Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Ketegangan antara industri farmasi raksasa dengan regulator kesehatan Amerika Serikat (AS) kini memasuki babak baru.
CEO Pfizer, Albert Bourla, secara terbuka menyatakan adanya masalah serius dalam kepemimpinan di Food and Drug Administration (FDA), khususnya pada divisi yang menangani tinjauan vaksin dan produk biologis.
Kritik pedas ini mencuat di tengah pergeseran tajam kebijakan kesehatan di bawah administrasi pemerintahan yang baru, yang mulai memicu kekhawatiran mengenai stabilitas persetujuan medis di masa depan.
Baca Juga: Eks Eksekutif Dell Jadi CFO Thomson Reuters, Soroti Strategi di Era AI
Melansir laporan dari Reuters, Albert Bourla mengungkapkan keresahannya saat berbicara dalam konferensi kesehatan TD Cowen pada Senin, 2 Maret 2026.
Bourla menyoroti kinerja Direktur Center for Biologics Evaluation and Research (CBER) FDA, Vinay Prasad, yang dinilai sering kali mengabaikan rekomendasi dari staf ilmuwan karier di lembaga tersebut.
Situasi ini dinilai menciptakan iklim ketidakpastian bagi perusahaan farmasi yang sedang mengembangkan inovasi medis mutakhir.
Detail Kritik Pfizer Terhadap Kepemimpinan FDA
Pernyataan Bourla muncul sebagai respons atas pertanyaan mengenai komunikasi terbaru antara Pfizer dengan pihak regulator.
Menurut Bourla, masalah utama terletak pada kepemimpinan di tingkat direktorat yang dianggap tidak selaras dengan basis data ilmiah yang disusun oleh para pakar internal FDA sendiri.
"Saya pikir direktur saat ini tidak mengikuti rekomendasi dari stafnya, dan itu adalah sebuah masalah," ujar Bourla mengutip berita yang dirilis Reuters.
Berikut adalah poin-poin utama yang memicu ketegangan tersebut:
- Inkonsistensi Keputusan: FDA baru-baru ini sempat menolak untuk meninjau vaksin flu berbasis mRNA milik Moderna (MRNA.O), namun secara mendadak membatalkan keputusan tersebut hanya dalam waktu satu minggu setelah perusahaan melakukan amandemen aplikasi.
- Discord Internal: Perubahan arah kebijakan yang cepat dan drastis telah meresahkan staf karier di FDA, yang berdampak pada menurunnya tingkat vaksinasi di masyarakat dan munculnya keraguan terhadap proses persetujuan vaksin.
- Profil Kepemimpinan: Vinay Prasad, yang ditunjuk oleh Komisaris Marty Makary tahun lalu, dikenal sebagai sosok onkolog yang vokal mengkritik kebijakan masker dan vaksin COVID-19 di masa lalu. Baik Makary maupun Prasad memiliki pandangan kritis terhadap kebijakan vaksinasi yang dijalankan pemerintah sebelumnya.
Meskipun melontarkan kritik keras terhadap jajaran pimpinan, Bourla menegaskan bahwa Pfizer tetap menjalin kolaborasi profesional yang sangat produktif dengan para ilmuwan karier di departemen vaksin.
Ia juga memastikan bahwa Pfizer tidak akan mundur dan akan terus melanjutkan investasi di sektor pengembangan vaksin global.
Tonton: Eropa Turun Tangan! 3 Negara Besar Siap Bela Teluk dari Iran
Perubahan Kebijakan Vaksin di Bawah Administrasi Baru
Transisi kepemimpinan di FDA saat ini membawa paradigma baru yang lebih restriktif terhadap produk vaksin.
Di bawah arahan Makary dan Prasad, FDA mulai mempersempit ruang persetujuan untuk vaksin COVID-19.
Selain itu, lembaga ini tengah melakukan tinjauan mendalam terhadap sejumlah kasus kematian yang diduga memiliki keterkaitan dengan pemberian dosis vaksin.
Gejolak internal ini sebenarnya bukan hal baru bagi Prasad. Ia sempat meninggalkan badan tersebut tahun lalu setelah menerima kritik tajam terkait penanganan terapi gen milik Sarepta Therapeutics (SRPT.O) untuk penyakit Duchenne Muscular Dystrophy, yang diduga memicu kematian dua remaja laki-laki.
Kembalinya Prasad ke posisi strategis sebagai direktur CBER kini menjadi perhatian besar bagi pelaku pasar modal dan industri kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













