kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.890   8,00   0,05%
  • IDX 9.045   12,83   0,14%
  • KOMPAS100 1.251   2,88   0,23%
  • LQ45 887   4,54   0,51%
  • ISSI 329   -0,63   -0,19%
  • IDX30 451   2,39   0,53%
  • IDXHIDIV20 533   4,11   0,78%
  • IDX80 139   0,31   0,23%
  • IDXV30 147   0,25   0,17%
  • IDXQ30 145   1,09   0,75%
SOSOK /

Alexandr Wang Tertekan: Inovasi AI Meta Terancam Kontrol Zuckerberg?


Kamis, 15 Januari 2026 / 08:03 WIB
Alexandr Wang Tertekan: Inovasi AI Meta Terancam Kontrol Zuckerberg?
ILUSTRASI. Alexandr Wang Tertekan: Inovasi AI Meta Terancam Kontrol Zuckerberg? (REUTERS/Dado Ruvic)

Sumber: Times of India | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Raksasa teknologi Meta Platforms Inc. tengah menghadapi dinamika internal yang cukup pelik. Laporan terbaru mengenai struktur pelaporan perusahaan mengungkap adanya gesekan antara CEO Meta, Mark Zuckerberg, dengan karyawan bergaji tertingginya, Alexandr Wang.

Ketegangan ini muncul di tengah ambisi besar Meta memenangkan perlombaan kecerdasan buatan (AI) yang bernilai miliaran dolar.

Alexandr Wang, yang berusia 28 tahun yang direkrut Zuckerberg melalui akuisisi senilai US$14 miliar atau setara Rp235,9 triliun (kurs Rp16.857), dikabarkan merasa tertekan dengan gaya manajemen Zuckerberg.

Baca Juga: Mengejutkan! Balerina MIT Ini Sukses Ciptakan Valuasi Bisnis Rp 185 Triliun

Dilansir dari Times of India, Wang merasa keterlibatan langsung sang CEO dalam operasional harian timnya mulai membatasi ruang gerak inovasi.

Di sisi lain, sejumlah staf internal mulai mempertanyakan kemampuan Wang dalam memimpin taruhan AI Meta yang diproyeksikan mencapai nilai US$600 miliar atau sekitar Rp10.114,2 triliun.

Keraguan ini muncul seiring dengan besarnya tanggung jawab yang dipikul Wang dalam mengejar ketertinggalan dari kompetitor utama seperti OpenAI dan Google.

Benturan Strategi dan Budaya Kerja

Ketegangan ini dilaporkan memuncak dalam sebuah pertemuan krusial musim gugur tahun lalu. Tim TBD Lab yang dipimpin Wang terlibat perselisihan strategi dengan dua eksekutif senior Meta, Chris Cox dan Andrew Bosworth. Fokus utama perdebatan adalah mengenai prioritas pelatihan model AI terbaru Meta.

Cox dan Bosworth menginginkan model AI milik Wang dilatih menggunakan data dari Instagram dan Facebook guna memperkuat bisnis periklanan inti perusahaan.

Namun, Wang menolak keras usulan tersebut. Ia berpendapat bahwa fokus utama saat ini haruslah mengejar kapabilitas model milik OpenAI dan Google. Wang khawatir penyesuaian untuk tugas produk tertentu justru akan memperlambat kemajuan teknologi dasarnya.

Situasi ini menciptakan dikotomi "kami vs mereka" di internal perusahaan. Peneliti di bawah Wang cenderung memandang tim lama Meta hanya sebagai manajer produk yang terjebak di era media sosial. Kelompok ini lebih tertarik mengejar superintelligence, sementara divisi lain tetap fokus pada optimasi feed dan iklan.

Hengkangnya Ilmuwan Senior dan Isu Anggaran

Dinamika internal semakin memanas setelah ilmuwan AI dan pemenang Turing Award, Yann LeCun, memutuskan untuk mengundurkan diri pada November lalu. 

LeCun enggan melapor langsung kepada Wang, yang latar belakang profesionalnya dinilai lebih banyak berfokus pada pelabelan data dibandingkan riset AI tingkat lanjut.

Selain masalah personel, beredar rumor mengenai pergeseran anggaran besar-besaran di dalam Meta. Beberapa staf mempertanyakan kemungkinan adanya pengalihan dana sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp33,714 triliun dari anggaran Reality Labs milik Bosworth ke tim Wang.

Meski juru bicara Meta telah membantah angka tersebut, spekulasi mengenai prioritas pendanaan terus berlanjut di kalangan karyawan.

Tonton: Yayasan Milik Bill Gates Tunjuk Sri Mulyani Jadi Dewan Pengurus

Restrukturisasi Meta Compute

Menanggapi berbagai kendala tersebut, Zuckerberg baru-baru ini mengumumkan pembentukan Meta Compute, sebuah inisiatif tingkat atas yang melapor langsung kepadanya.

Langkah ini mencakup penempatan beberapa nama kunci dalam struktur komando baru:

  • Santosh Janardhan dan Daniel Gross: Bertanggung jawab memimpin infrastruktur teknis.
  • Dina Powell McCormick: Menangani hubungan dengan pemerintah.
  • Sentralisasi Keputusan: Kebijakan infrastruktur kini ditarik ke level atas, tepat di atas posisi Wang.

Langkah restrukturisasi ini memberikan sinyal bahwa Zuckerberg menginginkan kontrol yang lebih ketat atas penggunaan sumber daya perusahaan yang sangat besar.

Dengan Meta yang terus menggelontorkan dana miliaran dolar, otonomi yang sebelumnya dimiliki oleh Wang tampak mulai dikurangi.

Bagi para investor, perubahan struktur ini menunjukkan bahwa Zuckerberg tidak lagi sepenuhnya mendelegasikan visi AI perusahaan kepada satu individu muda.

Fokus perusahaan kini bergeser pada integrasi infrastruktur yang lebih solid guna memastikan investasi besar di bidang AI dapat memberikan hasil yang konkret bagi masa depan Meta.

Selanjutnya: Lagi, Intervensi BI Selamatkan Rupiah dari Rp 17.000, Hari Ini Melemah Atau Menguat?

Menarik Dibaca: Masih Lanjut Melonjak, Simak Harga Emas Galeri 24 & UBS di Pegadaian Hari Ini (15/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

×