Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah memicu kekhawatiran pelaku pasar global pada perdagangan awal pekan ini.
Investor kini cenderung beralih ke aset aman atau safe haven, yang menyebabkan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) merangkak naik sementara mata uang berisiko dan pasar ekuitas di Asia mengalami tekanan hebat.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau naik 0.08% ke level 99.62 pada Senin, 23 Maret 2026.
Baca Juga: Robert Mueller Meninggal Dunia, Eks Bos FBI yang Bongkar Skandal Trump-Rusia
Penguatan ini terjadi seiring dengan ancaman serangan balasan yang saling dilontarkan antara pihak-pihak yang bertikai di wilayah Teluk, yang meredupkan selera risiko investor secara global.
Melansir laporan Reuters, eskalasi konflik ini bahkan disebut oleh Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, sebagai krisis yang lebih buruk dibandingkan guncangan minyak pada tahun 1970-an.
Situasi ini memicu sentimen negatif bagi ekonomi yang bergantung pada impor energi, termasuk Jepang dan negara-negara di zona Euro.
Fakta dan Dampak terhadap Mata Uang Global
Eskalasi militer yang melibatkan serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi telah mengubah peta kekuatan mata uang dunia.
Berikut adalah rincian pergerakan kurs dan indikator ekonomi terkini berdasarkan data pasar pada Senin, 23 Maret 2026:
- Dolar AS: Menguat tipis 0.08% ke level 99.62. Dengan kurs hari ini Rp 16.990, maka kekuatan dolar AS tetap menjadi beban bagi nilai tukar rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya.
- Euro: Mengalami pelemahan sebesar 0.16% ke level US$ 1.1552 per euro.
- Yen Jepang: Terdepresiasi 0.14% ke level 159.45 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang memicu kekhawatiran intervensi dari pemerintah Jepang.
- Poundsterling: Turun 0.06% ke level US$ 1.3331 per pound.
- Mata Uang Komoditas: Dolar Australia (AUD) merosot 0.43% ke US$ 0.6993, sementara dolar Selandia Baru (Kiwi) turun 0.26% ke level US$ 0.5819.
- Aset Kripto: Berbeda dengan mata uang konvensional, Bitcoin justru naik tipis 0.06% ke posisi US$ 68,220.97.
Menurut pengamat mata uang dari National Australia Bank, Rodrigo Catril, negara-negara yang menikmati pasokan energi positif kemungkinan besar akan berkinerja lebih baik dibandingkan mereka yang menderita akibat gangguan pasokan minyak.
Hal ini menjelaskan mengapa euro dan yen terus mengalami kesulitan untuk bangkit di tengah krisis yang berkepanjangan.
Tonton: Presiden Iran Minta BRICS Desak AS-Israel Hentikan Agresi di Timur Tengah
Kondisi Pasar Saham dan Suku Bunga Global
Tekanan akibat konflik ini juga merambat ke pasar ekuitas Asia di mana indeks utama mengalami koreksi tajam, termasuk Nikkei Jepang yang sempat turun hingga 5%.
Di pasar surat utang, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam delapan bulan sebesar 4.415% karena kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah.
Kondisi geopolitik yang memanas telah mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS.
Meskipun sebelumnya pasar memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini, ketidakpastian perang membuat prospek tersebut semakin menjauh sementara bank sentral utama lainnya mulai menunjukkan sikap yang lebih ketat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













