya kita memeriksa hati nurani dan melakukan lompatan berani ke depan. Agar perdamaian dan keadilan menang, rantai korupsi yang merusak otoritas harus diputus," ujar Paus Leo XIV sebagaimana dikutip dari Reuters pada Kamis (16/4).
Presiden Paul Biya yang kini berusia 93 tahun telah memimpin Kamerun sejak tahun 1982. Selama lebih dari empat dekade kekuasaannya, pemerintahannya sering diterpa isu pelanggaran hak asasi manusia dan sistem perlindungan elit yang sangat kuat.
Meskipun demikian, Biya membantah tuduhan tersebut dan mengklaim kepemimpinannya memberikan stabilitas bagi Kamerun.
Paus Leo XIV menegaskan bahwa memerintah berarti benar-benar mendengarkan aspirasi warga dan menghargai kecerdasan rakyat untuk membangun solusi yang langgeng.
Ia mengingatkan bahwa hukum harus menjadi pelindung yang aman bagi warga negara dari segala bentuk kesewenang-wenangan kaum kaya dan berkuasa.
Konflik Separatis dan Isu Keamanan
Selain masalah tata kelola pemerintahan, Paus Leo XIV juga memberikan perhatian khusus pada konflik separatis Anglophone yang telah menewaskan ribuan orang dalam satu dekade terakhir.
Konflik ini melibatkan kelompok separatis berbahasa Inggris yang melawan pemerintah pusat yang didominasi oleh penutur bahasa Prancis.
Ribuan warga di wilayah utara juga terus menderita akibat serangan kelompok militan seperti Boko Haram. Paus Leo meratapi bagaimana kekerasan ini telah merampas masa depan generasi muda Kamerun, terutama dalam hal pendidikan.
"Cukup sudah perang dengan segala kepedihan yang ditimbulkannya melalui kematian, kehancuran, dan pengasingan," tegas pria berusia 70 tahun tersebut.
Menanggapi kunjungan Paus, aliansi kelompok separatis menyatakan akan memberlakukan jeda perjalanan aman selama tiga hari.
Langkah ini diambil guna memberikan kesempatan bagi warga sipil dan pengunjung untuk bergerak bebas selama pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut berada di Kamerun.
Tensi dengan Donald Trump dan Agenda Tur
Di sisi lain, sikap kritis Paus Leo XIV terhadap perang Iran yang sedang berlangsung terus memicu kemarahan Donald Trump.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Selasa (14/4), Trump mengulangi kritiknya terhadap Paus, meskipun hal tersebut memicu reaksi balik dari seluruh spektrum politik di AS.
Tonton: IMF Peringatkan Resesi Global! Dampak Perang Iran Bisa Guncang Ekonomi Dunia
Paus Leo menyatakan kepada awak media bahwa ia akan terus menyuarakan perdamaian dan mengkritik peperangan tanpa mempedulikan komentar Trump.
Ia menekankan pentingnya dialog antar komunitas yang berbeda di seluruh dunia selama menjalankan misi apostoliknya.
Berikut adalah beberapa detail penting terkait jadwal dan fakta kunjungan Paus Leo XIV di Afrika:
- Total Jarak Tempuh: Mencapai 18.000 km dalam satu rangkaian tur.
- Total Penerbangan: Melibatkan 18 penerbangan menuju 11 kota berbeda.
- Negara Tujuan Berikutnya: Setelah Kamerun, Paus dijadwalkan mengunjungi Angola dan Guinea Khatulistiwa.
- Agenda Kamis (16/4): Paus akan menuju Bamenda, kota berbahasa Inggris terbesar di Kamerun, untuk memimpin misa dan pertemuan perdamaian di katedral setempat.
- Agenda Jumat (17/4): Puncak kunjungan diperkirakan terjadi di kota pesisir Douala, di mana sekitar 600.000 orang diprediksi akan menghadiri misa agung.
Kunjungan kepausan ini menjadi momentum krusial bagi rakyat Kamerun yang telah lama mendambakan stabilitas di tengah konflik internal yang berkepanjangan.
Kehadiran Paus Leo XIV di tengah tekanan politik global menunjukkan komitmen Vatikan dalam menyuarakan isu kemanusiaan dan perdamaian di wilayah konflik.
Harapan besar tertuju pada dialog yang dibangun untuk mengakhiri kekerasan dan memperbaiki tata kelola pemerintahan demi kesejahteraan masyarakat.
Seluruh rangkaian perjalanan ini akan terus dipantau sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi besar di wilayah Afrika Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













