kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.055   55,00   0,32%
  • IDX 6.989   -37,36   -0,53%
  • KOMPAS100 965   -5,89   -0,61%
  • LQ45 708   -6,82   -0,95%
  • ISSI 250   -1,40   -0,56%
  • IDX30 388   -0,50   -0,13%
  • IDXHIDIV20 481   -1,39   -0,29%
  • IDX80 109   -0,72   -0,66%
  • IDXV30 133   -0,62   -0,46%
  • IDXQ30 126   -0,40   -0,32%
SOSOK /

Kata Bos IMF Soal Perang Timteng: Picu Inflasi Tinggi, Negara Miskin Paling Terpukul


Selasa, 07 April 2026 / 06:00 WIB
Kata Bos IMF Soal Perang Timteng: Picu Inflasi Tinggi, Negara Miskin Paling Terpukul
ILUSTRASI. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva (KONTAN/Bidara Pink)

Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah akan membawa konsekuensi serius bagi ekonomi global.

Dalam wawancaranya dengan Reuters yang dipublikasikan pada 6 April 2026, Georgieva menegaskan bahwa kondisi saat ini telah mengubah arah proyeksi ekonomi dunia secara signifikan.

“Semua jalan sekarang mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” ujarnya.

Baca Juga: Pilpres Peru: Keiko Fujimori Pimpin Survei, Putaran Kedua Hampir Pasti

IMF Akan Pangkas Proyeksi Ekonomi Global

Menurut Georgieva, IMF akan menurunkan proyeksi pertumbuhan global dan sekaligus menaikkan perkiraan inflasi dalam laporan World Economic Outlook yang akan dirilis pada 14 April.

Padahal sebelum konflik memanas, IMF memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh 3,3% pada 2026 dan 3,2% pada 2027, seiring pemulihan pascapandemi.

Sayangnya, perang mengubah skenario tersebut secara drastis.

Ia menambahkan bahwa bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat, revisi terhadap pertumbuhan tetap akan terjadi.

Baca Juga: 10 Orang Terkaya di Dunia April 2026: Elon Musk Memimpin dengan Rp13.700 Triliun

Gangguan Energi Jadi Pemicu Utama

Georgieva menyoroti bahwa konflik ini telah menyebabkan gangguan terbesar dalam pasokan energi global.

Iran disebut secara efektif memblokade Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi sekitar 20% minyak dan gas dunia. Akibatnya, pasokan minyak global menyusut hingga 13%.

Dampaknya tidak hanya pada harga energi, tetapi juga merembet ke sektor lain seperti pupuk dan helium.

Harga minyak mentah Brent bahkan melonjak mendekati US$110 per barel. Kondisi ini menjadi pertanda bahwa adanya tekanan besar di pasar global.

Baca Juga: Paus Leo Akhirnya Serang Trump, Vatikan Ambil Sikap Tegas

Negara Miskin Jadi Paling Rentan

Dalam pernyataannya, Georgieva menekankan bahwa dampak perang tidak merata. Negara-negara miskin yang bergantung pada impor energi menjadi pihak yang paling terdampak.

"Sebagian besar dari mereka tidak memiliki ruang fiskal untuk melindungi masyarakat dari lonjakan harga, sehingga berisiko memicu gejolak sosial," ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa negara telah meminta bantuan pembiayaan, meski tidak merinci negara mana saja.

IMF pun membuka kemungkinan untuk memperluas program pinjaman guna membantu negara-negara tersebut.

Namun, Georgieva mengingatkan bahwa subsidi energi secara luas bukan solusi karena dapat memperburuk tekanan inflasi.

Baca Juga: Kursi CEO MPS: Calon Pilihan Dewan Diragukan Bank Sentral Eropa?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

×