Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Saham Air Canada (AC.TO) menjadi sorotan pasar global setelah maskapai terbesar di Kanada tersebut mengumumkan rencana pengunduran diri Chief Executive Officer (CEO) Michael Rousseau.
Keputusan ini menyusul gelombang kritik tajam dari publik dan Pemerintah Kanada terkait kegagalan komunikasi sang CEO dalam menanggapi insiden kecelakaan fatal yang melibatkan armada perusahaan baru-baru ini.
Langkah pengunduran diri ini dijadwalkan selesai pada akhir kuartal ketiga atau sekitar Oktober 2026.
Baca Juga: Kursi CEO MPS: Calon Pilihan Dewan Diragukan Bank Sentral Eropa?
Mundurnya Rousseau menandai berakhirnya masa jabatan yang penuh dinamika, di mana keberhasilan teknis dalam pemulihan pascapandemi harus berbenturan dengan sensitivitas budaya dan regulasi bahasa yang ketat di Kanada.
Kronologi Skandal Bahasa dan Tekanan Politik
Pemicu utama percepatan masa pensiun Rousseau adalah respon perusahaan terhadap kecelakaan jet Air Canada Express yang bertabrakan dengan truk pemadam kebakaran di Bandara LaGuardia, New York. Insiden tragis tersebut merenggut nyawa dua orang pilot.
Kritik memuncak ketika Rousseau hanya merilis video pernyataan duka cita dalam bahasa Inggris.
Hal ini dinilai melanggar etika dan sensitivitas nasional Kanada yang menetapkan bahasa Inggris dan Prancis sebagai dua bahasa resmi negara.
Melansir pemberitaan Reuters, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menilai bahwa Rousseau telah menunjukkan kurangnya penilaian (lack of judgment).
Meskipun Rousseau telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, tekanan politik terus mengalir, terutama dari wilayah Quebec yang mayoritas penduduknya berbahasa Prancis.
Legislatur provinsi Quebec bahkan telah mengesahkan mosi tidak mengikat yang mendesak Rousseau untuk mundur.
Mereka menganggap kegagalan komunikasi tersebut sebagai bentuk kurangnya rasa hormat terhadap identitas budaya Quebec.
Isu bahasa memang selalu menjadi topik sensitif di Kanada, terutama menjelang pemilu legislatif Quebec yang dijadwalkan pada Oktober 2026.
Syarat Ketat Bagi Suksesor CEO
Pemerintah Kanada dan dewan direksi maskapai kini menetapkan standar baru yang lebih ketat bagi calon pengganti Rousseau.
PM Mark Carney menegaskan bahwa pemimpin organisasi sebesar Air Canada memiliki tanggung jawab luas yang melampaui sekadar kinerja teknis.
Berdasarkan data dari sumber perusahaan, berikut adalah poin-poin utama terkait transisi kepemimpinan di Air Canada:
- Kriteria Bilingual: Calon CEO baru wajib memiliki kemampuan bilingual (Inggris dan Prancis) secara sempurna.
- Kepatuhan Regulasi: Maskapai terikat oleh Official Languages Act yang menjamin hak publik untuk berkomunikasi dengan perusahaan dalam salah satu dari dua bahasa resmi tersebut.
- Batas Waktu: Proses pencarian suksesor akan dipercepat agar posisi tersebut terisi penuh sebelum akhir September 2026.
- Penilaian Kinerja: Kandidat akan dinilai berdasarkan rekam jejak operasional dan kemampuan diplomasi budaya.
Tonton: BREAKING: Pemerintah Tetap Impor 105 Ribu Mobil, Ini Alasannya!
Kinerja Finansial dan Rekam Jejak Michael Rousseau
Michael Rousseau menjabat sebagai CEO sejak Februari 2021. Di bawah kepemimpinannya, Air Canada berhasil melewati masa-masa sulit akibat pandemi COVID-19 dan melakukan restrukturisasi keuangan yang signifikan.
Namun, masa jabatannya tidak lepas dari tantangan internal, termasuk penanganan aksi mogok pramugari selama empat hari pada tahun lalu.
Respons pasar terhadap berita pengunduran diri ini cukup fluktuatif. Harga saham Air Canada sempat merosot lebih dari 2% sebelum akhirnya pulih tipis dan ditutup melemah sekitar 1.2%.
Para investor saat ini cenderung bersikap wait and see menunggu kepastian figur baru yang mampu menyeimbangkan aspek operasional dan stabilitas politik.
Sebagai informasi, Air Canada berkantor pusat di Montreal, Quebec. Hal ini secara otomatis menempatkan perusahaan di episentrum perdebatan identitas bahasa.
Rousseau sendiri sebenarnya pernah tersandung masalah serupa pada tahun 2021 setelah memberikan pidato yang hampir sepenuhnya berbahasa Inggris di Montreal, yang memicu teguran dari Perdana Menteri saat itu, Justin Trudeau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













